Dandim 0201/BS: Kami Pasti Akan Menjaga Ideologi Pancasila dari Bahaya Laten

  • Whatsapp
Silaturahmi Komandan Kodim 0201/BS Letkol Inf Agus Setiandar, S.IP Selasa (7/7/2020) ke Markas MUI Kota Medan diterima Ketua Umum MUI Kota Medan Prof. Dr. H. Mohd Hatta dan pengurus. Foto: Humas MUI Medan

Medan-MUI dalam beberapa hal, tidak langsung ‘terjun’ ketika berbicara tentang politik. Kalau pun ada beberapa pengurus MUI yang mendukung salah satu kontestan, maka itu tidak dalam ranah institusi MUI, tetapi ranah secara pribadi. Namun di saat Pancasila hendak coba ‘diotak-atik’, maka MUI langsung bergeliat. Tidak hanya MUI Pusat yang meminta DPR mencabut RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) tetapi keseluruhan MUI mulai dari tingkat pusat sampai kecamatan menolak dan meminta agar DPR RI mencabut RUU HIP ini dari program legislasi nasional (Proglenas).

“Kenapa MUI bersuara dan melakukan hal ini, sementara selama ini hal-hal yang sifatnya politik agak jarang MUI bersuara. Hal ini karena MUI merasa terlibat dalam memunculkan Pancasila dengan 5 silanya tersebut. Ada jasa para ulama pada saat Pancasila dijadikan dasar negara ini. Lima sila yang ada dalam Pancasila itu sudah final. Jadi kalau ada yang ingin mengutak-ngatik sila yang ada tersebut, ini berarti mencoba menghianati kesepakatan para fauding fathers termasuk para ulama tersebut,”ujar Ketua Umum Prof. Dr. H. Mohd Hatta ketika menerima kunjungan Komandan Kodim 0201/BS Letkol Inf Agus Setiandar S,IP, Selasa (7/7/2020) di Markaz MUI Medan Jalan Nusantara/Amaliun Medan.

Baca Juga:

Payung Umat Islam

Sebelumnya Prof. Hatta menjelaskan akan keberadaan MUI Kota Medan yang merupakan payung umat Islam. “Di sini ada orang Al-Washliyah, NU, Muhammadiyah, Al-Ittihadiyah para pakar-pakar Islam dengan disiplin ilmunya masing-masing berkumpul, bersatu dan berusaha menjadi ‘pelayanan’ umat. Saat mereka sudah mengatasnamakan MUI, maka tidak ada lagi lambang-lambang dari mana mereka berasal, mereka bersatu dalam bendera MUI.”

Diakuinya, Medan merupakan kota yang sangat majemuk, dengan berbagai macam agama, suku dan karakter, namun alhamdulillah, berkat rasa saling memiliki, Kota Medan termasuk salah satu kota yang cukup kondusif. “Kalau satu dua ada kajadian atau konflik, itu biasa. Namun secara keseluruhan Kota Medan sangat kondusif. Apalagi selama ini peran MUI Kota Medan sangat dilibatkan dalam berbagai masalah yang terjadi.”

Sementara itu, Letkol  Inf Agus Setiandar S.IP yang baru beberapa hari memegang amanah sebagai Komandan Kodim  (Dandim) 0201/BS ini, menjelaskan bahwa dirinya bukanlah orang ‘luar’. “Saya lahir di Asahan, mulai dari SD sampai sekolah menengah atas saya di sini. Saat kuliah saya mengambil jurusan Pertanian namun entah kenapa ketika ada kawan-kawan yang mendaftar Akabri, saya iku juga, dan akhirnya saya lulus,”ujar.

Ia lalu menjelaskan beberapa daerah yang pernah ditugaskan mulai dari Surabaya sampai Lombok Timur. “Di Lombok Timur 98 persen masyarakatnya muslim, tetapi kadang juga ada perbedaan pendapat, karena warga muslim di sana pahamnya berbeda-beda ada yang Nahdatul Wathan, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan lain-lain bahkan ada juga yang Ahmadiyah,”ujarnya bernostalgia.

Walaupun munculnya masalah, namun semuanya itu bisa diatasi dengan baik, karena yang dikedepankan adalah pendekatan-pendekatan yang persuasif dan penuh kekeluargaan, ujarnya.

Agus juga menjelaskan kedatangan mereka ke MUI Kota Medan selain bersilaturrahim juga diharapkan adanya kerjasama yang baik demi kondusifitasnya Kota Medan.

Ia memastikan seluruh jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) akan tetap setia menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan mempertahankan ideologi negara Pancasila. Termasuk konsisten terkait dengan kehadiran komunis sehingga tidak muncul di permukaan yang dapat membahayakan bangsa Indonesia, agar sejarah kelam tidak terulang kembali.

Selain Dandim juga hadir Danramil Medan Kota , Camat Medan Kota T. Chairun Niza dan Lurah Kelurahan Kota Maksum III Minorli.

Beberapa Masukan Pengurus MUI Medan

Pada kesempatan tersebut beberapa pengurus MUI Kota Medan memberikan beberapa masukan di antaranya datang dari Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan Dr. H. Hasan Maksum M.Ag. Ia mengatakan, belakangan ini muncul ide yang datang dari mantan Wakil Presiden Tri Sutrisno agar RUU HIP diganti dengan PIP (Pembinaan Ideologi Pancasila). “Kalau usulan ini hanya mengganti nama saja, sama dengan hanya mengganti cashing-nya saja. Sementara substansi sama dengan HIP. Ini kita yang tidak mau. Tetapi kalau usulannya seperti memunculkan kembali mata pelajaran PMP, kemudian ada penataran P4 yang dulu pernah ada, mungkin bisa kita sesuaikan. Tetapi kalau tidak, tentu ini juga harus ditentang,”ujar Hasan.

Ketua Komisi Dakwah MUI Kota Medan H. Zulfikar Hajar Lc menjelaskan bahwa hubungan baik yang selama ini terjalin antara pihak MUI Kota Medan dan Kodim 0201/BS agar tetap dijaga sehingga terjalin hubungan yang harmonis.

Sementara itu, Ketua Komisi Ukhuwah dan Kerukunan Umat Beragama Drs. H. Burhanuddin Damanik MA menjelaskan bahwa selama ini setiap Iduladha, pihak MUI Medan mendapat qurban yang berasal dari pejabat daerah di antaranya berasal dari Dandim 0201/BS. “Bila bapak punya niat untuk berqurban tidak ada salahnya menitipkan qurban Bapak ke MUI Medan, agar MUI nanti akan memotong dan membagi-bagikannya ke mereka yang terdampak Covid-19,”ujar Burhan yang langsung disetujui Dandim.

SERAHKAN: Ketua Umum MUI Medan Prof. Dr. H. Mohd Hatta menyerahkan Alquran Miracle kepada Dandim 0201/BS Letkol Inf Agus Setiandar. Foto: Humas MUI Medan

Karakter Masyarakat Kota Medan

Sedangkan Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Kota Medan Dr. H. Ali Murthado, M.Hum memberi masukan. “Masyarakat Kota Medan ini, walaupun melakukan demo, tetapi jika pejabat atau yang mewakilinya mau hadir dihadapan mereka, maka segalanya bisa tuntas, kecuali jika pejabatnya tidak hadir, sehingga membuat masyarakat dilecehkan. Hal ini bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.”

Menurutnya, masyarakat Medan khususnya dan Sumut umumnya, adalah berkarakter keras, namun pada dasarnya hatinya lembut. Nah, bila terjadi masalah di lapangan apalagi saat demo, diharapkan petugas dalam hal ini kepolisian yang dibantu pihak tentara, jangan menggunakan cara-cara yang keras, tetapi gunakan cara-cara yang simpati, agar para pendemo bisa luluh hatinya.

Ia menambahkan, kasus-kasus besar yang terjadi secara nasional, biasanya diawali dari Medan atau Sumatera Utara. Medan atau Sumatera Utara adalah pemantik. Jika rusuh maka bisa menasional. Tetapi jika aman dan damai, maka ini juga menjadi contoh bagi daerah lainnya. “Baru-baru ini ada demo menolak RUU HIP, alhamdulillah, berlangsung dengan damai, karena pihak pendemo diterima oleh anggota dewan, dan pihak kepolisian maupun aparat juga mampu mengarahkan massa dengan baik.”

Jadi kami berharap, jika ada demo, apalagi demo yang berkaitan dengan penolakan dan pencabutan RUU HIP jangan dianggap ini demo berkaitan dengan politik apalagi dikategorikan makar, tetapi demo karena cintanya dengan Pancasila, ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof Hatta menyerahkan Alquran kepada Dandim. Sekaligus mendoakan agar Dandim tetap istiqomah menjalankan tugasnya di Kota Medan. (*)

Pos terkait