Peran Teknologi Finansial Syariah dalam Pemulihan Ekonomi

  • Whatsapp

Oleh: Iin Prasetyo

Aktivitas ekonomi dan keuangan syariah harus senantiasa berinovasi dan familiar dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Terlebih, di masa pandemi ini mengharuskan masyarakat lebih selektif dalam menjalani aktivitasnya terutama mengurangi transaksi secara langsung atau tunai. Badan Kesehatan Dunia (WHO) saja menyatakan, transaksi tunai menjadi salah satu jalan menyebarnya Covid-19.

Bank Indonesia (BI) pun mengeluarkan imbauannya untuk memanfaatkan transaksi nontunai demi mengurangi risiko infeksi Covid-19. Saat pandemi mengakibatkan terbatasnya mobilitas masyarakat, lalu upaya menjaga jarak dan interaksi sosial sebagai upaya meminimalisir sebaran virus, tentu teknologi finansial (tekfin) sudah menjadi kebutuhan yang urgen. Di saat yang bersamaan itu pula tekfin syariah sebagai solusi tepat harus tampil prima di tengah-tengah kesulitan masyarakat saat ini.

Kehadiran LinkAja Syariah sebagai pelopor tekfin pembayaran berbasis syariah bukan hanya berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, akan tetapi dapat menambah pemahaman atau literasi ekonomi dan keuangan syariah kepada masyarakat yang masih terbilang rendah (data BI: indeks literasi ekonomi syariah di Indonesia masih 16,3%). Dengan begitu pula peluang untuk menarik minat yang dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat diharapkan produk-produk ekonomi syariah dapat meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional — apalagi keadaan ekonomi nasional sedang tidak baik-baik saja dan setelah Amerika Serikat dan beberapa negara tengah mengalami resesi ekonomi akibat pandemi ini.

Layanan Syariah LinkAja sejak diluncurkan pada 14 April 2020 telah digunakan sebanyak lebih dari 145.000 pengguna dari 21 distrik dengan banyaknya ekosistem syariah di Indonesia seperti institusi pendidikan dan pesantren, merchant halal daring atau luring, keuangan syariah, dan layanan zakat dan wakaf. Ini artinya sistem yang ditawarkan oleh tekfin syariah sangat kuat karena menjaga nilai-nilai luhur maqashid syariah, dan ini bukan hanya dari LinkAja melainkan tekfin syariah lainnnya termasuk produk dari bank syariah.

Secara umum, perusahaan-perusahaan penyedia tekfin terutama yang berbasis syariah berpotensi tinggi dalam membantu memulihkan kesulitan ekonomi nasional yang berimbas dari pandemi dan resesi negara-negara penting bagi Indonesia. Yang membuat tingginya potensi tekfin syariah terhadap program pemulihan ekonomi adalah karakter tekfin syariah memiliki basis akad yang fleksibel — berbeda dengan tekfin konvensional yang monoton dengan sistem bunganya. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) tentu sudah memastikan setiap akad transaksi layanan keuangan syariah termasuk platform tekfin syariah telah memenuhi kaidah atau prinsip syariah, seperti fatwa nomor 116/2017 tentang uang elektronik dan nomor 117/2018 tentang layanan pembiayaan berbasis TI (peer to peer lending).

Dalam perspektif kemajuan teknologi khususnya tekfin syariah, borrower (peminjam dana) telah menyatakan setuju untuk melakukan transaksi peminjaman dana yang diinginkan. Kemudian, persetujuan itu bisa dilakukan dengan menekan ikon tanda setuju untuk melakukan peminjaman dana kepada tekkfin syariah. Hal ini telah memenuhi esensi akad ijab kabul sebagai syarat dalam melakukan transaksi walaupun tidak secara langsung atau tatap muka.

Di era new normal (kenormalan baru) ini tentu timbul kebiasaan baru bagi masyarakat, baik dalam menjaga kesehatan atau imunitas tubuh, peralihan profesi, cara bersosialisasi, sampai pada kebutuhan transaksi. Sebelum pandemi, transaksi nontunai belum menjadi prioritas masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonominya. Namun, ketika pandemi menjadi kenormalan baru, transaksi nontunai tampak sebagai keharusan sebagai salah satu upaya antisipasi penyebaran Covid-19.

Pemerintah sebagai monitoring dalam jalannya regulasi hukum tekfin syariah melalui Komite Nasional Keuangan Syariah, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, dan lembaga turunannya bahkan langsung dari Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin bisa saja memperluas perannya dengan tidak hanya memberi kepastian hukum. Pemerintah dalam program pemulihan ekonomi alangkah lebih baiknya juga menggandeng tekfin syariah sebagai mitra untuk penyaluran dana bantuan. Teknologi tentu bisa menjamah masyarakat secara luas daripada dana tersebut dititipkan kepada perbankan secara manual.

Selain dana bantuan pemerintah perusahaan tekfin syariah bersama pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi bisa juga lebih memperluas perannya sebagai wadah intermediasi antara masyarakat yang membutuhkan pembiayaan sebagai borrower dengan masyarakat yang masih punya kemampuan finansial sebagai lender. Ketika pemerintah ingin mempercepat pemulihan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan sektor-sektor lainnya yang terdampak Covid-19, tekfin syariah bisa saja berperan sebagai penyalur pembiayaan. Nah, akad yang dibutuhkan masyarakat (borrower) dalam hal ini adalah qordhul hasan (pinjaman kebajikan), besaran dana yang dipinjam sama dengan dana yang akan dikembalikan nantinya. Qordhul hasan adalah solusi yang tepat bagi pelaku UMKM dan sektor-sektor usaha kecil agar tidak terlilit utang yang makin memberatkan. Dan, lender dalam hal ini, dananya bisa bersumber dari dana sosial dari masyarakat yang mampu, bisa juga dari dana bergulir yang telah diprogramkan oleh pemerintah, dan alokasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang semuanya bisa dikombinasikan.

Di saat pandemi yang berakibat pada berbagai kesulitan termasuk keterbatasan gerak masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonominya, di saat itu pula secara cepat dunia mengarah pada basis digital termasuk perbankan digital dalam bentuk uang elektronik, e-banking, maupun internet banking. PT Visa Worldwide Indonesia telah memublikasikan surveinya bahwa 62% masyarakat Indonesia telah membentuk kebiasaan nontunai dan 78% memilih setuju untuk lebih proaktif dalam perencanaan keuangan. Ini artinya, teknologi transaksi tengah menjadi pilihan sebagian besar masyarakat dan kemudian perusahaan penyedia tekfin pun juga berlomba-lomba mendapatkan kepercayaan masyarakat, di sinilah urgensinya bagaimana tekfin syariah harus menjadi pilihan yang baik dan berkah bagi semua pihak.

Penulis adalah mahasiswa Prodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara. Saat ini tengah menjalani KKN DR 2020 Kelompok 6 dengan Dosen Pembimbing Lapangan Nurliana Damanik, MA.