PPMDH TPI Adakan Workshop Jurnalistik Santri

  • Whatsapp
Nara sumber Workshop Jurnalistik Santri Dr. H. Ali Murthado, M.Hum dipandu Ahmad Rifai Sinaga sedang memberikan materi pelatihan. Foto: Istimewa

Medan“Siapa yang tak kenal Habiburrahman El Shirazy, Andre Hirata, Tere Liye, dan Asma Nadia banyak bukunya yang sudah terbit, bahkan dari beberapa buku mereka, sudah ada yang dijadikan film ke dalam layar lebar.”

Hal itu diungkapkan Dr. H. Ali Murthado, M.Hum saat Workhsop Jurnalistik Santri di  Pondok Pesantren Modren Darul Hikmah Taman Pendidikan Islam (PPMDH TPI) Jalan Pelajar Medan, Kamis (3/9/2020).

Ia mengatakan, awalnya mereka bukan siapa-siapa, tetapi sekarang mereka menjadi publik figur, gara-gara menulis. “Inilah salah satu keuntungan menulis, yaitu menjadi terkenal,”ujar Ali yang merupakan Pemimpin Redaksi harian online Rekatamedia.com.

Ali lalu mengutip pendapat Imam Ghazali, Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”.

Workshop yang dipandu oleh Ahmad Rifai Sinaga yang merupakan Penanggung Jawab Buletin Jenius yang merupakan buletin yang terbit di PPMDH TPI tersebut diikuti oleh santri dan santriwati.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN SU ini juga menjelaskan bahwa modal menjadi penulis tidaklah sulit, yaitu: niat, keberanian, ketekunan atau tidak patah semangat, punya wawasan dan pengetahuan, rajin bertanya, siap menerima kritikan dan suka membaca. “Inilah modal untuk menjadi penulis,”ujarnya.

Penyerahan cinderamata dari Agung Prayogi (Bagian Menfo OSPIDAH) kepada nara sumber. Foto: Istimewa

Menulis Bukan Bakat

Ali mengatakan, jika ada yang mengatakan bahwa menulis adalah bakat, tidak 100 persen hal ini dibenarkan, karena dulunya dia  awalnya tidak berbakat menjadi penulis, namun karena terus berlatih dan punya kemauan akhirnya bisa menulis.

“Yang penting adalah, kemauan. Tapi kalau tidak ada kemauan maka tentu kita tidak akan menjadi siapa-siapa,” ujarnya.

Beberapa santri dan santriwati sempat bertanya, mulai dari apa motivasi awal Dr. Ali menulis, lalu apakah perbedaan antara tulisan dalam bentuk berita dan tulisan dalam bentuk fiktif.

Para santri peserta worshop berfoto bersama dengan nara sumber. Foto: Istimewa

Menjawab pertanyaan tersebut, Ali mengatakan dulu dirinya menulis karena mencoba membagi pengalaman yang didapatkan. “Kebetulan saya seorang Pramuka. Saya sering berkemah ke beberapa tempat. Nah pengalaman saya berkemah itulah awalnya yang coba saya bagi kepada orang lain. Cara membaginya dengan menulis. Alhamdulillah, kebetulan tulisan-tulisan Pramuka saya dulu terbit di harian Waspada dan Analisa. Jadi motivasi awal saya dulu untuk berbagi. Namun rupanya ada sisi keuntungan lewat menulis, karena rupanya setiap tulisan yang terbit di surat kabar maka ia akan mendapat honor. Jadi motivasi saya bertambah-tambah. Mulai dari ‘berbagi’, honor dan akhirnya terkenal,”ujar Ali yang menceritakan pengalamannya.

Karena itu, menulislah. Bagilah pengalaman kita kepada orang lain. Berilah informasi yang mencerahkan kepada orang lain. Ini artinya kita juga sudah melakukan dakwah di tengah-tengah masyarakat, ujarnya.

Para santriwati peserta workshop berfoto bersama dengan nara sumber. Foto: Istimewa

Menantang Santri untuk Menulis

Pada kesempatan tersebut, Ali menantang para santri untuk menulis cerpen dengan tema pesantren. Tulis pengalaman Anda di pesantren ini, mulai dari awal pertama menginjak pesantren ini, atau ada pengalaman-pengalaman unik yang bisa dibagi.

“Insha Allah, 20 cerpen terbaik, nanti akan saya jadikan buku, sehingga bisa dibaca orang. Dan nama adik-adik akan ada di buku tersebut,”ujarnya memotivasi para santri.

Ali yang sudah menuliskan 17 buku ini, diakhir workshop memberikan hadiah kepada para penanya sebuah buku Proses Kreatif Menulis yang merupakan buku kumpulan tulisan dari penulis-penulis yang tergabung dalam Lembaga Baca Tulis (eLBeTe) Sumut.

Kegiatan Workshop tersebut juga dihadiri Ustadzah Umroh Kepala MTs PPMDH TPI berlangsung cukup interaktif, karena keingintahuan santri mengenai proses menulis. (*)