Prof. Dr. H. Mohd Hatta: Kejadian yang Menimpa Syekh Ali Jabber Harus Diwaspadai Bersama

  • Whatsapp

Medan-Kejadian yang menimpa Syekh Ali Jabber merupakan hal yang harus kita waspadai bersama, bahwa ada sebagian orang atau kelompok yang menginginkan umat Islam takut dalam menyebarkan dakwah. Dan hal ini merupakan tantangan, karena memang secara global umat Islam dihadapkan dengan berbagai tantangan-tantangan.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan Prof. Dr. H. Mohd Hatta ketika menerima audiensi Dewan Pengurus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Medan, Senin, (14/9/2020) di Kantor MUI Medan Jalan Nusantara/Amaliun Medan.

Baca Juga:

Tantangan tersebut bisa berupa tekanan, mau pun kondisi umat Islam itu sendiri. Karena itu diperlukan sinergi secara bersama-sama agar umat Islam bangkit dari keterpurukan ekonomi, politik dan sebagainya.

“PKS, sebagai partai dakwah diharapkan mampu menjadi penyeimbang di bidang politik. PKS diharapkan tetap istiqomah menyalurkan aspirasi umat Islam khususnya untuk melakukan perbaikan-perbaikan baik secara karakter maupun dalam pembangunan,”ujarnya.

Kehadiran PKS sebagai salah satu partai politik yang sampai saat ini tetap eksis bahkan dianggap sebagai reperesntatif dari partai politik Islam harus bisa meyakini umat bahwa sebenarnya, politik itu juga harus diraih. Jika umat alergi dengan politik maka umat akan ‘tergilas’ dengan kekuasaan yang lebih banyak memainkan peran politiknya.

“Bagi MUI Kota Medan, PKS merupakan partai yang selalu bersilaturrahim dengan kita. Jadi kita merasa bahwa apa yang kita sampaikan kepada partai ini, walaupun belum 100 persen terealisasi namun paling tidak aspirasi umat Islam sudah tersampaikan lewat partai yang sebagian besar kadernya sudah menjadi anggota dewan baik di kabupaten, kota, provinsi maupun nasional,”ujar Hatta.

MUI Medan menyadari bahwa tantangan-tantangan umat ke depan sangat kompleks. Di media-media sosial banyak konten-konten yang terkadang bersifat ‘menghantam’ ulama dan umat Islam. Karena itulah, kita selalu meyakinkan umat bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Kita harus mampu menjadi teladan, agar umat menyakini bahwa misi yang di bawa benar-benar misi rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, saya berharap agar PKS tetap dan terus menanamkan akidah dan ketauhidan yang benar kepada para kadernya, karena mereka inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin ke depan, ujar Hatta.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Ketua PKS Medan Salman Alfarisi Lc, MA menjelaskan tentang kehadiran mereka dengan rombongan pada dasarnya untuk tetap menjalin ukhuwah Islamiyah sekaligus meminta masukan dan tausyiah kepada para ulama di Kota Medan.

“Alhamdulillah, selama ini kita tetap berkordinasi dan meminta arahan dari MUI Medan dalam berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan masalah-masalah keumatan,”ujarnya.

Apa yang selama ini menjadi bahan masukan dan usulan dari MUI Medan, sudah diperjuangkan di parlemen, seperti masalah Perda Makan dan Minuman yang Halal, Perda Wajib MDTA dan hal-hal yang lain. Namun diakuinya, karena saat ini PKS bukanlah partai pemenang Pemilu di Kota Medan, di mana mereka hanya menempatkan 7 perwakilannya sebagai anggota dewan dari 50 kursi yang tersedia, maka ‘suara’ mereka bukanlah suara mayoritas, karena itu diperlukan strategi-strategi politik yang ada.

Ia juga menjelaskan, sebagai partai politik yang mengusung nilai-nilai Islam, PKS berusaha tampil untuk tetap menyuarakan suara umat. Dan kali ini PKS juga mencalonkan pasangan calon dalam Pilkada Kota Medan.

“Pencalonkan kami sebagai  calon wakil walikota Medan tentunya akan terealisasi kalau ada dukungan umat. Oleh karena itu kehadiran kami ke MUI bukan meminta dukungan, tetapi meminta masukan-masukan hal-hal yang mungkin bisa kita lakukan ke depan,”ujarnya.

Sementara itu, pengurus MUI Kota Medan H. Burhanuddin Damanik MA mengharapkan agar PKS tetap menjaga tali silaturahim dengan umat Islam khususnya dan umat-umat lain pada umumnya. Lakukan kampanye yang humanis dan mengedepankan sesuatu yang berguna.

Dr. H. Ali Murthado M.Hum dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa sejak negara ini berdiri memang partai politik Islam belum pernah satu kalipun memenangkan Pemilu. Namun bukan berarti kiprah para pemimpin partai politik Islam itu tidak ada. Beberapa tokoh partai politik Islam itu muncul dan namanya tetap harum. Ini artinya, walaupun partai politik Islam belum menjadi pemenang Pemilu tetapi mereka secara bersamaan mempersiapkan orang-orang yang duduk di eksekutif juga. Mereka tidak hanya menyiapkan kadernya di legeslatif saja.

Partai politik Islam ini kadernya seperti memakai baju yang putih, sedikit saja  bermasalah, maka akan rusaklah partainya, karena itu, ia berharap agar kader-kader partai politik Islam haruslah benar-benar yang istiqomah memperjuangkan nilai-nilai Islam tidak saja dalam tataran teori tetapi juga dalam tataran praktiknya langsung. “Para kader harus mampu menjadi teladan umat, karena mereka akan menjadi cermin dari partai itu sendiri.”

MUI Kota Medan dalam rapat koordinasi dengan MUI se Kecamatan Kota Medan, sudah memutuskan bahwa secara lembaga tidak akan memberi dukungan terhadap para calon kepala daerah. Namun bukan berarti secara person pengurus MUI Medan tidak mendukung salah satu calon yang ada. “Jadi secara institusi MUI tidak akan memberi dukungan, tetapi secara person silakan,”ujar Ali.

Bahkan, rencananya menurut Ketua Umum MUI Medan Prof. Hatta, kedua pasangan calon nantinya akan diundang secara bersama-sama untuk diberikan masukan hal-hal yang terkait dengan umat. “Jadi netrealitas MUI Medan dalam Pilkada ini benar-benar diperlihatkan,”ujarnya.

Pertemuan tersebut diakhiri dengan temu ramah dan foto bersama. (*)

 

Pos terkait