Merekam Jejak Kesenian Dihar Sitarlak, Upaya Merawat Kearifan Lokal yang Terelak

  • Whatsapp
Bupati Simalungun bersama rombongan disambut tor-tor dihar saat memasuki lokasi-acara

Oleh : Muhammad Hisyamsyah Dani, S.H

Siapa yang tidak mengenal kesenian beladiri ? Pencak Silat misalnya, salah satu kekayaan Indonesia yang sudah diakui dunia dan menjadi salah satu ajang yang diperlombakan dalam ajang olahraga nasional, regional Asia Tenggara, maupun Asia. Namun, kali ini saya tidak akan membahas tentang Pencak Silat. Namun, mari kita merekam jejak, kesenian beladiri khas suku Batak Simalungun, Dihar Sitarlak. Kesenian ini merupakan salah satu kearifan lokal yang memunculkan gerak beladiri, selain memelihara kearifan lokal, beladiri ini cukup sukses memberikan pengaruh positif bagi generasi muda khususnya menangkal upaya radikalisme lewat pendidikan karakter berbasis seni beladiri.

***

Tiba di gerbang Simanja (Simalungun Jaya) saya sudah disambut dengan semilir angin pegunungan yang khas. Kembali menjejak ke tanah Simalungun, itu artinya saya pulang kampung. Sebagai putra asli kelahiran Simalungun, saya masih banyak tidak mengetahui seluk-beluk budaya Simalungun. Medio setahun silam, dalam agenda tahunan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) saya tertarik dengan sebuah penampilan yang ditampilkan oleh kesenian dari kota Pematang Siantar. Tim kesenian mereka menampilkan sebuah tradisi gerak yang sangat memukau, mirip dengan pencak silat, namun dibalut dengan nuansa lokal, sebagai pengunjung saya masih bertanya-tanya, kemudian pada akhirnya mendapat jawaban setelah pewara mengumumkan bahwa kesenian yang baru saja ditampilkan bernama Dihar Sitarlak. Pengalaman ini menjadi sebuah riset awal saya untuk memperdalam kesenian lokal ini. Saya merasa tertantang sekaligus kagum karena tanah Sumatera Utara ternyata memiliki kesenian beladiri yang cukup diperhitungkan.

Berbekal informasi lewat media sosial, saya mencoba menghubungi beberapa rekan yang mengetahui kesenian beladiri khas tanah Habonaron Do Bona ini, ditambah dengan riset sederhana dari beberapa literatur mengenai kesenian ini. Suara tonggeret dan kicauan burung bersahut-sahutan ketika memasuki sebuah jalan setapak menuju literatur hidup, seseorang yang akan dijadikan sebagai narasumber untuk melengkapi tulisan ini. Alam memang menyajikan keindahan yang tiada duanya, semakin menambah kekaguman kepada Sang Maha Kuasa.

Dihar (silat) atau mandihar (bersilat) merupakan seni bela diri yang berasal dari daerah Simalungun. Dihar memiliki sikap dasar gerakan yang tidak arogan atau tidak menunjukkan kesombongan dan juga menggambarkan bahwa masyarakat Simalungun mempunyai pertahanan diri yang kuat. Selain untuk pertahanan diri, mandihar biasanya dilakukan masyarakat Simalungun dalam suatu prosesi adat maupun kegiatan resmi untuk menyambut tamu-tamu kehormatan seperti Raja Simalungun.

Menurut narasumber, dihar terbagi atas beberapa, yaitu Dihar Horbou Sihalung, Dihar Sitarlak, Dihar Rimau Putih, Dihar Balang Sahua, Dihar Bona Uhur, Dihar Natar. Dari beberapa dihar tersebut, dihar sitarlak dijadikan narasi utama dalam pembahasan jejak kali ini. Dihar sitarlak ini biasanya dilakukan oleh dua orang atau kelompok namun tetap berpasangan. Dihar sitarlak dilakukan dalam acara adat Simalungun yang digunakan untuk menyambut tamu kehormatan yang ada di Simalungun. Alat musik yang digunakan pada dihar sitarlak yaitu gondrang sidua-dua, sarunei, gong atau ogung dan mongmongan. Gondrang yang sering digunakan untuk mengiringi dihar ini adalah haro-haro, parahot, dan gual porang. Adapun busana yang digunakan pada dihar ini ada tiga jenis yaitu 1)busana hitam yang terdiri dari baju berwarna hitam, celana hitam, ragi pane, suri-suri dan gotong, 2) busana merah yang terdiri dari baju berwarna merah, celana merah, ragi pane, suri-suri dan gotong, 3) polang-polang (busana berwarna campuran  hitam, merah, putih), ragi pane, suri-suri dan gotong.

Dihar memiliki sikap dasar gerakan yang tidak arogan  atau tidak menunjukkan kesombongan dan juga menggambarkan bahwa  masyarakat Simalungun mempunyai pertahanan diri yang kuat. Sikap dasar silat  ini menyampaikan sarat akan pesan-pesan religius dan petuah kehidupan masyarakat Simalungun. Pertama yakni biar mangidah naibata (pesan untuk takut akan Tuhan) kemudian, toruh maruhur (pesan untuk selalu rendah hati) terakhir,  pakkoromon diri (penguasaan diri)”, ujar Pak Sahat Damanik di tengah Sanggar Tortor elak-elak di Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun.

Selain untuk pertahanan diri, mandihar biasanya dilakukan masyarakat Simalungun dalam suatu prosesi adat maupun kegiatan resmi untuk menyambut  tamu-tamu kehormatan seperti Raja Simalungun. Sebahagian masyarakat  Simalungun menyebut dihar merupakan tortor dihar karena digunakan untuk  penyambutan, kadang juga ditampilkan sebagai pertunjukan oleh sebab itu, dihar  sering dikenal sebagai tari apalagi dihar ini diiringi musik jadi semakin jelas  bahwa dihar ini merupakan tari penyambutan.

Menurut narasumber dihar terbagi atas beberapa, yaitu: 1. Dihar Horbou Sihalung : gerakan silat yang terinspirasi dari gerakan kerbau. 2. Dihar Sitarlak: gerakan silat dengan ragam gerak angkat kaki, menerjang dan memukul. 3. Dihar Rimau Putih : gerakan silat yang terinspirasi dari gerakan harimau. 4. Dihar Balang Sahua : gerakan silat yang terinspirasi dari gerakan belalang. 5. Dihar Bona Uhur : gerakan silat dengan ragam gerak terbuka, telapak kaki menyerang lawan. 6. Dihar Natar : gerakan silat yang gerakan langkah kakinya harus kontak bumi.

Dihar sitarlak berasal dari daerah Simalungun yang merupakan salah satu seni bela diri masyarakat Simalungun. Menurut beberapa seniman dan tokoh adat Simalungun yang menjadi narasumber dalam penelitian menjelaskan sejarah dihar sitarlak. Dahulunya sitarlak dinamakan sitaraleak namun setelah tahun 1990-an sering disebut sitarlak. Dihar pada dulunya hanya dilakukan oleh dua sosok yang disebut raja Simalungun dan datu.

Dihar sitarlak memiliki bentuk gerak yang terdiri dari rangkaian gerak -gerak silat. Dihar ini diawali dan diakhiri dengan gerak sembah yang disebut dengan sombah yang menandakan bahwa masyarakat Simalungun selalu mengucap syukur kepada Tuhan, menghormati dan menghargai sesama. Bentuk gerak dihar sitarlak ada 7 bentuk yang merupakan motif utama diantaranya sombah,  buang tinju, marsimbur, mangindo (level atas), mangindo (level bawah), lakka sitolu-tolu dan sombah penutup. Bentuk gerak ini dapat dilakukan berulang kecuali sombah yang dapat dilakukan saat mengawali dan mengakhiri, lakka sitolu- tolu merupakan langkah pertahanan yang merupakan bunga-bunga dalam silat ini. Bentuk gerak buang tinju, marsimbur dan mangindo dapat dilakukan setelah sembah dan diselingi gerak bunga-bunga yaitu lakka sitolu-tolu (sering disebut gerak transisi). Durasi silat ini tidak ditentukan apabila digunakan untuk bertarung dan untuk penyambutan biasanya berkisar 2 sampai 3 menit.

Selain menjadi pertahanan diri, dihar juga digunakan sebagai ritual menyambut tamu terhormat dalam acara resmi yang ada di Simalungun. Sekarang sudah berkembang bahwa dihar ini sering ditampilkan dalam acara kesenian dan juga digunakan sebagai penyambutan acara-acara yang ada di Simalungun bahkan diacara perkawinan dihar ini juga ditampilkan.

Kembali pada upaya penanaman pentingnya peran menjaga kearifan lokal dengan mengedepanpan konsep pendidikan karakter khususnya bagi generasi muda. Kesenian Dihar Sitarlak sesungguhnya bukan hanya berperan sebagai kesenian yang menjaga trah kesenian lokal, namun menjadi tempat pengembangan embrio lahirnya sebuah komunitas anak-anak muda yang mau belajar kesenian lokal dan menangkal radikalisme.

Ada tiga institusi sosial yang sangat penting untuk memerankan diri dalam melindungi generasi muda. Pertama Pendidikan, melalui peran lembaga pendidikan, guru dan kurikulum dalam memperkuat wawasan kebangsaan, sikap moderat dan toleran pada generasi muda. Kedua, Keluarga, melalui peran orang tua dalam menanamkan cinta dan kasih sayang kepada generasi muda dan menjadikan keluarga sebagai unit konsultasi dan diskusi. Ketiga, komunitas: melalui peran tokoh masyarakat di lingkungan masyarakat dalam menciptakan ruang kondusif bagi terciptanya budaya perdamaian di kalangan generasi muda. Nuansa inilah yang sesungguhnya didapatkan dari kesenian ini lewat perguruan yang tak surut mengajarkan dan mengembangkan kesenian ini. Bukan hanya seni belaka, namun bagaimana memunculkan perdamaian yang menjadi penguat rasa, toleransi, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Tidak terasa, perbincangan dengan Pak Sahat sudah membuat sajian kopi arabika di gelas saya sudah hampir kandas, ditemani ubi serta pisang goreng sore itu banyak memuat gambaran dan penjelasan tentang kesenian penuh nilai kultural ini. Sayang, lambat laun gaungnya sudah mulai redup karena pewaris dan pelatih sudah mulai habis, mengandalkan generasi muda rasanya belum memiliki antusias yang sangat peduli dengan kekayaan budayanya.

Sebagai anak-anak muda Sumatera Utara mari kita gali dan pelajari kebudayaan daerah kita, melestarikan budaya adalah tanda kecintaan kita kepada nusa dan bangsa. Sebab, ketika kebudayaan sudah diklaim oleh bangsa lain, maka di sanalah letak hilangnya kebudayaan kita yang sesungguhnya sangat kaya ini.

*Penulis adalah Reporter magang Media Online Rekatamedia.com