Isy Maa Syi’ta Fainnakan Mayyit

  • Whatsapp

rekatamedia.com- Dari Sahl bin Sa’d berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jibril mendatangiku lalu berkata: “Ya Muhammad! Isy Maa Syi’ta Fainnakan Mayyit (Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati), Wahbib man syi’ta fainnaka mafaa rikuhu (cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya ) wa’mal maa syi’ta fainnaka mazjiyyun bihi (Dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.)

Kemudian dia berkata:” Wahai Muhammad! Kemulian seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath no 4278, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa, al-Hakim dalam al-Mustadrak 7921 Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/483)

Baca Juga:

Walaupun dalam hadis ini, seolah-olah pesan ini diperuntukkan kepada Nabi Muhamad Saw an sich, tetapi ketika Nabi menceritakannya kepada para sahabat-sahabatnya, maka pesan ini juga ditujukan kepada umatnya termasuk kita yang hidup sekarang ini.

Paling tidak ada tiga (3) pesan yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. “Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati”.

Nasihat Jibril Dimulai dengan Kematian

Jibril memulai nasihatnya dengan mengingatkan Rasulullah akan kematian. Kenapa hal ini diingatkan terlebih dahulu? Karena kematian adalah hal yang paling banyak ditakuti oleh manusia. Jangankan manusia yang ‘berdosa’, manusia yang sering salat, puasa, berzakat dan berbuat baik pun, kadang takut dengan kematian ini. Kenapa? Karena sesungguhnya kita semua tidak yakin apakah kebaikan kita yang selama ini kita lakukan diterima Allah atau tidak. Boleh jadi kebaikan yang kita lakukan ada unsur untuk menyombongkan diri atau ada unsur yang lain, sehingga kebaikan tersebut tidak diterima Allah. Seharusnya setiap kebaikan yang dilakukan hanya untuk Allah Swt.

Walaupun setiap orag takut akan kematian, dan hanya Allah dan malaikat mautnya yang tahu kapan kematian seseorang akan datang, yang jelas Kematian tidak dapat dimundurkan dan juga tidak dapat dimajukan. Allah Swt berfirman : “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (Qs. Al-A’raf : 34).

Maka pesan JIbril tersebut kepada Nabi Saw, mencoba mengingatkan kita juga, bahwa kita boleh, atau suka-suka kita hidup di dunia ini. Mau salat silakan, tak salat silakan, berbuat baik silakan, tak berbuat baik silakan. Kebebasab melakukan sesuatu diberikan sang ‘Penguasa’ kepada kita, kalaupun Allah memberikan perintah dan larangan, jika kita tinggalkan ‘tak masalah’ dan kalau dikerjakan juga tak bertambah kesucian Allah, karena semua yang kita lakukan pada dasarnya kembali kepada kita sendiri.

Namun, ingat! Kehidupan di dunia ini akan berakhir, akan selesai setelah datangnya kematian. Kematian bukan akhir dari kehidupan, tetapi dia merupakan dari awal sebuah kehidupan yang lain. Di sinilah manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan saat masih hidup di dunia.

Kematian merupakan batas akhir di mana amalan kita dicatat oleh malaikat. Catatan inilah yang nantinya akan dibawa ke hadapan Allah Swt. Bila lebih banyak catatan amalan yang baik, maka kebahagianlah yang kita dapat, sebaliknya jika lebih banyak amalan yang buruk maka kesengsaraanlah yang nanti akan diterima.

Jadi nasihat Jibril yang pertama, mengingatkan kita bahwa walaupun kita ‘bebas’ melakukan apa saa di dunia ini, tak ada masalah. Mau korupsi silakan, mau membunuh silakan, mau jadi orang kaya dengan harta yang tidak halal, silakan. Kalau itu mau kita. Mau jadi orang yang baik silakan, mau salat silakan, mau puasa silakan, mau berkurban silakan. Di dunia ini pertarungan antara niat berbuat baik dan buruk. Kadang niat yang baik dilakukan, sebaliknya tidak tertutup kemungkinan niat yang buruk juga dikerjakan. Tetapi semua itu akan berakhir setelah datangnya kematian. Dan saat kematian datang, yang tinggal adalah penyesalan.

Berbeda dengan orang mukmin. Kematian bagi seorang mukmin bukanlah suatu hal yang menakutkan, bahkan kedatangannya sudah ditunggu. Kenapa? Karena orang mukmin setiap harinya sudah siap, kapanpun dan dimanapun. Orang mukmin selalu dalam ketaatan kepada Allah, mereka adalah orang yang selalu meningkatkan nilai-nilai ketaqwaannya, dan banyak mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi yaitu akhirat.

Mukmin yang banyak mengingat kematian kemudian dia termotivasi untuk selalu melakukan kebaikan, dialah mukmin yang cerdas.

Lalu pesan Jibril kepada Nabi Muhammad Saw yang kedua adalah: cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Perasaan cinta bisa mengalahkan segalanya, lihatlah bagaiman seorang ibu karena cintanya kepada anak-anaknya maka segala hal ia lakukan.

Terkadang ia tidak memikirkan dirinya sendiri demi untuk membahagiakan anak-anaknya. Begitu juga dengan seorang ayah, ia harus ‘banting-tulang’ bekerja di luar rumah karena rasa cintanya kepada keluarga. Namun ada juga orang yang sibuk bekerja karena cintanya kepada harta, sehingga ia tidak lagi memilih mana yang halal dan haram. Rasa cinta kepada anak, isteri, suami, harta, jabatan dan dunia membuat setiap orang mati-matian untuk memperolehnya. Ya begitulah orang melihat apa yang ia cintai. Sebelum yang dicintainya itu didapatkan, maka ia akan melakukan segala sesuatu untuk mendapatkannya. Inilah godaan dunia.

Namun, malaikat Jibril mengingatkan, bahwa apa yang kita cintai itu pasti akan kita lepas. Kita akan berpisah dengannya. Anak, satu persatu akan meninggalkan kita. Mereka akan hidup bersama keluarganya. Ayah dan ibu, denga kesedihan akan melepaskan anaknya untuk berkeluarga. Harta sedikit demi sedikit akan habis, begitu juga dengan jabatan yang saat ini kita sibuk menggapainya. Semua itu akan berakhir. Karena kecintaan kita kepada makhluk-makhluk Allah ini tidak akan abadi. Bisa saja mereka hilang satu persatu meninggalkan kita, atau sebaliknya kita yang hilang dari mereka.

Cintai yang sejati hanyalah cinta hamba kepada Allah Swt. Ketika seorang hamba mencintai Allah, maka baginya kehilangan sesuatu tidaklah berarti. Tetapi ketika ia kehilangan Allah sungguh ia akan menyesali dirinya.

Rabiatul Adawiyah dan Konsep Mahababahnya

Ketika Rabiatul Adawiyah seoran wanita sufi yang sangat terkenal dengan konsep mahabbah (cinta)-nya dipinang oleh ulama besar dan juga tokoh sufi, Imam Al-Basri, Rabiah menolak. Bukan ia tidak suka kepada Imam Al-Basri, namun karena ia tidak ingin membagi cintanya, yaitu cintanya kepada Allah dan cintanya sebagai seorang isteri kepada suaminya. “Cukuplah bagiku Allah yang aku cintai. Aku tidak ingin cintaiku kepada Allah akan terbagi dengan cintaku sebagai seoran istri,”ujar Rabia.

Pesan Jibril yang ketiga adalah: “Berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.”  Apapun yang kita lakukan di dunia ini, apakah melakukan kebaikan atau pun melakukan kejahatan, maka pasti akan mendapat balasannya.

“Barangsiapa berbuat kebaikan sebesar zaroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan sebasar zaroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Az-Zalzalah, ayat 7 dan 8).

Di dalam ayat yang lain, In ahsantum ahsantum lianfusikum, wa in asa’tum falahaa… Potongan surat Al-Isra’ ayat 7 tersebut artinya, “Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat keburukan berarti keburukan itu bagi dirimu sendiri.”

Tiga pesan yang disampaikan Jibril -yang pada hakikatnya merupakan pesan dari Allah Swt – kepada Rasulullah dan Rasulullah menyampaikannya kepada para sahabat dan sahabat menyampaikannya kepada yang lain, sampai akhirnya kita mendapatkan pesan ini, merupakan suatu hal yang patut direnungkan. Fase kehidupan kita suatu saat pasti akan berubah, kita nanti tidak akan tinggal di dunia, tetapi akan menuju alam lain yaitu alam barzakh (alam kubur), dan pada akhirnya kita akan sampai kepada alam akhirat. Di sanalah dipertaruhkan di hadapan Allah tentang apa-apa yang kita lakukan di saat kita berada di dunia. Oleh karena itu, lakukan yang terbaik dan selalu diniatkan lillahi ta’ala agar balasan yang kita terima merupaka balasan yang terbaik untuk kehidupan kita selanjutnya.

Ingat! Isy Maa Syi’ta Fainnakan Mayyit

Pos terkait