Industri Film Holywood Tergerus Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Film Wonder Women 1984 (2020). (intenet)

INDUSTRI film holywood mengalami keterpurukan akibat pandemi Covid-19. Sepanjang tahun ini, sebagian besar film blockbuster, atau yang diproduksi dengan ongkos lebih dari Rp1,5 triliun, ditunda.

Film James Bond, No Time To Die, ditunda dua kali. Film laga Mulan yang diproduksi Disney akhirnya dirilis di layanan streaming film. Sementara itu, nasib film Top Gun: Maverick belum jelas.

Baca Juga:

Bahkan jadwal tayang film buatan Marvel, Black Widow, yang digadang-gadang akan menjadi pelengkap liburan musim panas, diundur tanpa batas waktu. Studio film itu menunggu segala sesuatu kembali ke kondisi normal.

Penundaan perilisan film beranggaran besar seperti No Time To Die berdampak besar pada keuangan banak perusahaan bioskop.

Menurut Finn Halligan, kepala kritikus film di majalah Screen International, walau para pahlawan di layar lebar saat ini `tidak bisa menyelamatkan dunia`, mereka masih bisa memberi kesempatan publik untuk menatap layar lebar.

“Kita seperti sedang menghadapi adu melotot,” kata Halligan tentang perselisihan antara studio film dan bioskop. “Seseorang harus berkedip.”

Tanda kecil pergerakan mata muncul saat baru-baru ini film Wonder Woman 1984 diberitakan akan dirilis secara bersamaan di jaringan bioskop AS dan secara online, pada hari Natal mendatang.

Film yang menampilkan aktris Gal Gadot sebagai pahlawan super di era tahun 1980-an ini menghabiskan anggaran sebesar US$200 juta atau sekitar Rp2,8 triliun.

Awalnya film ini dijadwalkan untuk pertama kali ditayangkan Juni lalu. Namun hingga kini agenda perilisannya telah ditunda dua kali.

“Studio tidak ingin mengorbankan film bernilai miliaran dolar selama pandemi,” kata Halligan. “Film-film semacam itu adalah komoditas yang terlalu berharga.”

Akan tetapi semakin lama bioskop tutup, pengambilan keputusan di berbagai studio film semakin rumit.

Menurut media daring The Hollywood Reporter, film No Time To Die membebani studio film MGM dengan bunga utang sebesar Rp14 miliar setiap bulan. Utang itu, yang awalnya dipinjam untuk membuat film tersebut, tidak dapat dikembalikan hingga agen 007 muncul di layar lebar.

Titik krisis

Tahun 2019, sembilan film menghasilkan keuntungan lebih dari US$1 miliar (Rp14 triliun) sehingga masuk kategori box office, antara lain The Lion King, Joker, Avengers: Endgame, dan Captain Marvel.

Pada musim panas tahun 2020, film berjudul Tenet yang disutradarai Christopher Nolan adalah satu-satunya film berbiaya superbesar yang dirilis di bioskop.

Dengan anggaran US$205 juta (Rp2,8 triliun), film ini meraup profit sekitar US$ 350 juta (Rp4,9 triliun).

“Keuntungan yang dicatatkan film Tenet membuat banyak studio film cemas, meski menurut saya keuntungan sebesar itu tidak terlalu buruk dalam situasi pandemi ini,” kata Halligan.

“Pihak studio masih berharap mereka bisa mendapatkan profit, tapi titik krisisnya bukan tentang film blockbuster pada masa depan, tapi eksistensi bioskop itu sendiri.

“Akankah penonton merasa aman untuk kembali menonton film terbaru Marvel di bioskop, atau mereka menunggu di platform Disney+? Dan berapa lama bioskop bisa bertahan dalam situasi ini?” ujar Halligan.

Bagaimanapun, aktivitas menonton film di bioskop tampaknya akan kembali bergulir di negara-negara di Asia. Film Wonder Woman 1984 akan dirilis di bioskop secara penuh di China, satu pekan sebelum film itu dirilis di AS.

Hingga saat ini, Hollywood berkeras menolak menjadikan Asia, Australia, dan Selandia Baru sebagai lokasi perilisan pertama film besar mereka. Alasannya, mereka khawatir film itu akan jadi korban pembajakan.

Padahal, saat ini banyak bioskop di kawasan ini telah kembali beroperasi.

Adapun, China berada di belakang film yang sejauh ini meraup keuntungan terbesar tahun 2020, yaitu film epik perang Hu Guan, The Eight Hundred, tentang sekelompok tentara China yang dikepung oleh tentara Jepang.

Film itu menghasilkan laba sebesar US$468 juta (Rp6,5 triliun).

“2020 adalah tahun saat China, bukan AS, menjadi pasar film terbesar di dunia. Penghasilan mereka melampaui US$ 1.9 triliun (Rp 26,7 triliun) tahun ini,” kata kritikus film Asia, Stevie Wong.

“Dan tanpa film Hollywood, film-film lokal memiliki peluang lebih besar di bioskop,” tambah Wong. Dia merujuk kesuksesan film drama China, My People, My Homeland serta film animasi Jepang, Demon Slayer: Kimetsu No Yaiba.

“Eight Hundred menghasilkan hampir setengah miliar dolar, meski itu tidak bisa dibandingkan dengan keuntungan bioskop di tahun 2019,” kata Wong.

“Tapi ada lebih banyak film blockbuster lokal yang muncul, seperti Shock Waves 2 yang menampilkan Andy Lau atau Caught in Timeyang diperankan Daniel Wu, yang akan kembali menarik perhatian penonton.” (*)

Pos terkait