Hagia Sophia Merindukan Al-Aqsha

  • Whatsapp
Hagia sophia di Turki. Gmbar: istimewa/internet

Oleh: Solahuddin Tanjung

Tindak tanduk bangsa Turki dari dahulu hingga sekarang sangat berpengaruh besar terhadap  peradaban dunia, khususnya peradaban dunia islam. bermula dari pengaruh mereka yang sangat besar dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah, hingga pendirian Dinasti Ottoman dan pada puncaknya adalah pembebasan Konstantinopel, bangsa Turki selalu menghiasa catatan besar dalam sejarah dunia. Betapa tidak mereka (bangsa Turki) adalah salah satu nubuat Nabi Muhammad SAW. Nubuat pembebasan Konstantinopel merupakan salah satu hadits yang cukup terkenal dikalangan umat muslim. Nubuat nabi merupakan motivasi, api pembakar semangat umat muslim untuk berjihad. Ummat muslim dari zaman Umayyah sampai zaman Ottoman Turki berlomba-lomba untuk meraih kemuliaan dari nubuat nabi tersebut.

Kini bangsa Turki kembali mencatatkan kisah dalam lembaran sejarah menjadi perbincangan dunia, menghiasi bibir masyarakat dunia yang belum kering dari corona, hubungan panas AS-China, laut China selatan serta kejadian besar lainya. Pro kontra terhadap keputusan Presiden Erdogan yang mengembalikan fungsi Hagia Sophia menjadi masjid ternyata mendatangkan kecaman dari negara-negara Barat, Amerika, PBB melalui UNESCO hingga kesedihan Paus Fransiskus. Mereka mengatakan keputusan tersebut merupakan suatu kemunduran dan provokasi terbuka.

Menjawab tuduhan serta kecaman dari dunia internasional, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Hagia Sophia merupakan hak milik negara Turki dan merupakan bagian dari kedaulatan bangsa. Erdogan juga menegaskan bahwa Hagia Sophia akan tetap terbuka bagi masyarakat umum, tidak ada pelarangan bagi non muslim atau bagi siapa saja untuk berkunjung dan menikmati bangunan megah bersejarah tersebut.

Namun ada hal lain yang sangat penting dan menarik dari pernyatan Presiden Erdogan tersebut, pernyatan ini telah tersebar luas di media sosial. yaitu “kebangkitan Ayasofya/Hagia Sophia adalah kabar dekatnya pembebasan Al-Aqsha”. pernyatan ini telah meninggalkan banyak tanya. Apakah Erdogan hendak membuat nubuat sendiri? Atau apakah Erdogan hendak memisahkan yang Haq dan Bathil? Atau seperti yang dituduhkan oleh beberapa kalangan hanya merupakan langkah politik? Atau tanda tanya yang paling jelas adalah apa kaitan Hagia Sophia dengan Al-Aqsha?

Tak ada yang berupah sedikitpun dari Hagi Sophia, ia masih tetap terbuka dan bisa dikunjungi oleh siapun, ia tak dirobohkan, ia tak dipindahkan, ia tak dijual, kita semua masih bisa berswafoto bahkan mungkin bermain Tiktok di Hagia Sophia. Yang menjadi inti dan sumber dari permasalahan ini adalah fungsi dari Hagia Sophia, antara “Mesjid atau Museum”. Sepenting itukah museum sehingga Hagia Sophia tak pantas jadi masjid? Atau adakah yang ditakutkan ketika ia menjadi masjid?

MasjidAl-Aqsha di Palestina

Mari kita bergeser melihat Al-Aqsha, penulis juga mengajak mereka yang mengecam perubahan Hagia Sophia menjadi mesjid. Lihatlah secara jelas darah yang mengalir disana, tangisan yang tumpah disana, pelecehan terjadi disana, penghinaan terjadi disana, kepiluan, kehormatan, kemunduran, kekecewaan, bahkan senyumpun telah sirna disana. Inikah yang Erdogan coba perlihatkan kepada dunia? mungkin inilah kejanggalan yang Erdogan coba bagi terhadap dunia, banyaknya penolakan dari negara-negara barat atas pengembalian fungsi Hagia Sophia menjadi mesjid, merupakan cerminan serta wujud asli sikap mereka atas Al-Aqsha Palestina. Apa yang mereka perlihatkan selama ini untuk mendukung palestina adalah sandiwara. Di sisi lain mereka mendukung kemerdekaan Palestina dan mengecam penjajahan, tetapi disisi lain mereka juga menjalin hubungan dengan Israel dan mengatakan bahwa mereka akan membantu Israel jika ada yang mencoba memerangi mereka. Kalau mereka tulus dan dukungan terhadap Palestina bermula dari rasa kejuran tentunya Palestina sudah lama merdeka secara penuh sebagaimana negara tetangga Palestina, Yordania dan Mesir. Kalau kemanusian yang menjadi dasar dukungan mereka terhadap Palestina, tentu urat leher mereka juga akan keluar sebagaimana urat leher mereka keluar ketika mengecam China atas Uighur atau Myanmar atas Rohinya. Tapi Palestina bukanlah seperti negara arab lainya yang  sukses meraih kemerdekaan setelah selesainya perang dunia pertama dan kedua dan kekalahan kerajaan Ottoman Turki. Ia (Palestina) memiliki apa yang tidak dimiliki negara arab lainya dan itu jauh lebih berharga dari minyak yang melimpah di tanah arab, yaitu Masjid Al-Aqsha.

Masjid Al-Aqsha di Palestina. Gambar: istimewa/internet

Seandainya Palestina tak memiliki Al-Aqsha mungkin palestina akan memiliki kisah jalan kemerdekaan yang berbeda. Mata dunia tidaklah melihat palestina sebagai tumpukan tanah gersang serta hamparan gurun pasir. Yang mata dunia lihat adalah sebuah mesjid dan ia adalah Al-Aqsha,, lambang dari kehormatan serta kebangkitan. Hagia Sophia saja mereka tidak rela apalagi Al-Aqsha. Tidak mungkin mereka akan rela ummat muslim bebas bersujud disana, karena setelah sujud gerak selanjutnya adalah bangkit berdiri, Kebangkitan inilah yang mereka tak ingin. tak mungkin mereka lupa bahwa ummat muslim pernah memiliki peradaban yang gilang gemilang, tak mungkin mereka lupa ummat muslim pernah memimpin dunia.

Umat muslim tak bisa berharap banyak kepada negara-negara besar eropa, amerikan, bahkan PBB sekalipun untuk menyelesaikan urusan ummat muslim terutama mesjid Al-Aqsha. Hanya persatuan ummat muslim sendirilah yang dapat membebaskan penderitaan ini, al-aqsha adalah milik kita tentulah sang pemilik yang memperjuangkanya bukan orang lain. Dari Hagia Sophia kita mendapatkan pelajaran berharga bahwa mesjid merupakan awal dari kebangkitan ummat islam, bukankankah agama ini juga bermula syiarnya dari mesjid juga yaitu mesjid Nabawi. tiada mungkin kita menunggu sampai seluruh dunia meberikan hadiah berupa kemerdekaan kepada Al-Aqsha, tidak mungkin! Belumkah kita lelah dari penantian ini. Masjid Hagia Sophia adalah awal langkah kita, Masjid Al-Aqsha adalah harga diri kita, Masjidil Haram adalah kehormatan kita, Masjid Nabawi adalah kekuatan kita, Masjid Al-Hamra adalah madrasah kita, masjid yang azannya sampai ke telinga kita adalah cinta kita. Lafaz takbir merupakan detak jantung kita.