Mengenang Sang Guru: Prof. Dr. Ramli Abdul Wahid, M.A.

  • Whatsapp

Oleh : Heri Firmansyah, M.A.

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah swt yang paling takut kepadaNya adalah para ulama”.(Alquran surah Al-Fathir ayat 28). Dalam Hadis Rasulullah saw disebutkan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi. Kedudukan ulama menempati posisi yang sangat tinggi di dalam Islam. Mereka adalah lentera yang menerangi umat, hujjah Allah di atas muka bumi, cahaya yang menyinari sebuah negeri dan pemimpin kaum muslimin dan mata air kejernihan pikiran dan hikmah. Tak berlebihan kiranya jika dirimu sang guru, almarhum Prof. Dr. Ramli Abdul Wahid, M.A adalah salah seorang sosok ulama dalam pengambaran tersebut.

Baca Juga:

Saat mendengar telah berpulangnya dirimu di bulan Ramadhan yang mulia lalu, kehadirat sang Maha Hidup dan Penguasa makhluk, Air mataku tak pernah mau berhenti, bahkan saat aku telah menyelesaikan shalat ashar ku. Dalam setiap sujudku aku terus bermohon Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Pemberi Rahmat, berikan ya Allah rahmat dan pengampunanMu  kepada guruku dan tempatkan dia di tempat yang terbaik di jannahMU. Aku bersaksi bahwa beliau adalah orang baik. Berikanlah ya Allah keridhaan-Mu kepada dirinya. Aku pun terus melaksanakan shalat ghaib dan membacakan Surah Yasin baginya, terus membacakan Surah Alfatihah yang pahalanya kuhadiahkan untuknya. Air mataku juga tetap tak mau berhenti. Guru aku benar-benar kehilanganmu.

Pikiranku pun nun jauh teringat 10 tahun lalu, saat saya menjadi Mahasiwa S-2 di UIN Sumatera Utara Medan.  Saat itu kami sama tinggal bersama di area UIN Sutomo. Sang guru berada di komplek perumahan dosen dan saya di asrama pascasarjana UIN SU Medan. kebetulan rumah beliau berdekatan dengan asrama kami. Pagi hari sebelum subuh adalah waktu yang selalu kutunggu, saat aku menunggu dia keluar dari rumahnya untuk bersama menuju ke masjid Ulul Albab UIN Sutomo. Dari perjalanan itulah dia banyak memberikan wejangan dan kesempatan bagi saya untuk banyak bertanya beberapa hal yang belum tertuntaskan  saat di kelas S-2. Beliau kebetulan mengasuh mata kuliah Hadis di kelas S-2 kami.

Bagiku dia adalah salah satu guru terbaik yang memiliki keluasan dan wawasan keilmuan yang mumpuni khususnya dalam bidang spesialisnya yaitu ilmu Hadis. Bagiku kapasitas keilmuannya dapat disejajarkan dengan ulama-lama besar di Indonesia dan bahkan dunia. Saat mengajar begitu banyak pengetahuan dan wawasan baru yang dia jelaskan, meskipun bahasannya berat, namun saat dia menyampaikannya menjadi mudah untuk dipahami. Dia yang bukan hanya menguasai kitab-kitab klasik berbahasa Arab secara baik, namun juga dengan kemampuan yang sama dapat menguasai buku-buku yang ditulis oleh para orientalis Barat utamanya dalam bidang hadis. Saya ingat dengan sangat baik dia menerangkan secara baik teori-teori kritik hadis yang disampaikan oleh Orientalis Barat seperti Ignaz Goldziher, Jozeph Scahcht dan lain-lain, sebaik saat dia menerangkan pendapat Ulama Hadis Timur Tengah seperti Albani, Mustafa Azami dan lain-lain.

Prof. Dr. Ramli Abdul Wahid

Dia yang kutahu, begitu prihatin dengan kaderisasi ulama yang ada di Sumatera Utara. Karena itu dia bukan hanya sekedar mempunyai ide, pendapat dan mewacanakan perlu adanya program pembibitan kader ulama, namun ikut berjibaku dan berjuang untuk mewujudkan program pembibitan kader Ulama yang ada di MUI Provinsi Sumatera Utara yang para kader-kadernya sekarang benar-benar telah bermunculan dan menjadi bagian dari kepengurusan MUI di Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan. Saya teringat cerita beberapa orang yang ikut dalam program pembibitan kader Ulama yang kebetulan sama juga tinggal di komplek UIN Sumatera Utara Kampus I Sutomo, bahwa dia terjun langsung untuk mendidik mereka dan memperhatikan sampai bagian terkecil dari penghidupan mereka di asrama, sampai akan begitu marah jika ada di antara mereka yang tidak melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid.

Ada di hari tertentu dia akan memberikan pengajaran kitab kuning di masjid Ulul Albab komplek UIN Sutomo. Bagiku, dan aku ingat pernah mengucapkannya secara langsung padanya, bahwa masa saat kami berjalan bersama menuju masjid sebelum subuh, mendengarkan ceramah dan pengajaran darinya yang berasal dari rujukan kitab yang dibacanya sampai saat matahari menyongsong akan terbit, lalu  saya menunggu dia keluar masjid, untuk bersama ke kediaman masing-masing, adalah masa yang paling indah dalam mengawali hari dan pagi. Itu adalah momentum yang paling kutunggu pada masa-masa itu.

Sumatera Utara telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Ulama yang bukan hanya memiliki kemampuan keilmuan yang mumpuni namun juga integritas akhlak dan moralitas yang tinggi. Karena gugurnya sebenar-benar ulama dalam kapasitas keilmuan dan moralitas yang baik, akan sangat sulit tergantikan, butuh waktu dan proses yang panjang. Atau bahkan memang tidak lagi dapat tergantikan. Guru, meskipun kami sangat mencintaimu dan ingin tetap terus bersama denganmu, menyerap ilmu dan wejangan darimu, ternyata Allah swt lebih mencintaimu dan ingin agar dirimu kembali kehadirat-Nya. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa engkau telah menorehkan tinta emas sebagai salah seorang guru terbaik yang pernah kumiliki. Semoga Allah swt menempatkanmu pada tempat yang Mulia di sisiNya dan dirimu dimasukkan oleh Allah swt di dalam SurgaNya. Aamiin.

Penulis: Dosen UIN SU Medan dan Pengurus MUI Kota Medan Bidang Hukum dan Perundangan

 

Pos terkait