Berdakwah di Jalan Allah

  • Whatsapp

Oleh: Heri Firmansyah, M.A

Allah Swt berfirman di dalam Alquran surah Ali Imran ayat 110 : “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia,  untuk menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Baca Juga:

Dakwah sejatinya adalah mengajak orang untuk melakukan kebajikan dan mencegah dari kemungkaran, melakukan amar m‘aruf dan nahiy mungkar. Dakwah adalah kewajiban setiap orang. Kewajiban ini bukan hanya dibebankan kepada para ustaz, muballigh dan ulama. Tapi setiap individu Muslim diharuskan untuk menyiarkan agama dan ajarannya sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya,, tanpa memandang status, pendidikan dan kekayaannya, sesuai batas dan kadar kemampuan dirinya. Dakwah di sini baik untuk masyarakat, keluarga dan bahkan diri sendiri agar tetap terus berada pada keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt dan penampilan ahlakul karimah sebagai syiar bagi keindahan ajaran Islam.

Jika dia mampu berbicara dan memiliki pengetahuan yang berlebih maka dia berdakwah dengan pengetahuannya itulah yang diperankan oleh para ulama dan ustaz. Jika dia memiliki harta, maka dakwahnya adalah dengan harta yang dia miliki. Bahkan dengan diam pun tanpa berkata-kata, hanya menampilkan keteladanan dan akhlakul karimah, maka dia sesungguhnya telah melakuakan dakwah, menjadi teladan bagi orang-orang yang berada di sekitarnya.

Jika ia memiliki kekuasaan, seperti seorang pemimpin dari mulai tingkat desa hingga negara, maka dia akan berdakwah dengan kekuasaannya. Bahkan pemimpin yang memiliki komitmen kuat terhadap dakwah islamiyyah akan memberikan pengaruh yang besar bagi kemashlahatan orang banyak. Pemimpin yang melakukan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran pasti akan memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya.

Contoh Dakwah Pemimpin

Lihatlah betapa kita membaca dari riwayat sirah khalifah ar-Rasyidah, tentang khalifah Umar bin Khattab, saat diadukan kepadanya sebuah tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh Gubernur Mesir Amr bin Ash terhadap orang Yahudi, yang seenaknya tanpa persetujuan dari orang Yahudi tersebut menyerobot tanah dan rumah kumuhnya untuk pelebaran Masjid.

Umar pun mengirimkan sebuah tulang dengan menggariskan garis lurus di tulang tersebut, untuk diberikan sang Yahudi kepada Gubernur Amr bin Ash. Saat menerimanya, Amr bin Ash pun kemetaran ketakutan yang membuat keheranan orang Yahudi yang mengadu. Ada apakah gerangan hanya sebuah tulang dengan garis lurus mampu menggetarkan seorang Gubernur ?! Sehingga sang Gubernur mengembalikan rumah dan tanahnya dan tidak jadi dibuat untuk pelebaran masjid. Saat ditanyanyakan kepadanya, sesungguhnya itu adalah peringatan keras bagi siapapun, terlebih pemimpin harus bertindak adil dan lurus, jika tidak bertindak secara adil dan lurus bahkan sewenang-wenang, maka Umar akan meluruskan dan mengkoreksi sang pemimpin anak buahnya tersbeut dengan pedangnya.

Sang Yahudi pun tercengang dan takjub luar biasa atas kepemimpinan yang ditunjukkan Umar, menunjukkan keagaungan ajaran Islam, sehingga pada akhirnya sang Yahudi masuk Islam karena melihat keteladanan kepemimpinan yang sangat luar biasa. Bagaimana mungkin sebuah gubernur pada kekhalifahan yang besar dapat dikalahkan dalam sengketa oleh seoang miskin yang bahkan berlainan agamanya, tentu ini adalah agama yang mulia yang akan membawa kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan. Karena itu kita membaca bahwa dalam pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, kemajuan ekonomi berkembang pesat, militer maju dan berkembang, keadilan merata di semua bidang, hukum di tegakkan dan kemakmuran dapat dirasakan oleh semua rakyat.

Setidaknya dalam ruang lingkup yang kecil, seorang suami adalah pemimpin bagi rumah tangganya, karena itu dia wajib untuk berdakwah melakukan amar makruf dan nahi mungkar dalam lingkungan keluarganya. Memastikan bahwa keluarganya menjalankan perintah agama dan menjauhi kemaksiatan maka berdampak pada kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmat dari Allah swt. Seperti melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan memastikan bahwa isteri dan anak perempuannya untuk menutup aurat saat sudah dewasa dan menghindarkan rumahnya dari tempat untuk melakukan kejahatan seperti perjudian dan tempat pesta minuman keras. Bahkan kebaikan ini juga diperlebar dengan kebaikan sosial kemasyarakatan dengan menganjurkan setiap anggota keluarga untuk menolong sesama, rajin bersedaekah dan berinfak. Hal ini tentu akan lebih menjadi nilai positif tentang keindahan ajaran Islamyang tidak hanya memperdulikan kesalehan individu, namun juga menyebar kepada kesalehan sosial kemasyarakatam. Jika setiap keluarga memastikan amar ma’ruf dan nahi mungkar ini terwujud dalam keluarga masing-masing, maka tentu akan memberikan dampak yang positif bagi kebaikan masyarakat. masyarakat yang baik akan membangun komunitas yang kuat, untuk menjadi tulang punggung kekuatan negara. Berarti kekuatan negara di tentukan oleh kualitsas individu yang baik dari pemimpin terkecil dalam sebuah keluarga, yaitu para suami.

Terakhir, Umar bin Khattab pernah mengungkapkan “fi ayyi ardhin tatha’ fa anta masulun ‘an islamiha” (dimana pun kamu berada, maka kamu pasti akan ditanya pertanggung jawaban tentang keislamannya”). Artinya dimana pun kita berada hendaknya tentang ajaran-ajaran Islam selalulah kita tegakkan karena sebagai seorang Muslim kita nantinya akan dimintai pertanggungjawaban dari Allah Swt sudah kah kita menjadi contoh dan teladan dalam lingkungan kita berada di dalam menegakkan dan menyiarkan ajaran agama kita, Islam. Setidaknya dengan menampilkan akhlak dan tingkah laku kita yang baik sebagai seorang Muslim di dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat menjadi contoh bagi orang lain. Itulah sejatinya seorang Muslim.

Penulis: Dosen UIN Sumatera Utara dan Pengurus MUI Kota Medan bidang Hukum dan Perundangan

Pos terkait