Wudu, Percikan Suci yang Menjaga Diri

  • Whatsapp

Oleh: Iin Prasetyo

“Tidak boleh menyentuhnya (Al-Qur’an) kecuali orang-orang yang suci”, begitulah Q.S. Al Waaqi’ah ayat 79 menerangkan. Dalam Hadis Riwayat Muslim Rasulullah bersabda: “Maukah kalian untuk aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudu pada kondisi yang susah (seperti dalam keadaan dingin), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu salat berikutnya setelah salat. Maka itulah ribath (pos penjagaan)”. Masyaallah, begitu luar biasanya keutamaan wudu yang mampu menjaga diri seorang muslim. Dosa-dosa kecil seorang muslim gugur bersama percikan-percikan wudu yang telah membasahi bagian-bagian tubuh.

Baca Juga:

Seorang muslim yang menjaga wudunya tentu ia juga menjaga imannya. Terjaganya iman seorang muslim akan dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik seperti perbuatan-perbuatan maksiat dan mara bahaya. Dari Hadis Riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda: “Berlaku tepatlah sesuai kebenaran, (berusahalah) mendekati kebenaran, dan beramallah. Dan ketahuilah sebaik-baik amal kalian adalah salat dan tidaklah menjaga wudu melainkan seorang mukmin”. Pada poin dan tidaklah menjaga wudu melainkan seorang mukmin ini menggambarkan bahwa orang-orang yang beriman (mukmin) selalu menjaga wudunya.

Rusman Siregar dalam artikelnya Dahsyatnya Fadhilah dan Pahala Berwudu, menuliskan, wudu merupakan sebuah syariat kesucian yang Allah tetapkan kepada kaum muslimin sebagai pendahuluan dari salat dan ibadah lainnya. Di dalamnya terkandung sebuah hikmah yang mengisyaratkan kepada kita bahwa hendaknya seorang muslim memulai ibadah dan kehidupannya dengan kesucian lahir dan batin (sindonews.com, 2019). Wudu adalah syarat sahnya salat. Artinya, sebelum mendirikan salat, seorang muslim wajib berwudu, dan jika tidak berwudu maka salatnya tidaklah sah. Wudu dan salat, ibarat seorang muslim yang hendak memasuki rumah yang akan melewati pintu-pintunya. Pintu-pintu tersebut tidak akan bisa terlewati tanpa adanya kunci untuk membukanya.

Keutamaan wudu sebelum mendirikan salat telah Allah firmankan dalam Q.S. Al Ma’idah ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memeroleh air maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkanmu tapi, Dia hendak membersihkanmu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. Berkaitan dengan ayat ini, dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah menegaskan, “Tidak akan diterima salatnya orang yang berhadas sampai ia berwudu”.

Wudu adalah usaha mulia untuk menjaga diri. Dengan berwudu dosa-dosa kecil akan Allah ampuni dan derajat seorang muslim akan ditinggikan-Nya. Jika wudu terus terjaga di dalam diri seorang muslim maka ia akan terjaga pula dari gangguan setan, nafsu syahwat yang tidak baik, dan dorongan-dorongan dari dalam diri yang tidak baik juga akan terjagakan karena wudu. Maka, jika seorang muslim membiasakan menjaga wudunya ia juga menjaga dirinya; tidak ada celah-celah bagi setan untuk masuk di dalam dirinya dan membuat pengaruh yang tidak baik yang mencelakakan pribadinya.

Bilal bin Rabah adalah kisah dari sahabat Rasulullah yang populer dengan wudunya. Dalam Hadis Riwayat Bukhari, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa, Rasulullah bertanya kepada Bilal ketika salat Fajar: “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau amalkan dalam Islam, karena aku sungguh telah mendengar gemerincing sandalmu di tengah-tengahku dalam surga”. Bilal menjawab: “Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling aku harapkan di sisiku, hanya aku tidaklah bersuci di waktu malam atau siang , kecuali aku salat bersama wudu itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku”.

Dalam Hadis Riwayat Tirmidzi dan Ahmad, dari Abu Buraidah, Rasulullah di pagi hari memanggil Bilal dan berkata: “Wahai Bilal, mengapa engkau mendahuluiku masuk surga? Aku tidaklah masuk surga sama sekali melainkan aku mendengar suara sandalmu di hadapanku. Aku memasuki surga di malam hari dan mendengar suara sandalmu di hadapanku”. Bilal menjawab: “Wahai Rasulullah, aku biasa tidak meninggalkan salat dua rekaat sedikit pun. Setiap kali aku berhadas, aku lantas berwudu dan aku membebani diriku dengan salat dua rekaat setelah itu”.

Wudu dan salat adalah cahaya bagi seorang muslim. Hendaklah setiap muslim menjaga wudu dan salatnya karena, Rasulullah akan mengenali cahaya yang ada pada wajah dan tangan itu sebagai umatnya. Dari Hadis Riwayat Muslim, Abu Hurairah berkata: “Rasulullah pernah mendatangi pekuburan seraya bersabda: ‘Semoga keselamatan bagi kalian wahai rumah kaum mukminin. Aku sangat ingin melihat saudara-saudara kami’. Mereka (para sahabat) berkata: ‘Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Kalian adalah para sahabatku. Sedang saudara kami adalah orang-orang yang belum datang berikutnya’. Mereka berkata: ‘Bagaimana engkau mengenal orang-orang yang belum datang berikutnya wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Bagaimana pandanganmu jika seseorang memiliki seekor kuda yang putih wajah, dan kakinya di antara kuda yang hitam pekat? Bukankah ia mengenal kudanya?’ Meraka berkata: ‘Betul ya Rasulullah’. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya mereka (umat Rasulullah) akan datang dalam keadaan putih wajah dan kakinya karena wudu. Sedang aku akan mendahului mereka ke telaga. Ingatlah sungguh akan terusir beberapa orang dari telagaku sebagaimana unta tersesat terusir. Aku memanggil mereka, ‘Ingat, ke marilah!!!’ lalu dikatakan (kepadaku), ‘Sesungguhnya mereka melakukan perubahan setelahmu’ lalu aku katakan, ‘Semoga Allah menjauhkan mereka’”.

Luar biasanya wudu juga ditunjukkan dari penelitian dunia kesehatan. Seorang neurolog dari Austria, Prof. Leopold Werner von Ehrenfels, meneliti keajaiban yang ada dalam wudu. Wudu mampu merangsang pusat syaraf dalam tubuh manusia. Keselarasan air dengan wudu dan titik-titik syaraf membuat kondisi tubuh selalu sehat. Hasil penelitian ini membuat Leopold memeluk Islam.

Mikroba-mikroba yang ada dalam hidung dapat menyebar dan berkembang biak ke dalam tubuh sehingga menjadi bibit-bibit berbagai penyakit, apalagi jika mikroba-mikroba tersebut telah sampai ke tenggorokan bahkan sampai menembus ke peredaran darah. Itulah sebabnya tata cara berwudu yang indah dengan istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung) lalu melepaskannya kembali maka hidung akan bersih dari kuman-kuman yang bersarang di dalamnya. Keutamaan wudu dalam kesehatan yakni dengan membasuh hidung masih nikmat kecil yang diberikan Allah dalam menjaga diri seorang muslim, padahal membasuh atau menghirup air wudu ke dalam hidung adalah bagian dari sunahnya wudu. Belum lagi nikmat-nikmat bagian yang wajib dalam berwudu, masyaallah. Maka, Mahabenarlah Allah dengan firmannya dalam Q.S. Al Baqarah ayat 222, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tobat dan orang-orang yang bersuci”.

Artikel ini ditulis atas dasar inisiasi Kelompok 6 KKN-DR UIN SU dengan Dosen Pembibing Lapangan Nurliana Damanik, MA.

Pos terkait