Mengasah Jiwa yang Kerdil

  • Whatsapp

Oleh: Jihan Safitri Limbong

Melihat kilas balik sebelum adanya covid-19, beberapa tahun yang lalu disaat semua keadaan baik-baik saja dan jalanan masih penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang. Pusat perbelanjaan ramai pengunjung sejak pagi hingga petang. Bahkan tempat wisata juga masih ramai dengan kunjungan wisatawan. Warung ataupun cafe selalu penuh sesak oleh muda mudi.

Baca Juga:

Ketika beberapa orang terdeteksi positif corona di Indonesia, hari-hari semakin berlanjut dengan kebijakan-kebijakan yang telah di berlakukan oleh pemerintah. Seperti kebijakan untuk mengurangi berbagai aktivitas di luar rumah, kemudian kebijakan menggunakan masker hanya untuk pesakit hingga kebijakan wajib masker untuk semua orang yang keluar rumah. Ketakutan masyarakat akan luar biasanya penyebaran virus ini menjadi pemicu kepanikan dan mulai saling membatasi diri dalam bersosialisasi jarak dekat.

Sebelum terjadinya pandemi, masyarakat hidup bermasyarakat tanpa ada batas sosial. Sekarang semuanya berjaga jarak dengan orang lain dan tidak saling berdekatan. Pandemi ini juga berdampak pada perekonomian masyarakat, bahkan para pedagang dilarang membuka usaha serta sampai terjadi perbuatan anarkis antara pedagang dan Satpol PP.

Hal lain yang terdampak yaitu sistem pendidikan. Dalam hal ini para siswa banyak yang jadi korban dengan tidak adanyanya proses pembelajaran tatap muka. Lebih dari setengah proses pembelajaran dilakukan secara daring dan luring. Mengingat situasi yang belum membaik, akhirnya pembelajaran di awal semester ini pun dilakukan dengan cara yang sama. Meski dirasa berat, tapi dunia pendidikan nampaknya masih harus tetap bersyukur. Hal ini karena musibah ini lahir disaat dunia telah mengenal canggihnya teknologi informasi dan komunikasi, sehingga meskipun sekolah dan perguruan tinggi ditutup dan pembelajaran tatap muka ditiadakan, tapi pembelajaran tetap dapat berjalan.

Bisa di bayangkan, jika musibah ini datang pada saat teknologi informasi belum dikenal barangkali sekolah dan perguruan tinggi akan benar-benar tutup dan disertai dengan pembelajaran yang akan berhenti secara total. Hal ini berarti bahwa pelajar hanya akan belajar dengan segala sumber daya berupa buku cetak yang pernah didapatkan sebelumnya dimana itu sangat terbatas. Jika pelajar mengalami kesulitan, mereka hanya akan bisa bertanya kepada kedua orang tuanya dan tetangga dekatnya, sehingga lingkungan menjadi satu-satunya tumpuan pelajar dalam belajar. Tapi situasi ini hanya akan terjadi di lingkungan dimana pelajarnya memiliki inisiatif untuk belajar atau orang tuanya memberikan motivasi agar anak-anaknya belajar. Jika tidak maka dapat dipastikan bahwa para pelajar akan berhenti belajar dalam waktu yang cukup lama. Situasi ini tentu akan menimbulkan kerugian, baik bagi diri pelajar sendiri maupun lingkungan dan negara dimasa yang akan datang.

Lalu Bagaimana Peran Muslim dalam Menyikapi Hal Ini?

Agama merupakan salah satu solusi yang dapat dijadikan sandaran bagi setiap individu untuk mengeliminasi rasa kepanikan dan kekhawatiran yang berlebih. Seperti dalam surah An-Nahl:112 yang artinya “telah termaktub bahwa manusia itu makhluk yang sangat rentan merasakan kepanikan dan ketakutan”. Sebagai seorang muslim yang baik, sudah seharusnya untuk mengingatkan antar sesama, mengingatkan bahwa “setiap penyakit pasti ada obatnya” karena semua ini datangnya dari Allah.

Selain itu tugas seorang muslim juga harus saling menguatkan, sabar dan pantang menyerah dalam menghadapi suatu masalah. Sebisa mungkin kita menyemangati atau menguatkan saudara-saudara kita yang jauh maupun yang dekat untuk tetap berikhtiar melawan corona ini dan meningkatkan ibadah kepada Allah karena disaat pandemi seperti ini yang mengharuskan semua kegiatan dilakukan di rumah bisa menjadi kesempatan kita untuk lebih giat beribadah pada Allah.

Rasulullah saw bersabda bahwa suatu wabah akan menjadi rahmat Allah bagi orang-orang yang beriman. Tetapi akan menjadi siksaan bagi orang-orang yang tidak beriman. Selain itu, kita seharusnya mengisolasi diri sendiri dengan tetap berada di rumah. Hal ini sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut” (HR. Al-Bukhari)

Manusia pada umumnya hanya bisa berkeluh kesah tanpa mensyukuri segala nikmat yang sudah di terima, dengan wabah ini seharusnya umat manusia lebih bisa berserah diri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Seandainya jika manusia bisa paham, segelintir apapun cobaan yang terjadi saat ini semuanya sudah diatur dan sudah atas kehendak Allah swt.

Mungkin bagi setiap umat manusia masih ada yang meremehkan tentang bahaya dari corona ini. Banyak yang masih belum mawas diri untuk tidak keluar rumah. Kita juga sebagai seorang muslim harus bisa mengedukasi kepada orang-orang disekitar kita tentang bahaya dari dampak virus ini. Selain memberi edukasi, kita juga harus membiasakan diri untuk memerangi berita hoax yang terus-menerus beredar dengan tindakan “saring sebelum sharing”. Ini berarti sebelum kita menyebarkan informasi, kita harus dapat membuktikan kebenaran berita tersebut.

“Al-Imanu yazidu wa yanqush”. Iman itu kadang bertambah dan kadang pula berkurang. Penting untuk kita memilih lingkungan yang baik, nantinya akan dapat meningkatkan iman kita. Karena apa yang kita lihat akan berdampak dengan apa yang akan kita lakukan. Kalau kita melihat sesuatu yang baik secara terus menerus maka dalam otak kita akan terbentuk dan tercipta ingin melakukan kebaikan. Kebiasaan baik itu akan menjadi sikap dan karakter kita. Dan kebiasaan baik itu terbentuk dari lingkungan yang setiap hari kita berkumpul dan bertemu, itulah pentingnya sebuah lingkungan yang baik. Sebaliknya, kalau lingkungan kita kurang baik maka ini juga akan berdampak dalam sikap dan perilaku kita. Bukankah Rasulullah saw telah mengingatkan kita pentingnya memilih teman. “Seseorang itu mengikuti agama temannya, karena itu hendaklah kamu memperhatikan orang yang kamu jadikan teman” (HR. Abu Daud)

Wabah corona ini adalah bentuk musibah yang merupakan cobaan dan peringatan dari Allah , semoga ini bukan hukuman atas perbuatan dan kelalaian kita. Insya Allah kita semua bisa menghadapi wabah ini dengan iman yang semakin bertambah serta imun yang senantiasa terjaga.

Penulis: Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

 

Pos terkait