Pandemi dan Semangat Berhari Raya untuk Bangkitkan Ekonomi

  • Whatsapp
Foto: internet

Oleh: Iin Prasetyo

Hari Raya Haji yang tiba pada tahun ini menjadi pelipur lara bagi umat Islam. Sebab, pandemi benar-benar menguji kesabaran setiap diri manusia untuk bagaimana ia bisa bertahan dalam menghadapi masalah yang komplek. Namun, pasti tetap ada berkah di saat ekonomi yang serba sulit akibat pandemi yang belum kunjung selesai ini. Bersabar dan bersyukur merupakan hikmah besar dari momentum Hari Raya Haji (Iduladha) dan berkurban adalah bentuk rasa syukur seorang hamba kepada Tuhannya.

Baca Juga:

Indonesia saat ini dihantui resesi ekonomi akibat pandemi. Di tengah new normal (kenormalan baru) seperti saat ini, resesi merupakan hal yang tidak mudah dielakkan. Betapa tidak, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami tekanan dan kontra antara tingginya belanja pemerintah dengan menurunnya pendapatan negara, akibatnya dari Produk Domestik Bruto (PDB), defisit APBN 2020 mencapai 6,38%. Di saat itu pula, Hari Raya Haji turut membersamai pandemi namun, tampak bahwa daya beli masyarakat akan kebutuhan berkurban cukup berpengaruh baik dari kelesuan ekonomi.

Momen Iduladha memiliki potensi pergerakan ekonomi yang cukup besar. Lebih kurang ada 2,3 juta umat Islam yang memiliki daya beli untuk kebutuhan berkurban. Ada sekitar 1,9 juta ekor kambing yang dibutuhkan untuk dikurbankan dan sekitar 452 ribu sapi dan kerbau sehingga nilai ekonomi dari kurban 2020 diperkirakan sekitar Rp20,5 triliun. Akan tetapi, yang menjadi kendala adalah bagaimana distribusi daging kurban tersebut merata ke seluruh daerah karena peredarannya justru kebanyakan di daerah yang konsumsi dagingnya termasuk sudah tinggi.

Iduladha tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya tidak ada bedanya. Iduladha tetap menjadi hari yang agung dan mulia, suara takbir tetap menggema dari suara-suara sumringah di setiap masjid dan musala. Apa yang membedakan? Perasaan kitalah yang selalu berubah-ubah. Maha Bijaksana Allah yang membolak-balikkan hati hamba-Nya, apakah dalam keadaan hati yang begitu seorang hamba mampu mengendalikan dirinya, terus mengingat Allah, atau justru membuatnya tidak menjadi hamba yang bersabar dan bersyukur. Kebahagiaan hari raya berawal dari bagaimana seorang hamba menyikapi keadaan baik atau buruk yang menyertainya.

Sabar, ikhlas, patuh, dan bersyukur merupakan hikmah dari keagungan Iduladha yang terefleksi dari kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Keluarga Nabi Ibrahim menjadi teladan dalam menjalani kehidupan yang semangat untuk selalu dekat dengan Tuhan. Ketika lama menanti keturunan, begitu Allah menganugerahi Nabi Ibrahim seorang putra yang saleh, patuh kepada orang tua namun, Nabi Ibrahim melalui mimpinya ia harus menyembelih Nabi Ismail anaknya atas perintah Allah. Maha Rahmannya Allah, Nabi Ibrahim dan Siti Hajar istrinya sungguh ikhlas dan bersabar akan perintah Allah walaupun hanya dalam mimpi Nabi Ibrahim, akan tetapi Allah mengganti Nabi Ismail dari penyembelihan itu menjadi seekor kambing seperti yang difirmankan Allah dalam Q.S. As Saffat ayat 107-110, “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Iduladha dan pandemi menjadi satu waktu yang beriringan. Ketika semua lini kehidupan dunia mengalami kesulitan, ekonomi terpuruk, kesehatan menurun drastis, sosial masyarakat banyak berubah menjadi tidak baik seperti meningkatnya kejahatan dan pengangguran serta dunia pendidikan belajar-mengajar pun ikut terganggu namun, Iduladha menjadi momentum kekuatan dan semangat umat untuk bangkit dari keterpurukan itu. Hikmah besar dari kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadi refleksi kehidupan yang riil, bukan sekadar kata-kata mutiara melainkan dari kehidupan terdahulu yang benar-benar ada dan langsung Allah abadikan dalam Al-Qur’an pada surat yang telah disebut di atas.

Kuatnya semangat perlawanan terhadap keadaan yang serba sulit ini menjadi momen spesial saat tibanya Hari Raya Kurban. Pengorbanan yang merupakan bagian dari makna terdalam Hari Raya Kurban ini adalah merelakan sesuatu yang berharga dalam hidup seseorang atas dasar mengharap rida dari Tuhan. Itulah gambaran ketika Nabi Ibrahim merelakan Nabi Ismail putra semata wayangnya sebagai sesuatu yang sangat berharga baginya untuk disembelih demi keridaan Allah. Dan di masa sekarang ini, bagi kita yang memiliki “Ismail” maka jadikanlah “Ismail” kita seperti Ismailnya Nabi Ibrahim. Karena, pada hakikatnya kepemilikan yang ada pada diri kita adalah kepemilikan Allah; kita hanya hamba yang dipercayai-Nya untuk menjaga, merawat dengan baik kepemilikan itu dan kapan pun Allah hendak mengambilnya kita mesti merelakannya demi rida Tuhan.

Dalam situasi pandemi saat ini, selain kekuatan suatu negara dalam mempertahankan kehidupannya agar tidak terjun bebas ke jurang resesi ekonomi, sudah barang tentu warga negara di dalamnya juga harus kuat dan siap mempertahankan hati, jiwa dan raganya dalam cobaan yang tidak mudah diselesaikan ini. Dari DetikFinance 30/7/20, empat negara telah mengalami resesi ekonomi akibat pandemi. Ekonomi Singapura pada kuartal II-2020 terkontraksi 41,2%, Bank of Korea menyatakan pada kuartal II-2020 perekonomian Korea Selatan tercatat menyusut -3,3%, Hong Kong pun menyusut ke angka 9% pada kuartal II-2020, dan kontraksi sebesar -10,1% dialami oleh Jerman. Dengan berbagai sebab yang terjadi di negara masing-masing yang pada dasarnya karena pandemi, negara dengan perekonomian kuat tersebut pun telah masuk ke dalam jurang resesi. Ketika resesi ekonomi itu telah memporak-porandakan mobilitas kehidupan negara, maka bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia harus menunjukkan kekuatan solidaritas dalam rangka pertahanan dan keamanan negara. Gotong royong adalah ciri khas komunikasi warga negara Indonesia dalam menyelesaikan masalah apa pun, termasuk kesulitan ekonomi negara saat ini. Maka, Islam sebagai rahmat bagi alam semesta ini tentu menjadi solusi yang baik bagi keadaan negara yang kurang baik. Melalui momentum Iduladha ini, semangat berkontribusi untuk pertahanan ekonomi kerakyatan, semoga Indonesia terus dimudahkan Allah dalam membangun dan mempertahankan kekuatan ekonominya, begitu juga kekuatan hati, jiwa dan raga warga negaranya, amin.

Artikel ini diinisiasi oleh Kelompok 6 KKN-DR UIN SU 2020 dengan Dosen Pembimbing Lapangan Nurliana Damanik, MA.

Pos terkait