Moderasi Beragama di Tengah Pandemi Covid-19 Oleh: Findira Rindu Trisura (Mahasiswa Studi Agama Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UINSU)

  • Whatsapp

Virus Corona hingga saat ini masih menghantui dunia. Beberapa temuan vaksin masih dalam uji coba. Tidak ada yang menyangka bahwa virus tersebut mengguncang segala aspek lini sosial kehidupan manusia. Umat. Dampak yang ditimbulkan oleh virus tersebut hampir menyentuh seluruh asfek kemanysiaan. Bahkan, setiap negara memiliki kebijakan tersendiri dalam menghadapi situasi pandemi ini.

Covid 19 menjadi bencana global yang tidak memilih targetnya berdasarkan pertimbangan agama, suku dan budaya serta aliran. Setiap person berpotensi terjangkit apabila kualitasi tubuh tidak kuat, tidak menerapkan pola hidup sehat atau tidak menjaga jarak (phsysical distancing). Oleh karena itu, virus tersebut ciptaan Allah yang kemungkinan dapat menyasar seluruh hamba-hamba-Nya, baik yang menjalankan kesalehan spritual maupun tidak.

Baca Juga:

Kesalehan spritual tidak menjadi suatu jaminan akan terhindar dari covid 19 tersebut. Allah Swt. berfirman dalam QS al-Anfal/8: 25:
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang alim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras.”

Dampak virus corona yang paling mencolok dalam kehidupan keberagaman manusia, lebih khusus umat Islam. Penerapan sosial distancing (jaga jarak) memaksa pemerintah untuk memberikan anjuran untuk sementara waktu masjid tidak digunakan seperti sedia kala, sekolah dan kampus tutup sehingga proses belajar mengajar dilakukan di rumah via daring, serta anjuran salat berjamaah dan salat Jumat di masjid ditiadakan sementara waktu.

Fakta itu menimbulkan polemik di tengah masyarakat termasuk sebagian umat Islam itu sendiri. Sebagian memahami bahwa penutupan tempat ibadah karena virus corona tersebut sesuatu yang seharusnya dan sewajarnya, tetapi sebagian yang lain mengesampingkan dampak dari virus corona dengan menyayangkan penutupan tempat ibadah tersebut.

Berdasarkan fakta-fakta itu, perlu dipahami lebih jauh lagi bahwa dalam situasi pandemi seperti ini di luar nalar dan jangkauan umat itu sendiri. Moderasi beragama menjadi sesuatu yang mutlak dimaksimalkan dalam menghadapi dampak situasi yang tidak normal tersebut. Masyarakat harus mampu bersikap moderat dalam menjalani kehidupan keberagamannya, bukan dengan memberikan propaganda di berbagai aspek, misalnya memberikan status tertentu di media sosial miliknya.

Moderat menjadi sebuah kata yang seringkali disalahartikan dalam kehidupan sosial beragama di Indonesia. Ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa orang yang moderat tidak memiliki keteguhan dalam pendirian, tidak serius, bahkan tidak menjalankan ajaran agama dengan sungguh-sungguh. Moderat disalahartikan dengan sebagai kompromi keyakinan secara teologi antara satu agama dan agama yang lain. Moderat harus dipahami dengan percaya diri terhadap ajaran agama yang mengajarkan prinsip adil dan berimbang yang mengarahkan pada kebenaran pada tujuan subtantif dari agama itu sendiri.

Umat Islam harus lebih moderat dalam menjalankan agama. Keadaan beragama di tengah covid 19 ini tentu berbeda dengan sebelumnya. Misalnya, bulan Ramadan kali ini tidak dijalankan seperti tahun-tahun sebelumnya, salat tarawih yang dikerjakan di masjid-masjid, ramadan kali ini dijalankan di rumah masing-masing tanpa mengurangi kesakralan amalan-amalan selama bulan ramadan.

Moderasi Beragama
Kementerian Agama gencar menggaungkan moderasi beragama sejak lima tahun terakhir memberikan pemahaman dan mengamalkan agar ajaran agama dijalankan dengan tidak ekstrim. Program moderasi tersebut sudah mulai terlihat dan terasa dampaknya. Walaupun demikian, gejala terjadinya konflik internal dalam satu umat agama masih dirasakan.

Moderasi beragama dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem, baik ekstim kanan maupun ekstrim kiri dalam beragama. masyarakat membutuhkan sebuah cara pandang, sikap, dan perilaku beragama tertentu itu tergolong moderat atau ekstrem. Ukuran tersebut dapat diperbaiki dengan berlandaskan pada sumber-sumber terpercaya, seperti nas agama (Alquran dan sunah, aturan dalam konstitusi negara, kearifan lokal pada suatu tempat dan kesepakatan bersama yang terjadi dalam bentuk konsensus.

Kebiasaan masyarakat, lebih khusus di Indonesia adalah melakukan kegiatan-kegiatan doa massal di masjid ataupun di tempat lain. Akan tetapi, kegiatan doa-doa massal tersebut di tengah pandemi covid 19 sebaiknya dibatasi dan dikurangi. Kita tidak menginginkan bahwa doa-doa massal tidak menolong justru menjadi penyebab penularan wabah covid 19 mungkin dapat dipahami secara logis oleh sebagian kalangan. Bahkan, Indonesia sebagai negara yang berdasarkan kepada Ketuhanan yang Maha Esa, kegiatan doa-doa massal sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi warga negara.

Umat membutuhkan pendekatan khusus dalam melakukan edukasi agar tidak terjadi konflik internal umat dalam satu agama atau antar agama dalam menghadapai wabah covid 19, salah satunya dengan lebih aktif lagi mensosialisasikan gerakan moderasi beragama.

Kementerian Agama mengambil peran dalam menghadapi pandemi covid 19 dengan berbagai kebijakan yang tujuan utamanya berdasarkan moderasi beragama. Misalnya, edaran Menteri Agama Nomor: SE. 1 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Protokol Penanganan Covid-19 pada Rumah Ibadah. Edaran yang berisi tentang pentingnya mencegah penyebaran covid 19 di rumah ibadah dengan mengajak jajaran instansi di bawah Kementerian Agama untuk mensosialisasikan dan mensinergikan edaran tersebut di tengah masyarakat. Edaran tersebut subtansinya mengajarkan masyarakatuntuk lebih mengutamakan sikap moderasi dalam menjalankan ajaran-ajaran agama masing-masing.Pada sisi yang lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga independen yang mengayomi umat Islam di Indonesia telah mengeluarkan fatwa-fatwa yang secara langsung dapat menghambat penyebaran wabah.

Meskipun demikian, MUI harus bekerja keras lagi dalam lebih mencerdaskan umat tentang pentingnya konteks moderasi beragama, agar fatwa-fatwa yang dikeluarkan tidak menyisakan konflik di tengah masyarakat bahkan mungkin akan lebih baik lagi jika dapat merangkul semua kalangan sesuai kondisi yang ada

Pos terkait