Ciri Orang-orang Bertaqwa

  • Whatsapp

Oleh : Heri Firmansyah, M.A.

Taqwa adalah derajat yang paling mulia di sisi Allah swt., sesuai dengan firman-Nya dalam surah al-hujurat ayat 13 : Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”. Ketaqwaan akan menghantarkan seseorang di dalam kebahagiaan sejati, baik di dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Bahkan Allah swt secara nyata menjanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa untuk mendapatkan surganya, sebuah kebahagiaan abadi di kehidupan akhirat yang amat didambakan dan dicita-citakan bagi setiap orang yang beriman. Pertanyaan adalah, bagaimana ciri orang-orang yang bertaqwa dalam perspektif dan penggambaran Alquran ?

Baca Juga:

Sebenarnya banyak sekali ayat Alquran yang menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, tulisan ini menjelaskan tentang tiga ciri utama orang yang bertaqwa yang terdapat dalam Alquran surah Ali Imran ayat 134. “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Ciri pertama adalah mereka senantiasa menginfakkan hartanya di jalan Allah baik di dalam keadaan lapang, senang dan kaya, maupun dalam keadaan yang lagi sempit, kekurangan dan susah. Di dalam menafsirkan surah ini, Imam Thabari mengungkapkan bahwa ayat ini memberikan penekanan bahwa orang yang bertaqwa itu tidak akan pernah dihalangi oleh situasi apapun di dalam melakukan amal kebajikan termasuk di dalam melaksanakan shadaqah dan berinfak di jalan Allah. Karena bagaimanapun keadaannya dia pasti akan selalu menginfakkan harta dan apa yang dimilikinya, meskipun dia sendiri dalam keadaan yang susah dan memprihatinkan yang perlu untuk dibantu dan ditolong. Jika ada orang yang baru dalam keadaan bahagia, lapang, kaya dan senang dulu baru berinfak, itu berarti belum termasuk di dalam kategori orang yang bertaqwa.

Ciri kedua orang yang bertaqwa menurut ayat ini adalah mereka senantiasa mampu menahan kemarahannya. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab shahih mereka, yang hadis ini dinukil dari Imam Malik, sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda: “Sesungguhnya orang yang kuat dan dahsyat itu bukanlah mereka yang mampu memenangkan pergulatan/pertarungan, akan tetapi mereka yang kuat itu adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya saat dalam keadaan marah. Orang yang mampu mengendalikan kemarahannya akan terhindar dari kemurkaan Allah swt., sebagaimana yang terdapat di dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda, Allah swt berfirman: “ingatlah Aku, jika kamu dalam keadaan marah, maka Aku akan mengingatmu saat Aku murka, maka karena itu aku tidak akan membinasakanmu, pada sesuatu yang orang lain akan Aku binasakan karenanya.” Sungguh keistimewaan yang sempurna yang diberikan oleh Allah swt kepada orang-orang yang mampu menahan amarahnya dalam situasi dan kondisi dimana dia dapat saja melampiaskan amarahnya. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa salah seorang sahabat meminta nasehat yang bermanfaat bagi dirinya, maka Rasul pun memberikan nasehat kepadanya untuk “janganlah kamu marah”. Bahkan Rasulullah beberapa kali mengulangi ucapannya tersebut.

Ciri ketiga orang yang bertaqwa adalah mereka senantiasa memaafkan kesalahan orang lain. Di dalam ayat ini menjelaskan bahwa yang paling utama sikap seseorang bahkan menjadi ciri orang yang bertaqwa adalah mereka yang memaafkan kesalahan orang lain terhadapnya, bukan orang yang meminta maaf, meskipun ini adalah suatu tindakan yang bijaksana dan baik juga. Tentu di dalam kehidupan dunia ini sudah menjadi sunnatullah bahwa selalu ada orang yang berbuat kesalahan dan kejahatan kepada orang lain, baik dilakukan dengan sengaja ataupun dengan tidak sengaja. Allah menyebutkan bahwa mereka yang senantiasa memberikan maaf nya kepada orang lain, maka dia termasuk di dalam golongan orang yang bertaqwa dan baginya surga yang dijanjikan.

Di dalam akhir ayat ini, di dalam tafsir jalalain disebutkan bahwa, Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya ketiga amalan tersebuat adalah amalan para muhsinin, yaitu mereka-mereka yang banyak melakukan amal kebajikan karena itu akan mendapatkan ganjaran yang tinggi di sisi Allah swt. Para muhsinin amat dicintai oleh Allah swt. Derajat muhsinin di dalam melakukan amal kebajikannya adalah “kamu beribadah kepada Allah swt, seolah-olah kamu melihatnya, jikalaupun kamu tidak dapat melihatNya, maka Allah swt pasti melihatmu”. Hal ini membuat para muhsinin senantiasa bersungguh-sungguh dan masuk dalam kategori manusia khusus di dalam melakukan ibadahnya kepada Allah swt, karena tahu bahwa setiap amal dan perbuatannya di dunia ini pasti dilihat dan diketahui oleh Allah swt. Karena itu pantas saja mereka amat dicintai dan disayangi Allah swt. Semoga kiranya dengan melakukan amal kebajikan tersebut, nantinya kita akan mendapatkan cinta Allah swt., dan akan mewarisi Surga yang dijanjikanNya bagi orang-orang yang bertaqwa.

Penulis: Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sumatera Utara dan Pengurus MUI Kota Medan

 

 

Pos terkait