Jiwa Merdeka dalam Moderasi Beragama

  • Whatsapp
Sumber gambar internet

Oleh: Iin Prasetyo

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (Q.S Al Baqarah: 143).

Merdekanya Indonesia dari belenggu kekuasaan Jepang dan Belanda tidak terlepas dari jiwa-jiwa merdeka umat Islam. Begitu pula pasca-kemerdekaan saat para tokoh bangsa dari berbagai agama merumuskan apa azas atau dasar berdirinya negara ini dengan rangkulan yang romantis dari tokoh muslim. Betapa tidak, ketika sejarah “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Bukan tanpa alasan yang kuat kedua bunyi dasar negara tersebut dicetuskan oleh para pahlawan bangsa.

Umat Islam diciptakan Allah sebagai bagian dari penyelaras alam dan merupakan bentuk harmoninya hidup dan kehidupan yang sangat luas definisinya. Sungguh Allah Maha Adil dengan segala ketetapan-Nya bersama kedamaian dengan segala apa yang diciptakan-Nya. Maka, dari hal itu telah Allah ciptakan Islam sebagai “mata kuliah” bagi muslim untuk mendalami perannya dengan sebutan “manusia pilihan” seperti yang diterangkan dalam QS. Al Baqarah: 143. Memberikan studi atau pesan kehidupan yang berimbang yakni moderasi (al-washatiyyah) telah menjadi bagian besar konsep kehadiran Islam sebagai pesan kedamaian bawaan Rasulullah Saw., dan keberimbangan tersebut menjadi esensi peradaban kemanusiaan hingga saat ini.

Kata al-washatiyyah bukanlah istilah baru dalam konsep peradaban yang ditawarkan Islam. Dewasa ini, istilah itu lebih familiar disebut “moderat” yang selanjutnya dari berbagai gejala atau peristiwa sosio-kultural maka juga muncul istilah “Islam moderat”. Seakan, Islam menjadi konsep yang baru saja rilis padahal, sejak dulu Sang Pembawa Pesan Kedamaian Rasulullah Muhammad Saw., telah mengemukakannya bahwa ia adalah pembawa penyempurnaan akhlak seperti yang dikatakan Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (HR. Al Bukhari: Adabul Mufrad, No. 273). Lantas, apakah istilah moderat memiliki esensi yang selaras dengan al-washatiyyah?

Muchlis M. Hanafi (2009) mendefinisikan bahwa, al-washatiyyah berasal dari kata wasath yang memiliki makna adil, baik, tengah, dan seimbang. Bagian tengah dari kedua ujung sesuatu dalam bahasa Arab disebut wasath. Menurut Yusuf Qardhawi (1995) bahwa, di antara karakteristik ajaran Islam adalah al-washatiyyah (moderat) atau tawazun (keseimbangan), yakni keseimbangan di antara dua jalan atau dua arah yang saling berhadapan atau bertentangan.

Contoh dua arah yang bertentangan seperti spiritualisme dengan materialisme, individu dengan kolektif, kontekstual dengan idealisme, dan konsisten dengan perubahan. Prinsip keseimbangan ini sejalan dengan fitrah penciptaan manusia dan alam yang harmonis dan serasi. Sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an, “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia telah meletakkan mizan (keadilan), supaya kamu tidak melampaui batas tentang mizan itu” (QS. Ar Rahman [55]:7-8).

Cermin Moderasi

Cerminan moderasi Islam tentunya secara eksplisit dapat dibaca dari bagaimana menu pengajaran yang dikemukakan oleh Islam itu sendiri. Baik dalam bentuk akidah, ibadah, sampai pada muamalah dan hal sekecil merumuskan dasar negara oleh para tokoh kemerdekaan dahulu, betapa Islam menempatkan posisinya sebagai pemberi kedamaian dan keadilan sebab itulah fitrah ketauhidan Islam yang mengisi rangka peradaban dan kemanusiaan di dunia ini. Bayangkan ketika bunyi sila ketuhanan dalam Piagam Jakarta itu tetap dipertahankan sampai sekarang — mungkin Indonesia pasca-merdeka justru perang saudara hanya karena bunyi satu frasa dasar negara. Tentu ini semua karena jiwa moderat tokoh-tokoh yang sebagian besar justru dari Islam demi mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa-negara.

Ditegaskan dalam Q.S. Al Qashash: 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. Dari ayat ini juga dapat terlihat titik esensi moderat, di samping perintah (carilah) kebahagiaan akhirat, Allah juga memerintahkan (janganlah) melupakan kenikmatan duniawi.

Moderasi Islam: menghargai komunitas minoritas

Al-Qur’an, Hadis, Ijmak, dan Qiyas sebagai sumber hukum yang tidak ada perselisihan di dalamnya (muttafaq) merupakan hal yang esensial dari buah pikir moderasi umat Islam yang berakar dari al-washatiyyah. Namun demikian, manusia terlebih umat Islam memiliki kerangka berpikir beraneka ragam tentu kritis setiap apa-apa yang menjadi pemikiran antara individu-kelompok yang satu dengan yang lain sehingga hal ini menjadi dasar bahwa apa pun yang sebenarnya “diiyakan” oleh sumber hukum tersebut bisa saja menjadi sebuah paradoksal.

Max Weber dan Karl Marx, ketika mereka telah sukses mengemukakan buah pikir kapitalisme dan sosialisme maka Islam juga hadir dalam posisi prinsipiel, yakni berada di antara keduanya. Tidak mungkin umat Islam berpikir bahwa rezeki apa pun yang ia peroleh merupakan hasil jerih payahnya sendiri tanpa ada kekuatan Tuhan menyertainya—cara berpikir Islam adalah berdoa dan bekerja artinya, di samping rasa yakin bahwa rezeki yang ia peroleh ada rahmat Allah sebagai Zat Yang Maha Pemberi.

Kesempurnaan Islam juga tampak dari tujuannya yakni menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat (falah) dengan suatu sistem kehidupan yang baik dan terhormat (hayyah tayyibah)—oleh sebab itu Islam hadir untuk mengajarkan kesejahteraan materil selain kesejahteraan moral dan spiritual umatnya. Islam juga menegaskan bahwa kemapanan kepercayaan terhadap Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, percaya kepada semua nabi yang dijelaskan Al-Quran; semua kitab suci; dan percaya kepada hari setelah kehidupan dunia, serta taat kepada aturan moral dan persaudaraan antarmanusia secara universal dan memuarakan segala bentuk buah pikir ke dalam jati diri Islam itu sendiri yakni, Islam rahmatan lil’alamiin. Inilah dasar tokoh-tokoh muslim saat merumuskan dasar negara; mereka bukan merasa orang yang paling berperan atau umat yang paling banyak berkorban untuk memerdekakan negara-bangsa ini dari penjajahan melainkan mereka berpikir bagaimana bisa merangkul komunitas-komunitas minoritas demi keberagaman dan kerukunan bangsa-negara yang terus utuh.

Menempatkan diri di pertengahan (moderat; menimbang hal yang paling baik) tidak hanya menjadikan diri positif dari apa-apa yang tidak menjadi jalan istimewa (keridaan) Allah—akan tetapi keluasan berpikir, dinamis dalam hal menerima segala bentuk gejala kehidupan sosial dengan pertimbangan yang matang, dan tidak meninggalkan esensi laillaha-illallah muhamdurrasullah maka tidakkah di sini posisi umat Islam sebagai manusia pilihan Allah?

 Penulis: Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah (KKN DR) Kelompok 6 dengan Dosen Pembimbing Lapangan: Nurliana Damanik, MA..