Hakikat Hijrah

  • Whatsapp

Oleh : Heri Firmansyah, M.A.

Umat Muslim di Indonesia senantiasa menyambut dan memperingati bulan Muharram sebagai tahun baru Islam. Pada saat ini telah memasuki tahun 1442 Hijriyah. Peristiwa ini diperingati sebagian orang sebagai momentum dan evaluasi diri untuk menjadi lebih baik, sebagaimana hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah saw, selain merupakan perintah Allah swt, juga adalah dalam rangka tujuan dakwah islamiyah agar lebih dapat berkembang menyebar ke seantero negeri jazirah Arab bahkan dunia. Hal ini dilakukan karena Madinah dianggap adalah kota yang jauh lebih kondusif dan menerima dakwah Rasulullah saw., setelah sebelumnya para sahabat Rasulullah saw dari kaum anshar Madinah melakukan bait al-Aqabah kesatu dan bait al-Aqabah kedua yang bersiap sedia untuk mendukung dakwah Rasulullah saw.

Benarkah peristiwa hijrah Rasulullah saw terjadi pada bulan Muharram ? dalam kitab tarikh Ibnu Ishak dan Imam at-Thabari menuliskan bahwa Rasulullah saw tiba di Quba pada tanggal 12 Rabiul awal tahun 13 kenabian, jika dikonversi ke tahun masehi bertepatan dengan tanggl 24 September 622 M.  Jarak antara Kota Madinah dan Quba sekitar 5 KM. Di Quba, Rasulullah saw tinggal selama 4 hari dan mendirikan masjid yang pertama, dan melaksanakan shalat berjamaah secara terbuka di sana yang arah kiblatnya masih ke Masjid al-Aqsha di Palestina. Lalu berangkat ke Madinah pada hari Jum’at, dan di tengah perjalanan tepatnya di Wadi Ranunah daerah antara Quba dan Madinah, turunlah ayat untuk memerintahkan Rasulullah saw melaksanakan shalat jum’at, yaitu surah al-Jumu’ah ayat 9, dan Rasulullah saw melaksanakan untuk pertama sekalinya shalat Jum’at bersama dengan keluarga Banu Salim bin Auf dan para sahabat lain, karena daerah tersebut adalah milik keluarga mereka.

Ada perbedaan pendapat lain mengenai tepatnya tanggal kedatangan Rasulullah saw., namun mayoritasnya bersepakat bahwa peristiwa hijrah Rasulullah saw terjadi persis di bulan Rabiul Awal bukan di bulan Muharram. Awal Muharram ketika itu jatuh pada tanggal 15 juli 622 M sedangkan Rasulullah saw., berhijrah menurut pendapat di atas pada Bulan September 622 M.

Hal terpenting bukanlah kita memperdebatkan tentang perbedaan pendapat mengenai kapan sesuungguhnya peristiwa hijrah terjadi, namun bagaimana kita memaknai hijrah Rasulullah saw ini dan mengambil hikmahnya di dalam kehidupan kita ? karena peristiwa hijrah jelas menjadi titik tolak dari perkembangan dakwah Islam hingga memperoleh kejayaannya, bahkan Rasulullah saw mengungkapkan bahwa generasi yang ada bersama beliau adalah generasi terbaik sepanjang masa.

Tentang hakikat hijrah ini Rasulullah saw mengungkapkan di dalam hadisnya : Dari Umar bin Khattab, dia berkata: Rasulullah bersabda: Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya ia akan mendapatkan sesuatu yang diniatkannya, barang siapa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa hijrahnya untuk memperoleh dunia atau seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya. (HR Bukhari dan Muslim).

Imam Ibnu al-Qoyyim di dalam kitabnya Risalah Tabukiyah membagi hijrah menjadi 2 macam. Pertama, hijrah dengan hati menuju Allah dan Rasul-Nya. Hijrah ini hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap orang di setiap waktu. Macam yang kedua yaitu hijrah dengan badan dari negeri kafir menuju negeri Islam atau dari lingkungan yang tidak baik penuh kemaksiatan menuju lingkungan yang nyaman, tenteram dan mendukung untuk melakukan amal saleh dan kebajikan.

Dengan keterangan hadis dan penjelasan Ibnu al-Qoyyim di atas inti yang ingin kita petik adalah bahwa saat kita berniat untuk hijrah, menjadi pribadi yang  yang lebih dan shaleh, maka dorongan utamanya adalah dalam rangka dan hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah swt., dan Rasul-Nya, bukan selainnya. Kehijrahan yang seperti inilah yang mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah swt dan hal semacam inilah hakikat sejatinya berhijrah. Jika dorongan  kita berhijrah adalah demi untuk mendapatkan kepentingan dan kesenangan dunia atau seorang gadis yang kita cintai, maka makna hijrah yang kita lakukan menjadi hampa dan kosong, meskipun kita mendapatkannya, tetapi kita tidak mendapatkan keridhaan Allah swt., dan kehidupan kita menjadi tidak berkah.

Misal seorang pemuda yang berubah jauh lebih baik adalah motivasi utamanya adalah dalam rangka mendapatkan seorang gadis agar dapat dijadikannya isteri, boleh jadi gadis tersebut akan didapatkannya. Tapi di dalam kehidupan rumah tangganya menjadi tidak bahagia, karena karena motivasi utamanya adalah demi mendapatkan gadis tersebut, setelah didapatkannya maka proses berhijrahnya pun menjadi terhenti dan dia kembali kepada kehidupannya semula dalam keadaan dan lingkungan yang tidak baik. Namun jika proses hijrah nya karena termotivasi karena agama dan memang ingin menjadi lebih baik karena ingin mendapatkan keridhaan Allah swt., maka bisa jadi karena ketaatannya tersebut, bukan hanya gadis yang dicintainya dapat dipersuntingnya menjadi isteri, bahkan mungkin saja gadis yang jauh lebih baik dari gadis tersebut akan diberikan Allah swt untuk dirinya, yang akan mendampinginya di dalam kehidupan dunia ini, membangun kehidupan rumah tangga sesuai dengan naungan syariah yang digariskan Allah swt. Kehidupan rumah tangganya bahagia dan berkecukupan, mendapatkan keridhaan Allah swt dan saat meninggal dunia mendapatkan surgaNya.

Tidak ada hijrah jika tidak mengarah kepada kebaikan. Tidak ada hijrah kalau niatnya bukan lah untuk mencari ridho Allah swt. “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S An-Nisa’: 100) (*)

Penulis: Dosen UIN Sumatera Utara dan Pengurus MUI Kota Medan bidang Hukum dan Perundangan