Makna Keberkahan

  • Whatsapp

Oleh : Heri Firmansyah

Di dalam kamus Bahasa Arab berkah, keberkahan, kebaikan dan kemakmuran. Imam Ghazali mengungkapkan bahwa berkah adalah bertambahnya kebaikan pada diri seseorang, dan Kebaikan itu tetap terus berlangsung selama orang tersebut hidup. Orang yang bertambah hartanya belum tentu berkah, jika harta tersebut tidak mendatangkan kebaikan pada seseorang. Orang yang berusia panjang belum tentu berkah kehidupannya, jika masa usianya tidak dia pergunakan untuk banyak melakukan amal kebajikan, dan pekerjaan yang didapatkannya tidaklah berkah, jika pekerjaan tersebut tidak dia gunakan untuk banyak melakukan kebaikan dan kebermanfaatan bagi orang lain. Orang yang berilmu tidaklah mendapatkan keberkahan, jikalau ilmu tersebut tidak membawanya menjadi orang yang shaleh dan banyak melakukan kebermanfaatan kepada orang lain. Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang paling banyak kebermanfaatannya bagi orang lain”. Orang yang dilimpahi keberkahan adalah orang yang semakin bertambah umurnya dan semakin pula meningkat keimanan dan amal shalehnya.

Baca Juga:

Kekayaan harta yang melimpah namun tidak berkah karena tidak membuat orang yang memilikinya memiliki keimanan, kesyukuran dan ketaatan kepada Allah swt dan akhirnya dibinasakan adalah seperti kisah Qarun di dalam Alquran:

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka (Al-Qashash (28) : 78).

Begitu banyak hartanya hingga kunci gudang harta, emas dan uangnya harus dibawa oleh unta. Namun harta tersebut bukanlah membuatnya taat kepada Allah swt dan melakukan amal kebajikan  untuk membantu orang lain, bahkan justru menyebabkannya sombong dan kufur atas nikmat dan rejeki dari Allah swt. Menganggap bahwa harta tersebut adalah murni dari hasil usahanya sendiri dan dari kejeniusan ilmu perniagaan dan bisnisnya. Maka Allah swt pun membinasakannya.

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (al-Qashash (28): 81).

Negeri yang berkah adalah negeri yang subur, melimpah ruah hasil panennya dan memiliki kecukupan air dan dengan itu semua para penghuninya bertambah keimanan dan kesyukurannya kepada Allah swt. Alquran dalam surah saba ayat 15 mengistilahkannya sebagai Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur negeri makmur dan penuh pengampunan dari Allah swt. Ayat ini berbicara tentang negeri saba yang diberikan kenikmatan, rejeki dan kemakmuran oleh Allah swt. Sehingga ada mufassir mengungkapkan sangking suburnya kebunnya, menumbuhkan pepohonan yang menghasilkan buah begitu banyak sehingga para wanitanya di saat memanen cukup meletakkan keranjangnya diatas kepala, lalu berjalan kearah kebun dan pepohonan dan keranjang tersebut telah berisi penuh dengan buah-buahan tanpa perlu memetiknya. Namun karena mereka berpaling dari keimanan kepada Allah swt dan melakukan kekufuran terhadapNya, maka kebun-kebun yang subur tersebut dibinasakan oleh Allah swt. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (Surah Saba : 16-17).

Karena itu keimanan dan kesalehan individu akan sejalan dengan kemakmuran dan keberkahan suatu negeri. Jika para penduduknya beriman dan bertaqwa kepada Allah swt, maka negeri tersebut akan diberikan keberkahan dan rejeki yang melimpah dari langit dan bumi. Sebaliknya jika para penduduknya ingkar dan kufur, maka bencana dan musibah akan datang silih berganti.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.( Surah al-A’raf (7): 96).

Penulis: Dosen UIN SU Medan dan Pengurus MUI Kota Medan

 

 

 

Pos terkait