Sifat Mulia Sang Rasul

  • Whatsapp

Oleh : Heri Firmansyah, M.A

Dosen UIN Sumatera Utara dan Pengurus MUI Kota Medan Komisi Hukum dan Perundangan

Baca Juga:

 

Kecintaan kita kepada Rasulullah saw adalah merupakan salah satu pondasi dan syarat keberimanan kepada Allah swt. Rasulullah saw mengungkapkan dalam salah satu hadisnya “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai aku dicintainya melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya dan seluruh manusia”. Sebagai orang beriman kecintaan kepada Rasulullah saw haruslah menempati posisi tertinggi dan utama, sehingga mengalahkan kecintaan kepada siapapun yang ada di dunia. Untuk sampai pada tahap itu pertama sekali yang harus kita lakukan adalah mengenal kepribadian dan sifat-sifat yang mulia dari sang Rasul, sehingga layak untuk kita cintai dan dijadikan qudwah hasanah di dalam kehidupan.

Allah swt berfirman di dalam surah At-Taubah [09] ayat 133: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Dalam menafsirkan penggalan ayat “Rasulun min anfusikum” seorang Rasul dari kaummu sendiri, mufassir menyampaikan seperti yang tertuang dalam tafsir Ibnu Kasir bahwa hal ini menunjukkan pada dua hal yaitu kesucian dan kemuliaan nasab Rasulullah saw. kesucian ini bermakna bahwa budaya dan tradisi jahiliyah tidak pernah masuk dalam nasab kelahiran Raulullah saw, seluruh nasab keturunan beliau dari Nabi Adam suci dan berasal dari pernikahan yang syah dan mulia dan tidak ada pernah terjadinya perzinahan. Rasulullah saw bersabda: “Aku lahir dari hasil pernikahan yang sah, dan tidak dilahirkan dari hasil hubungan perzinahan. Kemuliaan nasab Rasulullah saw adalah berasal dari semulia-mulianya keturunan dan suku pilihan yang sangat dihormati dan menduduki kedudukan paling tertinggi yang amat terkenal di kalangan bangsa Arab. Bersabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah telah memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih suku Quraisy dari Bani Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy, dan Allah telah memilihku dari Bani Hasyim.” (Riwayat Muslim dan at-Tirmidzi dari Wasilah bin Asqa).

Di antara sifat kemuliaan yang digambarkan Alquran terhadap diri Rasulullah saw adalah: pertama, Rasulullah saw., merasa tidak senang jika umatnya ditimpa kesusahan dan kesulitan di dalam kehidupannya. Apa yang menjadi penderitaan umatnya merupakan penderitaan bagi kehidupan sang Rasul, sehingga di dalam akhir kehidupannya, apa yang selalu disebutnya adalah “umatku..umatku’’. Rasulullah saw tentu dapat menerawang masa depan dan diberikan berita nubuwwah akan terjadinya kesusahan pada umatnya dan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, seperti dihina, dijajah, diperbudak dan lain sebagainya oleh musuh-musuh kaum Muslimin, hal inilah yang memberatkan bagi kehidupannya dan yang senantiasa membiatnya gusar. Sebagaimana beliau juga merasa gusar dan tidak senang pula melihat dan mengetahui bahwa ada pada sebagian umatnya ditimpa azab yang pedih di akhirat nanti.

Sifat yang kedua adalah bahwa Rasulullah saw amat sangat menginginkan bahwa umatnya mendapatkan kebaikan, taufik, hidayah dan keimanan dari  dari Allah. Sehingga, menurut Quraisy Shihab diungkapkan dalam sebuah riwayat bahwa saat ditanya oleh Allah swt tentang kegusaran kekasih-Nya, maka Rasul saw pun menjawab kegusaranku akan hilang jika aku tahu bahwa umatku seluruhnya mendapatkan kebaikan dan terjamin masuk ke dalam Surga-Nya. Hal ini seperti yang tertuang di dalam Alquran surah Yusuf [12]: 103: Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya. Dalam ayat yang lain, surah an-Nahl/16: diungkapkan “Jika engkau (Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan mereka tidak mempunyai penolong.

Sifat mulia yang ketiga pada diri Rasulullah saw adalah digambarkan di dalam Alquran bahwa Rasulullah saw memiliki sifat “rauf” amat pengasih dan “rahim” penyayang. Kedua sifat yang digambarkan Alquran ini juga merupakan sifat Allah sendiri, yang termasuk di antara “asmaul husna”. Quraish Shihab di dalam menafsirkan ayat ini mengungkapkan sifat rahim seakar kata dengan “rahmah”. Saat kita melihat orang yang lagi kesusahan misalnya ada anak yatim yang sedang terbaring sakit sementara ibunya tidak memiliki uang untuk membawanya ke dokter, maka hati kita terenyuh dan menjadi sakit, tapi kita tidak ada usaha untuk membantunya, itu berarti kita tidak mempunyai sifat rahmah. Orang yang rahim yang berarti memiliki sifat rahmah adalah di saat hatinya sakit melihat penderitaan orang lain, lalu berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mengatasi kesulitan dan penderitaan orang tersebut. Jika kebutuhan biaya pengobatannya misalnya dua ratus ribu, maka dia memberikan uang dua ratus ribu tersebut agar anak yatim tersebut dapat berobat ke dokter dan segera sembuh dari penyakitnya. Jika ini yang dilakukkannya maka dia disebut rahim yang memiliki sifat rahmah bagi sesamanya. Ke rahim -an Rasulullah saw bukan hanya kepada manusia tapi kepada semesta alam. Rasulullah saw menyatakan “aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah swt untuk sekalian manusia dan alam)” di dalam Alquran dinyatakan “Dan kami tidak mengutus engkat (Muhammad saw), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (Q.S. Al-Anbiya [21] : 107).

Quraish Shihab melanjutkan bahwa sifat rauf seakar kata dengan ra’fah. Yaitu lebih pengasih dari sifat rahmah. Jika untuk mengatasi kesulitan dan penderitaan seseorang seperti ilusttasi di atas dia membutuhkan dana dua ratus ribu, namun karena dia memiliki kesanggupan memberikan uangnya berlebih sejumlah lima ratus ribu misalnya, maka sang pemberi disebut bersifat rauf.

Kedua sifat pengasih ini disematkan Allah swt kepada Rasulullah saw., dan satu-satunya nabi yang diberikan kedua sifat tersebut untuk menggambarkan bahwa Rasulullah saw benar-benar utusannya yang sangat dimuliakan-Nya. Hal ini juga menggambarkan betapa agung dan mulianya jiwa, sifat dan kepribadiaan Rasulullah saw. Beliau bukan hanya memikirkan dirinya, tapi terutama memikirkan kemashlahatan dan kebahagiaan umatnya.

Allahumma shalli ala sayyidina, wa nabiyyina wa habibina Muhammad saw., semoga kita dapat bersama, bertemu dan berkumpul bersama beliau di surga Allah swt. Aamiin ya rabbal a’alamiin.

 

 

Pos terkait