Aku Nabi yang Hamba Sahaya

  • Whatsapp

Oleh Sholahuddin Ashani, S.Fil.I., M.S.I.

Dosen Ilmu Tafsir Fak. Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara

Beberapa pekan belakangan, umat Islam di seluruh dunia mendapati fenomena yang sedikit mengganggu ruang keberagamaannya – akan tetapi tentunyu tidak mempengaruhi sedikitpun ruang keyakinan. Fenonema itu berupa penghinaan atau pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw dalam wujud karikatur, dimana ilustrasi Nabi Muhammad dalam bentuk gambar dan semisalnya merupakan hal yang tabu dan terlarang bagi umat Islam. Namun, sepertinya kepantangan untuk mengilustrasikan Nabi Muhammad hanya berlaku berlaku bagi pemeluk agama Islam semata, dan tidak pula berlaku pada pemeluk agama atau keyakinan lain. Konsepsi ini kemudian mengilhami seorang oknum guru di Negara Prancis yang kemudian mengangkat balik ilustrasi Nabi Muhammad dalam membantu dirinya mengajar. Sesungguhnya profesi yang diembannya sangat mulia, dia adalah seorang guru. Mata pelajaran yang diasuhnya juga bersahaja, yaitu kewarganegaraan. Objek kajian yang disampaikan juga sangat tepat, yaitu kebebasan berpendapat. Akan tetapi, media atau alat bantu ajar yang dipergunakan melunturkan barisan kemulian yang tersemat baik pada profesinya, mata pelajaran dan objek kajian yang dihamparkan. Sehingga, menyebabkan dirinya menerima kemarahan seorang pemuda muslim dan kemudian berujung pada kematiannya.

Selepas pembunuhan terhadap dirinya dan ditambah dengan kematian yang juga terjadi pada pembunuhnya. Ruang argumentasi publik tidak seketika langsung tertutup – the case is not closed yet. Namun sebaliknya, semakin terbuka lebar dan melibatkan banyaknya manusia yang hidup di luar negara Prancis. Sejatinya warga negara dunia, khususnya umat Islam tidak turut campur dalam proses hukum di Prancis terkait penyelesaian masalah kriminal yang telah terjadi. Umat Islam ditarik untuk bereaksi lebih keras ketika Presiden Prancis, Immanuel Macron turun tangan dalam kasus yang terjadi. Dia memberikan pujian yang tinggi dan gelar baik bagi oknum guru, dengan sebutan sebagai seorang martyr – pejuang syahid dalam dunia demokrasi. Sampai di sini, sikapnya tidak menjadi masalah yang berarti bagi umat Islam, karena merupakan hal wajar apabila seorang presiden membantu meringankan duka sekaligus gejolak shock bagi rakyatnya. Akan tetapi ungkapan selanjutnya yang menyulut kemarahan umat Islam. Bukan permintaan maaf yang disampaikan, akan tetapi ungkapan yang mendeskriditkan umat Islam yang terlontar dari mulutnya. Dia menilai bahwa umat Islam yang salah dan telah terjadi krisis di dalam tubuh umat Islam.

Sontak, umat Islam tersulut amarahnya dan bereaksi. Nabi Muhammad yang menjadi puncak cinta di kalangan seluruh insan Islam baru saja dihinakan, disusul lagi dengan menghinakan segenap insan yang dicintai Nabi Muhammad, yaitu umat Islam. Reaksi yang muncul pun beragam dari gelombang demonstrasi, kecaman pemimpin-pemimpin negara, hingga pemboikotan beli terhadap beberapa merk dagang yang berasal dari Negara Prancis. Tulisan ini tidak ingin terlibat dalam polemik gangguan keberagamaan yang berlangsung, akan tetapi tulisan ini ingin menegaskan bahwa tiada hinaan atau pelecehan terhadap Nabi Muhammad yang dapat mereduksi kebersahajaan dan kemulian yang dimilikinya.

Seorang alim yang bernama Ibn Rajab al-Hambali, bermazhab fiqh Hambali beraqidah as’ariyyah menuliskan sebuah hadis di dalam bukunya yang berjudul al-Khusu’ fi ash-Shalah. Hakikatnya, Buku ini membahas tentang khusu’ di dalam sholat, keutamaanya, tanda-tandanya dan cara mencapainya. Akan tetapi, pada satu bab di halaman 99 sampai dengan halaman 101, dia menulis sebuah hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah r.a. dan ‘Aisyah r.a. Hadis ini dalam penilaiannya adalah hadis sahih dan didukung oleh beberapa matan hadis yang bertema sama dengan kualitas hasan. Beberapa imam hadis yang meriwayatkan adalah Ahmad, Ibn Hibban, Abu Ya’la, Ibn Abi ad-Dunya, al-Bazzar, Ibn Sa’ad, dan lainnya. Sehingga kemudian, dia secara yakin mengatakan bahwa hadis ini shahih.

Hadis tersebut menyampaikan bahwa suatu saat ketika Rasulullah sedang duduk bersama dengan Jibril. Tiba-tiba, seorang tamu datang dan langsung berjalan menuju kepada Rasulullah. Terlihat wajah terkejut bahkan nyaris ketakutan tergambar di wajah Jibril ketika tamu tersebut datang. Tamu itu kemudian menyapa Rasulullah dan bertanya: “wahai Muhammad! Tuhanku mengutusku kepadamu dan Dia memberikan salam-Nya untukmu. Dia berkata: “manakah yang engkau pilih, apakah menjadi seorang Nabi yang raja atau menjadi Nabi yang hamba sahaya? Sesaat Rasulullah memandang kepada Jibril seakan meminta pendapatnya. Jibril tidak memberikan jawaban hanya mengisyaratkan jawablah sesuai keinginanmu wahai Muhammad. Selanjutnya, Rasulullah memandang kembali tamu itu dan menjawab dengan tegas: “Nabi yang hamba sahaya”. Tamu itu kemudian pergi dari hadapan Nabi Muhammad saw.

Selepas kepergiannya –sebagaimana syarh yang dikemukakan untuk hadis ini, Jibril berkata: “bahwa tamu yang datang tadi adalah makhluk yang semenjak diciptakan Allah swt hanya memiliki satu tugas saja, yaitu mendatangkan hari kiamat, dia adalah malaikat Israfil”. Tentunya, menjadi wajar bagi Jibril untuk terkejut bahkan nyaris ketakutan meskipun dia adalah pemimpin para malaikat yang tentunya tidak ada makhluk di alam semesta ini yang ditakutinya. Jibril merasa terkejut dan takut, karena ketika Israfil datang, dia mengira bahwa Allah telah memutuskan untuk mendatangkan hari kiamat, dimana seluruh kehidupan fana akan berakhir. Bahkan hidup yang dimiliki Jibril juga akan berakhir. Sekelebat prasangka inilah yang membuat Jibril terkejut dan nyaris takut.

Jibril kemudian menambahkan, akan tetapi ketika dia mengajukan pertanyaan kepada Nabi Muhammad, aku memahami mengapa Israfil yang diutus Allah untuk mengajukan pertanyaan tadi. Mengajukan pertanyaan yang meminta Nabi Muhammad saw untuk memilih menjadi nabi yang raja atau nabi yang hamba sahaya adalah tugas yang sangat berat bagi seluruh malaikat. Tidak ada satu pun dari bangsa malaikat yang berani mengajukan pertanyaan tersebut, maka menjadi wajar kalau Allah kemudian memerintahkan Israfil untuk menyelesaikan misi tersebut. Israfil sejatinya hanya memiliki tugas mendatangkan hari kiamat, akan tetapi pertanyaan untuk Nabi Muhammad itu sama bahkan bisa jadi lebih berat daripada mendatangkan hari kiamat.

Ibrah yang dapat diserap dari hadis di atas adalah; a) begitu besar dan agung posisi Nabi Muhammad di sisi Allah swt, dia adalah manusia terpilih yang menjadi kekasih-Nya. Para malaikat mengetahui secara haqqul yaqin realitas ini. b) seluruh alam semesta telah ditundukkan dan diserahkan kepada Nabi Muhammad, dimana dia bisa saja berlaku layaknya Nabi Sulaiman as. bahkan lebih, namun dia menolak dunia dan lebih memilih Allah di atas segala makhluk lainnya. c) betapa agung dan indahnya kerendahan hati Nabi Muhammad, dia dengan ikhlas tanpa sandiwara memilih menjadi manusia layaknya seperti manusia pada umumnya yang kerap bersentuhan dengan rasa sakit dan derita duniawi. d) betapa luasnya hatinya, sehingga tidak ada keluhan yang keluar dari dirinya ketika sedari kecil menjadi yatim piatu, bekerja secara mandiri di kala remaja, sehingga diakui integritasnya oleh segenap penduduk Makkah. e) begitu lembut kesabarannya, mengarahkan umat manusia untuk bertauhid secara murni dan tak berhenti menanti mereka untuk menyaksikan bahwa Allah merupakan realitas Tuhan semata.

Tidaklah cukup ruang untuk mengurai seluruh kebaikan dan kemulian yang dimiliki oleh Nabi Muhammad, bahkan ‘Aisyah menambahkan setelah hadis itu berlangsung, Nabi Muhammad tidak pernah makan dengan cara berbaring atau bersandar jumawa layaknya para raja-raja dunia. Penghinaan dan pelecehan memang kerap terjadi dan ditujukan kepada Rasulullah, akan tetapi tidak sedikitpun mereduksi kemulian dan keagungan Rasulullah saw. Mari bersama kita buka setiap lembar akhlak Rasulullah (sirah nabawiyah) dan sekaligus kita integrasikan ke dalam diri kita masing-masing, Allahu a’lam.