Demokrasi Dalam Perspektif Islam

  • Whatsapp

Oleh : Heri Firmansyah, M.A.

Demokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘demos’ yang artinya adalah rakyat dan ‘kratos’ yang artinya adalah kekuasaan atau pemerintahan. Demokrasi dimaknai sebagai kekuasaan yang berasal dari rakyat. Demokrasi adalah sistem pemerintahan di mana hukum, kebijakan, kepemimpinan, dan praktek-praktek kenegaraan dari suatu negara dan pemerintahan secara langsung atau tidak langsung diputuskan oleh rakyat. Abraham Lincoln, Presiden pertama Amerika mendefenisikan demokrasi sebagai pemerintahan yang berasal dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.

Sejarah demokrasi berasal dari sistem yang berlaku di negara-negara kota (city state) Yunani Kuno pada  abad  ke  6  sampai  dengan  ke  3  sebelum  masehi. Perkembangan di zaman modern berkembang pesat awalnya dari dari dunia Barat setelah era renaisance. Muncul dan tumbuh pada sekitar abad ke-17 dan 18.  Selama abad pertengahan Barat menderita pengalaman pahit dibawah raja-raja yang absolut. Sikap absolut dan kesewenangan ini tak jarang didukung oleh kaum ‘agamawan’, sebagaimana Raja-raja juga menjadikan mereka sebagai perpanjangan tangan kekuasaannya. Kaum ‘agamawan’ memaksakan diri sebagai penafsir tunggal bukan hanya agama tetapi juga masuk dalam ranah kekuasan, politik, sosial budaya dan ilmu pengetahuan.

Mak tak ayal terjadilah pertentangan terhadap agama yang lambat laun menimbulkan sikap sekulerisme masyarakat Barat, di mana agama dipisahkan dari urusan dunia seperti politik dan kekuasaan.Sekularisme berasal dari traumatik bangsa Barat terhadap kaum agamawan yang bekerjasama dengan raja-raja, yang membawa-bawa agama dalam mengurusi dan mencampuri urusan politik, kekuasaan, sosial, budaya dan keilmuan pada abad pertengahan, yang banyak bertentangan dengan masyarakat karena kesewenang-wenangann kekuasaan menyebabkan penderitaan rakyat dan banyak bertentangan dengan kebenaran ilmu pengetahun. Kondisi ini menyebabkan banyak masyarakat Barat yang mempercayai bahwa manusialah yang berhak menentukan kehidupan mereka, tanpa boleh dicampuri oleh agama -dalam hal ini seperti agama yang dianut oleh mayoritas orang Barat. Inilah penyebab sekularisme mengakar, tumbuh dan berkembang dalam duniat Barat. Dalam suasana seperti inilah Demokrasi muncul dan berkembang di sana.

Jadi demokrasi merupakan salah satu produk dari pertentangan orang-orang Barat terhadap agama. Karenanya menurut Muhammad Iqbal, pakar fiqh siyasah dari UIN SU medan menyatakan bahwa demokrasi tidak terlepas dari bias kehidupan Barat pasca-renaisance yang sekular. Sampai-sampai al-Maududi dalam bukunya the political theory of Islam menyebutkan bahwa bahwa demokrasi modern merupakan sesuatu yang bersifat syirik. Meskipun dianggap penilaian ini kurang proporsional dan amat berlebihan.

Tokoh lain yang mengecam demokrasi adalah Iqbal, ilmuan India -yang mendorong pendirian negara Pakistan, baginya parlemen yang merupakan salah satu pilar demokrasi dapat saja mengesahkan sebuah peraturan atau undang-undang yang bertentangan dengan nilai-nilai agama jika mayoritas anggotanya menghendaki, seperti misalnya pernikahan sejenis seperti homosek dan lesbian. Karenanya dia mengajukan konsep ‘demokrasi spiritual’ yang melandasi demokrasi dengan nilai-nilai moralitas dan agama. Jadi yang ditolak Iqbal bukan demokrasi an sich, tetapi perkembangannya yang terjadi di dunia Barat.

Hal ini berdasarkan pengamatannya bahwa demokrasi Barat dapat dijadikan alat melakukan ekploitasi kepada manusia dan pemerintah yang berkuasa di bawah pengaruh kuat demokrasi melakukan penindasan dan ketidakadilan dengan bekerjasama dengan kaum kapitalis.  Baginya konsep demokrasi yang dapat disejajarkan dengan syura dalam Islam memiliki beberapa prinsip: pertama, tauhid sebagai landasan hakiki; kedua, kepatuhan kepada hukum; ketiga, toleransi sesama manusia; keempat, demokrasi Islam tidak dibatasi oleh wilayah geografis, ras, warna kulit atau bahasa; kelima, penafsiran hukum Tuhan harus dilakukan melalui ijtihad.