Tiga Pesan dari Surat Al-Baqarah 183

  • Whatsapp
DR. Ali Murtadho, M.Hum.

analisamedan.com – Bulan Ramadan telah meninggalkan kita. Namun, nilai-nilai Ramadan harus tetap kita lestarikan, kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, hingga akhirnya bertemu kembali dengan Ramadan 1442 H yang akan datang.

Dalam tulisan yang sederhana ini saya mencoba mengkaji keberadaan surat Al-Baqarah 183. Surat Al-Baqarah 183 ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam bulan Ramadan, karena menjadi dalil puasa (shiyam) yang selalu diungkapkan oleh para ustaz. Ayat itu berbunyi: Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum la’allakum tattaqụn (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).

Baca Juga:

Paling tidak dalam ayat ini ada tiga pesan strategis yang hendak dipesankan Allah Subhanahu wa ta’ala (SWT) kepada kita. Apa itu? Pertama: Tentulah berkaitan dengan kewajiban melaksanakan ibadah shiyam (puasa) di bulan Ramadan. Alhamdulillah, kita telah melaksanakan perintah Allah Swt itu, dengan kondisi plus dan minusnya. Inilah yang disebut melaksanakan perintah Allah Swt secara syariat, namun apakah shiyam  itu harus berhenti setelah Ramadan meninggalkan kita? Ini yang coba dikaji.

Makna shiyam (puasa) secara etimologi selain bermakna puasa juga di dalam Kamus Bahasa Arab disamakan dengan al-imsak artinya menahan diri atau mengendalikan diri.  Allah Swt memerintahkan kita untuk melaksanakan shiyam  atau al-imsak dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dan menahan segala apa yang membatalkan puasa tersebut. Inilah yang dipahami secara fiqh.

Lalu kenapa Allah Swt memerintahkan kita untuk shiyam atau al-imsak? Ternyata manusia memiliki potensi untuk menjadi serakah atau tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Lihat saja, diri kita, apakah kita merasa puas dengan apa yang Allah berikan? Mulai dari jabatan, harta sampai hal-hal kecil lainnya? Tidak! Hanya orang-orang yang memiliki jiwa qonaah sajalah ikhlas dengan apa yang Allah Swt berikan kepadanya. Kalau begitu apa itu qonaan? Qanaah ialah sikap rela menerima atau merasa cukup dengan apa yang didapat serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kekurangan yang berlebih-lebihan.

Rata-rata kita meninggalkan sifat ini, makanya tidak heran jika kita melihat ada orang yang memiliki harta berlebih-lebih. Mempunyai satu mobil baginya tidaklah cukup, maka di grasi rumahnya berjejer puluhan mobil, padahal belum tentu semua mobil itu ia pakai.

Potensi keserakahan manusia ini, sebenarnya sudah muncul di saat Nabi Adam alaihi salam dan isterinya berada di Surga. Ini bisa kita baca di dalam surat Al-Baqarah ayat 35: Wa qulnā yā ādamuskun anta wa zaujukal-jannata wa kulā min-hā ragadan ḥaiṡu syi`tumā wa lā taqrabā hāżihisy-syajarata fa takụnā minaẓ-ẓālimīn (Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim).

Dalam ayat ini, Allah Swt memberikan fasilitas yang luar biasa kepada Nabi Adam dan isterinya Hawa, berupa makanan-makanan yang baik. Allah Swt hanya melarang mereka untuk tidak mendekati satu pohon saja, tetapi apa yang terjadi, larangan itu mereka langgar bahkan tidak hanya mendekati mereka memakan pohon larangan itu. Inilah yang kita sebut potensi ‘keserakahan’. Boleh jadi Nabi Adam dan isterinya, tidak serakah, tetapi karena godaan dari Iblis yang membuat mereka akhirnya timbul keinginan untuk ‘serakah’ sehingga larangan Allah Swt mereka langgar.

Nah, itulah yang terjadi pada manusia sekarang ini. Banyak di antara kita yang ‘serakah’ dengan dunia ini, sehingga mereka lupa bahwa harta, jabatan dan pangkat yang di sandang hari ini tidak kekal dan harus ditinggalkan. Karena itulah, Allah Swt menyuruh kita untuk shiyam atau puasa. Dan itu sudah kita lakukan di bulan Ramadan kemarin, tetapi apakah berhenti hanya pada bulan Ramadan saja? Pada hakikatnya tidak demikian, karena shiyam juga bermakna al-Imsak, maka setelah Ramadan-pun kita diperintahkan Allah Swt untuk menahan diri, mengendalikan diri dari segala godaan dunia ini, apakah itu dalam bentuk harta, jabatan, pangkat dan sebagainya.

Inilah, pesan pertama yang bisa kita jadikan ngaji diri atau cermin dalam kehidupan kita. Ingat Allah Swt berfirman dalam surat at-takāṡur : al-hākumut-takāṡur (Bermegah-megahan telah melalaikan kamu) ḥattā zurtumul-maqābir (sampai kamu masuk ke dalam kubur).

Kita biasanya menyesal kalau sudah berada di dalam kubur, namun saat kita berada di atas kubur atau bumi Allah ini, maka kita lupa hal itu, sehingga akhirnya kita sibuk mengejar kemegahan dunia.

Pesan kedua dari Al-Baqarah 183 adalah: berkenaan dengan kesadaran masa lalu. Allah Swt menjelaskan kepada kita bahwa shiyam itu, bukan hanya diwajibkan untuk umat Muhammad Saw saja, tetapi juga diwajibkan untuk umat-umat sebelumnya. Kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum (sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu). Kalau kita mencoba mendalami ayat ini secara lebih mendalam, selain masalah shiyam, Allah juga memberi semacam pemahaman kepada kita bahwa jangan lupakan sejarah masa lalu.

Masa lalu, merupakan proses menuju masa sekarang, dan masa sekarang adalah bagian dari proses dari masa yang akan datang. Kita tidak hadir dengan sendirinya, ada suatu proses yang dialami setiap individu maupun secara kolektif. Nah semuanya itu mencoba menyadarkan kita bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, harus tetap dijadikan pelajaran dalam menjalani hidup di masa sekarang. Maka orang yang memahami hal ini, dia tidak merasa bahwa apa yang terjadi sekarang ini muncul begitu saja, tentu ada suatu proses atau skenario yang terjadi. Karena itulah, di dalam Alquran banyak kita baca kisah-kisah orang-orang maupun kaum yang hidup di masa lalu. Kenapa hal itu Allah abadikan di dalam Alquran? Agar kita memahami makna hidup yang kita jalani ini. Ada orang yang sukses dalam hidupnya tetapi ada juga yang tidak sukses, ada kaum yang selalu bersyukur kepada Allah, tetapi ada juga kaum yang ingkar kepada Allah Swt.

Masa lalu, harus menjadi cermin untuk masa sekarang dan akan datang, hal ini agar kita selamat dalam menjalani hidup dan kehidupan kita. Itulah yang bisa diambil dari pesan yang kedua ini.

Pesan yang ketiga dari Albaqarah 183 ini adalah: kesadaran akan masa depan. Dari mana pesan ini diambil dari kalimat: la’allakum tattaqụn (agar kamu bertakwa). Kalau kita membuka referensi tentang makna la’ala ini bisa sangat lebar pembahasannya, namun secara sederhana saya ingin mengungkapkan bahwa biasanya, dalam terjemahan yang kita kenal, kata la’alla dialihbahasakan menjadi “semoga”, “supaya” atau “agar” saja, tanpa tambahan keterangan lain. Secara bahasa, pengertian ini tepat, yaitu sesuai dengan makna ‘asaa (semoga) dan kay (agar, supaya). Namun karena konteks la’allakum tattaqun merupakan pernyataan eksplisit dari Allah tentang sesuatu hal, maka mempergunakan makna lughawi semata akan menghilangkan aspek tahqiq (pemastian) yang ada di dalamnya. Jadi, semestinya tahqiq ini tidak boleh dilupakan.

Dengan demikian, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Atsir, kalimat la’allakum tattaqun kurang tepat jika diterjemahkan “supaya kalian…” saja. Seharusnya, begini: “supaya kalian pasti…”, atau kalimat lain yang maknanya senada. Konsekuensi selanjutnya adalah: ayat-ayat yang memuat frase ini sesungguhnya merupakan resep yang diberikan oleh Allah, bagaimana supaya kita bisa bertakwa, secara pasti. Singkatnya, jika kita mematuhi resep yang diungkap di dalam ayat yang bersangkutan, atau di dalam ayat-ayat yang sebelum dan sesudahnya, maka Allah menjamin kita pasti menjadi orang bertakwa.

Perlu diingat ayat-ayat yang memuat frase la’allakum tattaqun diatas. Seluruhnya didahului dengan perintah, larangan atau informasi tentang suatu amal tertentu yang harus dilakukan seorang muslim agar dia bisa memastikan dirinya mendapatkan jaminan perlindungan dari Allah ta’ala. Ayat-ayat ini meminta kita untuk aktif beramal, yakni melaksanakan isi kandungannya, bukannya merasa takut, diam, pasif. Semangat beramal demi meraih kepastian perlindungan Allah inilah yang menjayakan generasi Salaf, bukannya ketakutan dan kepasifan. Benar mereka memang sangat takut kepada Allah, tetapi justru rasa takut itulah yang mendorong mereka beramal sebanyak-banyaknya. Dengan takut itu mereka sangat berhati-hati dan tidak sembrono, tetapi sekaligus tidak berhenti berbuat dan berprestasi. Jika ada kesalahan, mereka memang tidak pernah menganggapnya remeh, namun mereka pun tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya.

Jadi kesadaran masa depan kita adalah harus menjadi orang yang bertakwa. Shiyam sudah kita lakukan, namun apakah kita menjadi orang-orang yang bertakwa? Kita berharap demikian, namun jika ‘tidak’ maka ada yang salah di dalam diri kita, karena itu kita harus berintrospeksi diri. Bisa saja shiyam yang kita lakukan selama ini hanya semacam rutinitas semata atau semacam beban yang harus kita pikul. Kita tidak melakukannya karena lillahi ta’ala.  Yang jelas, jika kita mampu mencapai predikat orang yang bertakwa tersebut tentulah inilah hal yang sangat menggembirakan, karena kita menjadi orang yang ‘mulia’ di sisi Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya di dalam surat Al-Hujarat ayat 13: …inna akramakum ‘indallāhi atqākum…(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu).

Mudah-mudahan tiga pesan ini mampu kita maknai dalam hidup dan kehidupan kita dalam agar kita menjadi hamba-hamba Allah Swt yang terbaik. Wallahu A’lam Bishawab.

Pos terkait