Memberikan Layanan yang Terbaik dalam Kerja Kita

  • Whatsapp
Kolom Cermin
Cermin

Oleh: Dr. H. Ali Murthado, M.Hum

analisamedan.com.  Layanan yang terbaik apa itu? Pernah tidak ketika kita selesai berbelanja, lalu saat hendak men-starter kendaraan, tiba-tiba muncul tukang parkir yang entah dari mana datangnya. Lalu dia langsung berkata, “Parkirnya bang.” Sementara pada saat kita mencoba memarkirkan kendaraan, dia tidak ada di sana sehingga agak susah memarkirkan kendaraan kita tadi. Tentunya ada rasa kesal, walaupun akhirnya kita memberikan uang parkir yang ia minta itu.

Baca Juga:

Sementara di hari yang lain, saat kita hendak memarkirkan kendaraan, petugas parkir dengan sigap mengatur kendaraan kita agar nyaman diparkirkan. Bahkan saat dia tahu kita membawa barang yang kita beli untuk di masukkan ke kendaraan kita petugas parkir tersebut langsung berkata, “Saya bantu bang membawakannya.” Lalu setelah barang masuk dan kita juga siap-siap untuk meninggalkan tempat tersebut, petugas parkir itu bertanya, “Terus atau belok bang?” maka kita akan menjawab, “Belok bang?”. Lalu ia akan menjawab, “Siap bang.” Mendapat layanan yang terbaik dari petugas parkir tersebut ada perasaan senang, dan saat kita menyodorkan uang Rp5.000, dan sang petugas parkir menyodorkan kembalian uang sebesar Rp2000, karena hati kita senang mendapat pelayanan yang istimewa bisa jadi kita akan mengatakan, “Udah bang, kembaliannya untuk abang aja.”

Pelayanan

Agak berbeda perlakukan kita dengan petugas parkir sebelumnya. Kenapa? Jika pada petugas parkir sebelumnya kita merasa kesal karena tidak mendapatkan ‘pelayanan’ yang terbaik, namun dengan petugas parkir yang kedua kita mendapatkan pelayanan yang sangat maksimal, sehingga kita dengan ikhlas mengeluarkan uang lebih dengan pelayanan yang ia berikan, padahal belum tentu juga ia melakukan hal itu untuk mendapatkan uang lebih.

Contoh di atas profesinya sama yaitu sama-sama petugas parkir, begitu juga dengan uang yang kita berikan, hampir sama nilainya, tetapi pelayanan yang diberikan kedua petugas parkir itu sangat jauh berbeda. Yang satu, hanya pandai meminta uang saja, sementara yang satu memberikan pelayanan yang terbaik, saat ia mengerjakan tugasnya. Itulah yang terjadi dalam keseharian kita. Ada kalanya kita berhadapan dengan orang-orang yang sesungguhnya bekerja di tempat-tempat yang khusus untuk melayani masyarakat, namun ia tidak memberikan pelayanan yang terbaik. Seolah-olah ia bekerja bukan untuk memberikan pelayanan, tetapi bekerja untuk mendapatkan uang.

Kasus Kedua

Dalam kasus kedua ini dialami isteri saya, sekitar 7 tahun yang lalu dan saya tidak tahu apakah hari ini sudah berubah atau belum. Waktu itu isteri saya hendak mengurus KTP di salah satu kelurahan di Kota Medan. Staf kelurahannya, belum apa-apa sudah meminta uang pelayanan. “Maaf bu, kalau satu KTP seratus ribu, karena ada 2 KTP jadi Rp200 ribu,”katanya. Lalu isteri saya berkata, “Lho bukan gratis, kan gratis untuk buat KTP?” Tanya isteri saya.

Staf kelurahan tersebut berkata, “KTPnya gratis, cuma prosesnya yang tidak gratis bu?” Isteri saya tidak bisa berkata apa-apa, lalu dia berkata, “Baiklah, nanti setelah selesai saya akan berikan.” Lalu apa yang terjadi si staf kelurahan itu berkata, “Maaf bu, sekarang aja dibayar, biar nanti kalau KTP-nya sudah selesai bisa langsung diambil.”

Kesal

Mungkin karena geram atau kesal dengan staf kelurahan tersebut, akhirnya isteri menelepon saya dan menceritakan apa yang terjadi. Lalu saya katakan, “Ya sudah ambil berkas-berkasnya tersebut, langsung kita mengurus di kecamatan,”ujar saya.
Singkat cerita, saya langsung menelepon Sekretaris Kecamatan (Sekcam) kebetulan saya mendapat nomor teleponnya dari teman yang bertugas di Pemko Medan. Lalu saya memperkenalkan diri saya bahwa saya redaktur di salah satu media dan menceritakan yang menimpa isteri saya, dan Alhamdulillah, dia mengatakan, “Baik Pak, silakan antar berkas-berkas Bapak tersebut, insha Allah langsung kita proses.” Sebuah jawaban yang membuat hati saya senang karena mendapat pelayanan yang terbaik.

Gratis

Setelah KTP selesai, Sekcam tersebut menelepon saya dan mengatakan bahwa KTP saya dan isteri saya sudah selesai. Lalu saya datang ke sana dan mengambil KTP tersebut. Karena saya puas dengan layanannya saya mengambil uang Rp200 ribuan dan menyerahkan kepadanya, “Ini Pak, sebagai ucapan terimakasih saya.” Namun apa yang terjadi, dia berkata, “Maaf Pak, kalau buat KTP kan gratis, tidak ada setoran kok Pak,”katanya.

Lalu saya berkata, “Kalau ini, saya ikhlas Pak, tetapi kalau Bapak yang meminta apalagi memaksa saya untuk menyetorkan uang tentu saya tidak ikhlas bahkan karena kesal, saya bisa saja mengeksposenya ke media. Hari ini saya mendapatkan pelayanan yang terbaik dari Bapak, jadi, ini tidak ada hubungan dengan gratis atau tidak gratisnya urusan membuat KTP. karena saya ‘senang’ dengan layanan bapak, layanan itulah yang saya apresiasi. Jadi tolong ambil uang saya ini, karena uang ini bukan sogokan, tetapi ucapan terimakasih saya atas pelayanan Bapak,”ujar saya.

Pelayanan

Apa yang terjadi? Kenapa saya marah saat staf kelurahan meminta uang Rp200 ribu kepada isteri saya saat ingin membuat KTP baru, dan saya dengan ikhlas menyerahkan uang Rp200 ribu kepada Sekcam padahal ia tidak memintanya? Jawabannya adalah “pelayanan”.

Setiap kita punya profesi yang berbeda, ada yang jadi guru, dosen, pegawai, dokter dan sebagainya. Jika kita memberikan pelayanan yang terbaik, tentu orang yang kita layani akan senang, bisa saja rasa senang mereka itu mereka memberikan ‘sesuatu’ tanpa kita minta. Sebagian dari mereka ada yang menolaknya, karena menurutnya, itu tugas mereka. Tetapi, kalau mereka melayani dengan baik, santun bahkan tidak pamrih, maka tidak ada salahnya orang yang dibantu tersebut memberi kebahagian kepada orang yang membantunya karena ia telah memberi kebahagian pada diri kita.

Biji Sawi

Di dalam QS Luqman: 16 Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “(Lugman berkata): “Hai anakku, sesunguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkan (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Pelayanan yang terbaik yang dilakukan dengan ikhlas, adalah bentuk amalan baik kita. Jangan takut hal itu tidak dibalas Allah. Jangankan Allah, manusia yang diberi pelayanan yang baik saja pasti akan membalas pelayanan kita tersebut dengan sesuatu yang baik pula, apalagi Allah Subhanahu wa ta’ala. Begitu juga sebaliknya, jika kita memberikan pelayanan yang tidak baik, padahal sebenarnya itu adalah pekerjaannya, maka sama sajalah dia melakukan amal buruk, apalagi ia meminta uang dari pelayanan yang ia berikan tersebut, maka Allah pasti akan memberikan ganjaran yang sesuai dengan amal buruknya itu.

Penutup

Di dalam QS Al-Zalzalah ayat 7-8 Allah mempertegas kembali, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang akan mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Oleh karena itu, berikanlah yang terbaik dalam kerja-kerja yang kita lakukan. Bila orang menghargai ‘pelayanan’ yang kita berikan maka sesungguhnya, malaikat pun sudah mencatat amalan baik kita tersebut, sebaliknya, jika kita tidak memberikan pelayanan yang terbaik dalam kerja-kerja kita, Ingat! Malaikat juga telah mencatat amalan kita tersebut, sebagai amalan yang buruk yang telah kita lakukan. Mudah-mudahan kita bisa memberikan yang terbaik dalam melayani orang lain. (*)

Pos terkait