Jadikan Diri Ini Rendah Hati di Mata Siapapun

  • Whatsapp
Kolom Cermin
Cermin

analisamedan.com – Kalau kita memandang seseorang, apa yang kita pikirkan? Kalau dia banyak ngomong kita bilang dia cerewet. Kalau dia tidak banyak berkomentar, kita bilang dia sombong. Jika dia banyak mengkritik kita bilang dia nyinyir, jika ia banyak memberikan masukan, kita bilang, “Ah teori.”  Kita telah memosisikan diri kita lebih mulia dari dirinya. Kita tidak bisa memosisikan diri ini sebagai orang yang redah hati.

Kebanyakan kita terkadang melihat seseorang dengan rasa curiga (skeptis). Jika ia mengutarakan hal-hal yang baik, yang terpikirkan oleh kita adalah,”Kata-katanya saja yang baik, belum tentu hatinya baik”. Begitulah rata-rata pikiran manusia. Pokoknya ia merasa orang lain tidak ada apa-apanya, dirinya lah yang lebih baik. Jarang ada di antara kita yang mengaku bahwa pada dasarnya kita lebih buruk dari orang lain.

Baca Juga:

Makanya jangan heran, jika ada pemilihan kepala daerah, semua orang ingin menunjukkan bahwa dirinya yang terbaik sementara orang lain tidak. Seolah-olah ia ingin mengatakan, “Pilihlah saya, karena sayalah yang mampu sementara kandidat yang lain tidak mampu.” Sebaliknya, demikian juga orang lain yang memandang diri kita, sama dengan kita memandang dirinya, yaitu “merendahkan.”

Kalau kita punya sifat seperti ini, maka samalah kita seperti Iblis. Yaitu mempunyai sifat ‘merendahkan’ orang lain. Merasa diri lebih baik, sementara orang lain tidak.

Siapakah Iblis

Siapakah Iblis? Iblis adalah salah satu makhluk Allah subhanahu wa ta’ala sebelum Nabi Adam diciptakan. Dulunya ia dikenal dengan ketaatannya. Namun, ketika Allah menciptakan Adam, maka di sinilah muncul rasa keakuannya. Memandang rendah orang lain, dan merasa lebih suci dari makhluk lain. Meresa ‘aku’ merupakan awal dari suatu kesombongan sebagaimana yang diungkapkan Syeh Muhammad bin Abdul Karim dalam Mausuah al-Kisanzan mengutip perkataan Syeh Muhammad bin Ali al-Ilmi: Katanya, sumber kesombongan berawal dari empat hal ini: Saya (أَنَا), aku memiliki (لِيْ), saya mempunyai (عِنْدِيْ), kami (نَحْنُ). Kata-kata inilah yang digunakan, mereka yang merasa lebih baik dari orang lain. Kata “saya” digunakan Iblis untuk menunjukkan kesombongannya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam Alquran Surat al-A’raf: 12 yang artinya:  “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Sementara kata “aku memiliki” dapat kita baca di dalam Alquran Surat al-Zukhruf: 51 yang artinya: “Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?”

Kesombongan

Kemudian, kesombongan itu muncul dengan menggunakan kata ada padaku atau saya mempunyai (عِنْدِيْ). Hal ini tercantum di dalam al-Qur’an Surat al-Qashas: 78 yang artinya: Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

Dan, Kaumnya ratu Bilqis merupakan orang yang pertama kali merasa sombong dengan menggunakan kata kami (نَحْنُ). Hal ini seperti dalam al-Qur’an Surat al-Naml: 33 yang artinya: ”Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.

Karena itulah, tulisan ini mencoba mengingatkan kita, bagaimana belajar dari mereka yang rendah hati, bukan rendah diri. Mereka yang menempatkan keakuannya di bawah orang lain. Merasa dirinya selalu kotor di banding orang lain.
Muhammad bin Was’i berkata, “Andaikan dosa itu mempunyai bau, niscaya kalian tidak akan sanggup dekat dengan ku karena busuknya bau ku”.

Menangisnya Umar Bin Khattab

Perkataan Muhammad bin Was’i ini mencoba mengingatkan kita bahwa secara personal sesungguhnya banyak sekali dosa yan kita lakukan. Mulai dari kita membuka mata sampai kita menutup mata kembali, sesungguhnya lebih banyak dosa di banding pahala yang kita terima, sehingga kita merasa bahwa kita adalah orang yang kotor dan bau. Jika kita orang yang kotor dan bau, tentunya akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak kotor dan bau, alih-alih mencoba menghilangkan kotoran dan bau tersebut, semakin kita melakukan sesuatu semakin muncul kotora da bau tersebut. Maka pantaskah kita menyatakan bahwa diri kita ini suci? Umar bin Khattab yang termasuk salah seorang sahabat yang dijamin masuk Surga saja, setiap malam menangis dan berdoa kepada Allah agar Allah mengampuni segala dosa-dosanya. Karena ia tidak yakin apakah dirinya sudah baik atau belum.

Umar menangis karena sebelum mengenal Islam, dia telah banyak melakukan dosa. Ia telah mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Karena tidak ingin anaknya tersebut kalau sudah besar membuat aib keluarga. Keteringatan akan perbuatan itulah yang membuat Umar selalu menangis. Akankah Allah memberikan ampun kepadanya.

Belajar dari al-Muzani

Patut kita belajar dari Bakr bin Abdullah al-Muzani ketika ia melihat orang yang lebih tua, ia berkata, “Ia lebih baik daripadaku, ia telah beribadah kepada Allah sebelum aku.” Namun, jika ia melihat orang yang lebih muda darinya, ia berkata, “Ia lebih baik daripada ku. Karena aku telah berbuat dosa lebih banyak daripada dia.”

Luar biasa apa yang dilakukan al-Muzani, yang memandang orang lain dengan sebuah kemuliaan, sementara memandang diri sendiri dengan banyak kelemahan. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita juga memandang diri kita lebih banyak berbuat dosa atau pahala. Jika kita memandang diri kita lebih banyak berbuat dosa, maka apakah pantas kita menyebut diri ini, “suci”. Ketika kita telah memandang diri ini kotor maka tentunya saban hari kita selalu ber-istigfar, memohon ampun kepada Allah, agar kita di tempatkan bersama-sama orang yang Ia ampuni.

Pandanglah Manusia dengan Kemuliaan

Jadi pada hakikatnya, pandanglah manusia lain dengan kemulian, sementara kita memandang diri ini dengan posisi penuh dengan dosa. Jangan sebaliknya memandang diri sendiri dengan penuh kemuliaan tetapi memandang orang lain dengan penuh kekotoran.

Ingat! Ketika seseorang menunjuk orang lain lewat telunjuknya, maka jari-jari yang lain lebih banyak ‘menunjuk’ diri kita sendiri. Boleh jadi kita mencoba ‘menghakimi’ orang lain bahwa dia sangat buruk, sementara kita sebenarnya lebih buruk daripadanya.

Kehadiran orang yang rendah hati banyak dinanti orang, perkataannya banyak dirindu dan perilakunya sangat diteladani. Hilangkan keakuan kita untuk menjadi orang yang rendah hati. Tetapi jika rasa keakuan masih tetap menyelubungi diri ini, maka rendah hati akan menjauh dari kita dan akhirnya kita menjelma menjadi orang yang sombong terhadap diri sendiri.

Pos terkait