Antara Kebetulan dan Kehendak Allah

  • Whatsapp

Suatu peristiwa yang tidak sejalan dengan kebiasaan atau terjadi secara tidak terduga biasa kita namakan dengan ‘kebetulan’. Keterbatasan kemampuan kitalah yang sebenarnya mengatakan demikian.

Contoh kecil, saat kita sangat butuh uang, karena harus membayar beberapa tagihan kita. Tidak tahu lagi kemana mau minta tolong, namun tanpa di sangka, tiba-tiba ada kawan lama yang datang. Dan memberikan uang yang dulu kita pinjamkan kepadanya. Kawan lama kita itu berkata, “Ini utang saya yang dulu saya pinjam. Udah lama sih saat kita masih kuliah, mungkin kamu lupa, karena rencananya aku mau membayarnya sebulan setelah aku berhutang kepadamu, tetapi entah kenapa aku dipindahkan ke luar daerah dan nomor telepon mu terhapus dari telepon genggamku. Karena tidak bertemu denganmu, Jadi akhirnya aku tak bisa melunaskan hutang ku yang dahulu. Uang ini akhirnya aku jadikan modal dan alhamdulillah sekarang sudah berkembang. Sebulan yang lalu aku kembali ke daerah ini, ku cari-cari rumah mu, kata tetanggamu engkau sudah tidak lagi di rumah yang lama, sudah tinggal di rumah yang baru. Sayangnya mereka juga tidak tahu, ke mana engkau pindah. Baru dua hari yang lalu, aku ketemu dengan teman kita, si Budi. Dari situlah aku mendapat alamat rumah mu di sini, dan Alhamdulillah, aku berhasil menemui mu.”

Bayangkan di saat kita sedang kesusahan, tiba-tiba ada yang mengembalikan uang kita yang dulu kita pinjamkan kepadanya. Tidak hanya uang itu yang ia bawa, dia juga membawa ‘hasil’ dari modal yang berawal dari hutang kita tersebut.
Inilah yang kebanyakan orang mengatakan ‘kebetulan’. Di saat kita susah tetapi entah kenapa ada orang lain yang memberi pertolongan kepada kita.

Sebenarnya, tidak ada istilah kebetulan dalam sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Karena semua itu sudah direncanakan Allah sebelumnya.

Banyak sebenarnya peristiwa dalam hidup kita yang menurut kita kebetulan. Padahal tidak demikian. Hanya orang-orang yang menyadari hal inilah yang memahami bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita adalah kehendak-Nya.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Surat Al-An’am Ayat 59)

Satu Perkara dalam Waktu yang Sama

Menarik apa yang diungkapkan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd saat ia ditanyakan: Bagaimana (penjelasan mengenai) Allah menghendaki suatu perkara, dan dalam waktu yang sama Dia tidak meridhainya dan tidak menyukainya? Bagaimana mengompromikan antara kehendak-Nya kepada hal tersebut dan kebencian-Nya? Jawabannya: Apa yang dikehendaki itu ada dua macam: apa yang memang dikehendaki dan apa yang dikehendaki untuk selainnya. Apa yang memang dikehendaki, maka itulah yang dituju lagi dicintai, dan di dalamnya mengandung kebaikan. Inilah yang dimaksud dengan iraadatul ghaayah wal maqaashid (tujuan yang dikehendaki). Sedangkan apa yang dikehendaki untuk selainnya, adakalanya bukan tujuan yang dikehendaki-Nya dan tidak ada kemaslahatan di dalamnya, apabila melihat dzatnya -meskipun sebagai sarana menuju tujuan dan apa yang dikehendaki-Nya. Hal ini adalah tidak disukai oleh-Nya dari segi dzatnya, tetapi dikehendaki dari segi qadha’-Nya dan dihubungkannya kepada kehendak-Nya. Maka berhimpunlah dua perkara: kebencian-Nya dan kehendak-Nya, dan keduanya tidak saling bertentangan.

Jadi, Dia tidak menyukai dari satu segi tapi menyukainya dari segi lainnya. Ini adalah perkara yang sudah dimaklumi oleh manusia. (Contohnya) obat yang tidak disukai, baik rasa maupun baunya, jika manusia mengetahui bahwa di balik obat itu terletak kesembuhan-nya (dengan izin Allah), maka ia membencinya dari satu segi dan menyukainya dari segi yang lain. Jadi, ia tidak menyukainya dari segi kepahitan yang dirasakannya, namun ia menyukainya dari segi bahwa obat itu akan membawanya kepada apa yang disukainya (kesehatan).

Salah satu fase dalam kehidupan kita mungkin tidak kita sukai, tetapi fase itu harus kita lalui untuk menuju fase yang ingin kita tuju. Jika kita tidak melewati fase yang tidak kita sukai maka tentu kita tidak akan sampai pada fase yang kita inginkan.
Sakit, adalah sesuatu yang ingin kita hindari, karena menyakitkan. Namun lewat penyakit tersebut mungkin kita disadarkan untuk kembali kepada-Nya. Jadi penyakit yang kita benci di satu sisi sesungguhnya di sisi yang lain akan memberikan kepada kita suatu kenikmatan karena akhirnya kita kembali kepada-Nya. Nah, jika kita tidak mendapatkan penyakit tersebut boleh jadi kita akan lupa dan akhirnya yang muncul adalah penyesalan.

Kebetulan, dan kehendak Allah jelas berbeda. Kebetulan merupakan jawaban bagi mereka yang merasa bahwa Allah tidak mempunyai kehendak akan hal tersebut, sementara kehendak Allah adalah suatu kehendak dan keinginan Allah agar kita menyadari bahwa sebenarnya dalam hidup ini sudah ada ‘jalannya’.