Meneladani Ketaatan Keluarga Ibrahim kepada Allah Swt

  • Whatsapp

Di dalam Alquran ada dua manusia yang disebut sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik) siapa mereka? Rasulullah Shalallahualaihi wa sallam dan Nabi Ibrahim alaihi salam. Hal tersebut difirmankan Allah di dalam Alquran:

Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu [yaitu] bagi orang yang mengharap [rahmat] Allah dan [kedatangan] hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.  (QS Al-Ahzab: 21)

Baca Juga:

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia;…(QS  Al Mumtahina: 4).

Maka tidak heran, ketika kita bertemu dengan bulan Zulhijjah, kita mencatat ada dua ibadah besar yang identik dengan perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim alaihi salam dan keluarganya, yaitu: ibadah haji dan ibadah qurban.

Kadang, masing-masing kita hanya menyelami perjalanan seseorang itu pada hasil akhirnya saja, seperti haji dan qurban ini. Tanpa mau melihat proses dari dua ibadah ini.

Kedua ibadah ini adalah bentuk dari ketaatan dari Nabi Ibrahim dan keluarganya kepada Allah Swt. Bayangkan, di saat Nabi Ibrahim yang telah berusia lanjut namun ia belum memiliki momongan, seperti isteri tercintanya Sarah juga berusia lanjut dan tidak mungkin lagi akan melahirkan seorang anak. Namun bagi Ibrahim tidak ada yang mungkin jika Allah menghendaki. Maka ia terus berdoa, agar Allah memberikan anak kepadanya.

Tidak bosan ini berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang sholih” (QS Ash-Shaffat: 100).

Maka, di saat Nabi Ibrahim berusia 86 tahun, dari isteri keduanya yaitu Hajar, Allah Swt mengabulkan doa Ibrahim yang tidak bosan-bosan tersebut, ia mendapatkan anak yang diberi nama Ismail.

Di saat kegembiraan mendapatkan buah hati yang sudah lama ditunggu-tunggu, Ibrahim diperintahkan untuk membawa Hajar dan Ismail kecil ke sebuah daerah yang sangat tandus yang dikenal pada waktu itu bernama Bakkah, dan sekarang di kenal dengan nama Mekkah.

Ujian ketaatan itu diterima Ibrahim, lalu ia membawa keduanya dan meninggalkan mereka di tempat yang mustahil orang bisa hidup di daerah tersebut, karena tidak ada manusia lain di daerah tersebut akibat daerahnya yang tandus.

Hajar lalu bertanya saat Ibrahim akan meninggalkan mereka, “Wahai Ibrahim, hendak kemanakah kamu, apakah kamu tega meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia apapun di sini?”

Pertanyaan Hajar tersebut, tidak dijawab Ibrahim. Ia hanya diam seribu basa, dan terus berjalan menjauh.

Hajar pun kembali mengulang pertanyaannya, namun tidak juga dijawab Ibrahim, lalu Hajar berkata, “Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?”

Maka Ibrahim pun menjawab, “Benar”.

Lalu, Hajar berkata, “Baiklah kalau demikian adanya, kamu boleh pergi sekarang, karena jika Allah yang menghendaki, maka Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Inilah yang disebut dengan tawakal. Tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil dari suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Di saat suaminya Ibrahim tidak lagi bersama mereka, Hajar sebagai seorang wanita yang lemah tentu ada sedikit rasa was-was, ketakutan dan entah apalagi. Perasaan ini manusiawi, apalagi di saat perbekalan yang dibawa sudah habis, sedangkan air susunya sudah tidak mampu lagi memproduksi akibat tidak ada yang ia makan lagi, dan Ismail kecil mulai menangis karena kehausan. Maka di saat itulah muncul rasa keberanian untuk ‘menolong’ anaknya ini. Ia lalu berkhtiar untuk mencari air. Maka mulailah Hajar berlari dari bukit Shafa ke Marwa, namun air yang ia inginkan tidak ada, maka ia kembali mencari dari Marwa ke Shafa, itu yang ia lakukan berkali-kali sebanyak 7 kali. Ritual inilah yang akhirnya saat sekarang dikenal dengan istilah Sa’i.

Hal ini mengajarkan kepada kita, bahwa walaupun kita sudah bertawakal bukan berarti kita harus diam menunggu apa yang terjadi, tetapi sebaliknya harus tetap berikhtiar jangan sampai berhenti berikhtiar. Inilah keteladanan yang diajarkan ibunda  Hajar kepada kita.

Akhirnya, usahakan yang dilakukan ibunda Hajar mencapai hasil, ia melihat dari bawah kaki anaknya muncul mata air. Mata air inilah yang akhirnya dikenal dengan nama zam-zam. Mata air yang tidak pernah kering walaupun berjuta-juta galon sudah didistribusikan dan diminum oleh ratusan milyar umat manusia dari zaman Nabi Ibrahim sampai sekarang ini. Mata air ikhtiar dan tawakal dari hamba-Nya yang luar biasa.

Ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim belum berhenti, masih tetap ujian ketaatan. Ujian ketaatan tanpa istilah tapi (reserve). Allah uji Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Berkilahkah Ibrahim? Tidak! Ibrahim taat kepada perintah Allah tersebut, karena tidak ada istilah baginya taat dengan tapi, taat tetap taat tanpa perlu ada pengecualian. Namun sebagai seorang ayah ia ingin mendengar pendapat anaknya tentang perintah ini.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu.” (QS Ash Shaffat: 102).

Lalu bagaimana jawaban Ismail, apakah ia memberontak dan mengatakan, “Ah, ayah ini sudah gila ya…masak percaya sama mimpi?” Jawaban Ismail bukan demikian tetapi, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash Shaffat: 102).

Sebuah jawaban yang luar biasa yang keluar dari seorang anak yang tidak saja berbakti kepada ayahnya tetapi juga sangat taat kepada Rabb-nya.

Inilah anak yang memang sejak awal didoakan oleh Nabi Ibrahim, anak yang sholeh anak yang luar biasa sabar dalam menghadapi ujian.

Allah Maha Besar, di saat kedua hamba-Nya ini melaksanakan perintah-Nya, maka di saat itulah ujian mereka diluluskan. Allah mengganti Ismail dengan seekor kibas, dan penyembelihan hewan qurban inilah yang sampai sekarang tetap dilestarikan karena memang Allah memerintahkan untuk itu, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yan banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” (QS Al-Kautsar: 1-2).

Keteladan Nabi Ibrahim, Hajar dan Ismail patut menjadi cermin bagi kehidupan keluarga milineal sekarang ini. Apakah mereka masih tetap taat dengan perintah-perintah Allah, atau taatnya dengan perkataan “tapi” atau tidak lagi taat dengan perintah Allah tersebut? Semuanya terpulang kepada kita.

Oleh karena itu, mari kita jadikan napak tilas dari proses perjalanan Nabi Ibrahim dan keluarganya itu sebagai bagian dalam hidup kita. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang taat, sabar dan selalu berikhtiar dalam menghadapi segala masalah hidup dan kehidupan kita.

Mohon maaf lahir dan Batin. Selamat Hari Raya Iduladha 1441 H

Pos terkait