Dialog Khalifah dan Abu Hazim Tentang Kematian

  • Whatsapp

Suatu ketika, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik – khalifah yang berkuasa dari Februari 715 sampai mangkatnya pada September 717. Dia menjadi khalifah sepeninggal kakak kandungnya, Al-Walid, mangkat pada 715. Sulaiman berasal dari Bani Umayyah cabang Marwani – pergi ke Madinah. Setelah bermukim selama tiga hari di sana, ia berkata, “Apakah masih ada di sini seorang yang pernah bertemu dengan sahabat Rasulullah Saw, yang dapat kita undang untuk berdialog?”
Seorang pengawalnya berkata, “Ada, Tuan, yaitu seorang yang biasa dipanggil dengan Abu Hazim.”

Sulaiman lalu mengutus pengawalnya untuk memanggil tabi’in tersebut. Istilah tabi’in digunakan karena mereka adalah generasi setelah sahabat dan langsung bertemu dengan sahabat Rasulullah dan mengikutinya.

Baca Juga:

Sesampainya Abu Hazim di kediaman Khalifah Sulaiman,  terjadilah dialog antara sang khalifah dan Abu Hazim. Berkata khalifah, “Wahai Abu Hazim, apa yang membuat engkau bersikap acuh terhadap kedatanganku?”

Abu Hazim menjawab, “Ketidakacuhan yang bagaimana?”

Sulaiman menjawab, “Seluruh penduduk Madinah datang menyambut kehadiranku, kecuali dirimu.”
Abu Hazim lalu menjawab, “Saya berlindung kepada Alla Swt dari perkataanmu itu. Bukankah di antara kita belum saling kenal sebelumnya?”

Sulaiman menjawab, “Ya, engkau benar.”

Selanjutnya, Sulaiman mengajak Abu Hazim berdialog. Ia berkata, “Wahai Abu Hazim, kenapa kita membenci kematian?”
Abu Hazim menjawab, “Karena kalian tidak memperdulikan akhirat, sebaliknya hanya sibuk mempercantik dunia. Akibatnya, kalian tidak suka untuk pindah dari tempat yang cantik ke tempat yang buruk.”

Sulaiman berkata, “Engkau benar.” Sulaiman bertanya lagi, “Bagaimana kondisi seseorang dalam menyongsong kematian?”.
Abu Hazim menjawab, “Adapun orang-orang yang baik maka ia akan menyongsongnya seperti seorang yang rindu bertemu dengan keluarganya setelah berpisah lama. Sebaliknya, orang yang jahat, tidak ubahnya seperti seorang budak yang melarikan diri dari tuannya lalu ia seret untuk kembali menghadap.”

Mendengar kata-kata Abu Hazim tersebut, Sulaiman langsung menitikkan air mata. Ia lalu bertanya lagi, “Wahai Abu Hazim, seberapakah nilai kita dihadapan Allah Swt?”

Abu Hazim menjawab, “Kalian akan mengetahui nilai kalian di hadapan Allah Swt jika kalian memaparkan diri di hadapan Kitab-Nya.”

Sulaiman berkata lagi, “Ayat apa yang dapat menginformasikan hal tersebut kepada kita?”

Abu Hazim menjawab, “Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar dalam (surga yang penuh) kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar dalam neraka,” (QS Al-Infithaar: 13-14). (dikutip dari tulisan Abu Malik Muhammad, 4 dari 184 Kisah Perindu Surga. hal. 242-244).

Jawaban Seorang Tabi’in

Dalam literatur yang lain diceritakan, ketika Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik pernah mengutus seorang utusan kepada Abu Hazim agar ia mau menemui sang khalifah. Abu Hazim berkata, “Kalau dia memiliki suatu keperluan, selayaknya dialah yang datang. Sedangkan aku, aku tak memiliki keperluan padanya. Sehingga aku tak merasa perlu datang menghadapnya.”
Mendengar ucapan Abu Hazim tersebut marahkah khalifah? Tidak. Bahkan Khalifah menyadari siapa sebenarnya dirinya sesungguhnya. Hal Ini juga menunjukkan betapa terhormatnya para ulama di zaman dahulu. Dan demikian pula para khalifah, mereka adalah orang-orang yang menghormati ulama.

Lalu siapakah sebenarnya Abu Hazim ini? Abu Hazim Salamah bin Dinar adalah seorang tabi’in yang tsiqat (orang yang kokoh dan terpercaya dalam memegang amanat). Seorang imam dan hafizh. Syaikhul Madinah di zamannya. Ahli ibadah, ulama, dan ahli zuhud Madinah. Serta menjadi teladan dalam kezuhudan.

Maka pantaslah, Khalifah Sulaiman mencoba ‘belajar’ dari Abu Hazim dengan cara dialog, namun dari dialog tersebut memunculkan jawaban-jawaban yang luar biasa jika dipahami dan direnungi.

Bagi khalifah, jawaban Abu Hazim ini begitu menyentuhnya, karena mungkin pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan kepada Abu Hazim juga ia tanyakan kepada yang lain, namun kurang memuaskan jawabannya. Namun di saat pertanyaan tersebut ia tanyakan kembali kepada Abu Hazim ia mendapat kepuasan dari jawaban tersebut, sehingga tanpa terasa air matanya menetes.

Dunia Segalanya

Bagi seorang khalifah yang merupakan pemimpin, dunia adalah segalanya. Ia hidup enak di atas dunia ini. Ia dihormati dan dilayani. Karena itu muncul ketakutan jika teringat kata ‘kematian’. Padahal ketakutan itu muncul karena memang ketidaksiapan kita saja untuk menghadapi kematian tersebut. Orang-orang yang berbekal dengan keyakinan bahwa akhirat adalah lebih baik dari dunia, tentu tidak akan takut bila kematian akan tiba. Maka jangan heran ketika khalifah bertanya tentang bagaimana kondisi seseorang dalam menyongsong kematian.

Dan Abu Hazim menjawab, “Adapun orang-orang yang baik maka ia akan menyongsongnya seperti seorang yang rindu bertemu dengan keluarganya setelah berpisah lama. Sebaliknya, orang yang jahat, tidak ubahnya seperti seorang budak yang melarikan diri dari tuannya lalu ia seret untuk kembali menghadap.”

Karena itu di dalam surat At-Takatsur 1-8, Allah mengingatkan kita: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim. Kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. K emudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).

Mencari kehidupan di dunia ini boleh-boleh saja, tetapi harus juga diingat bahwa tidak selamanya kita akan berada di dunia, satu saat ajal akan menjemput kita, maka suka atau tidak suka kita akan meninggalkan dunia ini. Karena itulah, bekal akhirat juga harus dipersiapkan agar kita tidak kecewa ketika nanti sudah sampai di sana.

Wallahu ‘alam bissawab

Pos terkait