Adam dan Arti Sebuah Kesalahan

  • Whatsapp

“Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini. yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zhalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfir­man: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentu­kan. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesung­guhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS al-Baqarah: 35-38)

Siapa yang tidak kenal Nabi Adam ‘alaihi salam (as). Ia adalah nenek moyang manusia. Allah Swt menciptakan Adam untuk dijadikan khalifah1 di muka bumi ini. Sebagai khalifah ia diperintahkan untuk men­gelola bumi beserta isinya.

Baca Juga:

Selain menjadi khalifah, Alquran juga menjelas­kan peran manusia di bumi adalah sebagai hamba (QS Maryam: 93) dan sebagai pribadi (QS an-Najm: 38). Di dalam Alquran juga dijelaskan bahwa kehidupan manusia tidak hanya ‘mewakili’ Allah di dunia sebagai khalifah, tetapi juga harus patuh terhadap ajaran-ajaran yang diperintahkan dan dilarang-Nya sehingga manu­sia tidak boleh mencampur adukkan antara yang hak dan batil (QS Al-Baqarah: 42) karena manusia berstatus hambanya Allah, karena itulah manusia bersama den­gan jin -makhluk yang Allah ciptakan sebelum manusia – untuk mengabdi kepada-Nya. (QS adz-Dzariyat: 56)

Awal penciptaan Adam sempat dikomunikasikan Allah dengan malaikat (QS al-Baqarah: 30). Mungkin ada yang bertanya kenapa demikian? Penciptaan manu­sia ini penting, karena dengan adanya manusia malai­kat akan dibebani sekian tugas menyangkut eksistensi manusia; ada yang akan bertugas mencatat amal-amal manusia, ada yang bertugas memeliharanya, membimbingnya dan sebagainya.

Lalu malaikat bertanya dengan rencana Allah itu: “Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertas­bih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?…. (QS Al Baqarah: 30)

Pertanyaan malaikat itu dijawab Allah dengan fir­man-Nya bahwa Ia lebih tahu dari hamba-hamba-Nya. “Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah: 30)

Ini membuktikan bahwa dalam dimensi keilmuan, pengetahuan makhluk Allah, apakah itu manusia, malaikat maupun jin sangat terbatas. Karena itulah tidak ada manusia yang boleh mengklaim dirinya lebih pintar dari orang lain. Di atas orang pintar ada yang lebih pin­tar lagi, inilah yang sering diumpamakan dengan istilah di atas langit ada langit.

Tapi benarkan prediksi malaikat tersebut? Ya predik­si malaikat rupanya terbukti. Hari ini kita lihat, nyawa seseorang tidak lagi begitu berarti. Lihatlah media-me­dia memberitakan bagaimana perang bisa menghilang­kan puluhan bahkan ratusan jiwa. Sementara kerusa­kan alam semakin menjadi-jadi. Ini artinya, apa yang ditakutkan oleh para malaikat itu benar-benar terjadi.

Namun Allah lebih tahu dari apa yang tidak diketahui hamba-Nya. Di mana setiap ada kejahatan akan muncul kebaikan. Kejahatan dan kebaikan akan ‘hadir’ sampai dunia ini kiamat. Banyak orang jahat tetapi lebih ban­yak orang baik. Banyak orang melakukan korupsi, tetapi masih banyak orang yang benci akan korupsi.

Memang banyak di antara kita yang pesimis dengan hidup ini. Tetapi ingat, kita harus tetap optimis, karena dibalik kesusahan akan muncul kemudahan (QS Alam Nasrah: 6)
***
Nabi Adam lalu diciptakan Allah, sebagai manusia pertama. Namun kehidupan akan terasa kurang walau­pun semua fasilitas tersedia. Bagaimanapun kehidupan seseorang akan hampa bila tidak ada pendamping setia. Adam awalnya diciptakan sendiri, tetapi raut dan sikapnya mencerminkan bahwa ia butuh pendamping, maka Allah Swt juga menciptakan seorang isteri untuk men­dampinginya yang kemudian diberi nama Hawwa, yang diciptakan dari tulang rusuk Adam yang bengkok.

Ini membuktikan bahwa lelaki butuh wanita, dan wanita diciptakan untuk laki-laki. Mereka saling me­lengkapi. Di mana kelebihan laki-laki menjadi kesempurnaan perempuan, begitu juga sebaliknya. Maka fitrah manusia adalah berpasangan. Karena itulah meni­kah adalah sebuah sunnah Rasulullah. Tidak lengkap sesuatu yang kita miliki jika kita belum menikmatinya secara bersama. Ketertarikan seorang laki-laki dengan wanita atau sebaliknya, merupakan sebuah naluri yang diberikan Allah kepada manusia agar ia dapat melanjut­kan dan mengembangkan kehidupan kemanusiaannya. Maka bila ada agama yang melarang pemeluknya un­tuk menikah, berarti agama tersebut telah mengabaikan makna kemanusiaan.

Dua sejoli ini awalnya hidup bahagia, mereka hidup di surga yang serba ada, tetapi yang namanya hidup pas­ti ada ujian dan cobaan.
Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka dan benar- benar Allah mangeta­hui orang-orang yang benar dan mengetahui pula orang- orang yang dusta. (QS Al-Ankabut: 2-3)

Begitu juga dengan nenek moyang kita ini. Mereka diberi kebebasan di surga namun ada satu larangan yang tidak boleh mereka langgar, yaitu mendekati satu pohon. Dalam bahasa sederhanya, Allah berfirman: Silakan Anda dan isteri Anda melakukan apa saja di surga ini, makan dan minumlah sepuasnya, karena itu memang diberikan kepada Anda, tetapi ada satu yang diharamkan yaitu tidak boleh mendekati satu pohon tersebut, dan ini tidak boleh dilanggar, karena jika Anda langgar bersama isteri Anda, maka sanksi akan menerima Anda berdua.

Dari ayat ini juga kita bisa memahami sebenarnya zona halal lebih luas dari zona haram. Hal ini dikare­nakan Allah memberikan kebebasan kepada Adam dan Hawwa untuk makan dan minum serta berbuat apa saja kecuali hanya satu yang dilarang-Nya yaitu mendekati sebuah pohon. Tetapi yang namanya manusia kadang-kadang keingintahuannya lebih besar dari apa yang se­harusnya tidak boleh diketahui. Yang halal banyak teta­pi mau juga ia memakan yang haram. Aneh memang, tetapi itulah faktanya. Dan sampai saat ini hal itu sering dilakukan manusia, ia merasa zona halal sangat sempit sementara zona haram sangat menggiurkan, sehingga banyak manusia melakukan apa yang dulu pernah di­lakukan nenek moyangnya yaitu melakukan apa yang dilarang Allah Swt. Kenapa hal itu terjadi? Karena ada musuh abadi manusia, yaitu iblis dan tentaranya para syetan yang tidak ingin manusia itu aman hidup di du­nia ini, mereka akan terus menggoda sampai dunia ini kiamat.

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemu­dian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersy­ukur (taat).” (QS Al-‘Araf: 16-17)

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadi­kan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka se­muanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. (QS al-Hijr: 39- 40)

Begitulah akibat rayuan iblis maka larangan Allah agar Adam dan isterinya untuk tidak mendekati sebuah pohon di surga akhirnya dilanggar.
Bayangkan Adam dan Hawwa saja yang sudah mera­sakan nikmatnya surga tersebut akhirnya tergelincir oleh rayuan iblis laknatullah tersebut. Lalu bagaimana dengan kita? Maka di surat al-Hijr di atas, iblis menga­takan manusia yang tidak bisa dirayunya adalah manu­sia yang mukhlis, ikhlas dalam segala hal. Semua yang ia kerjakan semata-mata lillahi Ta’ala.

Dalam hal rayu merayu, iblis dan tentaranya sangat mahir sekali. Bila rayuan pertama tidak berhasil, ia akan merayu yang ke dua, ke tiga dan seterusnya. Tidak ada kata menyerah. Hizb syetan (tentara syetan) ini merayu dengan segala cara sehingga akhirnya manusia akan ter­jerat dengan rayuannya tersebut.

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak men­jadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. (QS Al-A’raf: 20)

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang mem­beri nasihat kepada kamu berdua”, (QS Al-A’raf: 21)

Maka syaitan membujuk keduanya (untuk mema­kan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Itulah yang dialami Adam dan Haw­wa, mereka akhirnya terbujuk oleh rayuan iblis.

Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukan­kah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”(QS Al-A’raf: 22)

Itulah akhir keberadaan Adam dan Hawwa di surga, mereka akhirnya diberi sanksi ‘dijatuhkan’ ke bumi un­tuk menjalani kehidupan ini. Lalu Adam dan Hawwa menyesali perbuatannya dan bertaubat. Allah Swt kemudian menerima taubat keduanya lalu menunjuk Adam sebagai Rasul-Nya.

Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk (QS Thaha: 122). Kesalahan yang dibuat Adam dan Hawwa memang sudah terjadi, tetapi Allah Maha Menerima Taubat bagi hamba-Nya yang mau bertaubat. Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah, tetapi jangan sampai kesalahan itu kita bawa sampai mati, maka sebelum ajal menjemput kita, segeralah bertaubat dengan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan kepada Allah.
***
Ingatlah sebuah peristiwa bisa memaknai hidup ini. Terkadang kita hanya terjebak dengan masa lalu kita, padahal masa depan sangat panjang. Nabi Adam dan Hawwa pernah melanggar perintah Allah, sehingga mereka harus mendapat sanksi dari-Nya. Namun Allah Maha Rahmaan dan Rahiim. Baginya pintu taubat tetap terbuka bagi hamba-hamba-Nya yang mengaku akan kesalahannya.

Begitu juga dengan Nabi Adam as, setelah ia ‘berdo­sa’ kepada Allah, ia lalu bertaubat, terus menerus ber-istigfar dan berdoa kepada Allah
Doa Nabi Adam dan Hawwa diabadikan dalam Al Quran surah Al A’raf ayat 23. “Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan mem­beri rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Bacaan doa ini merupakan ungkapan rasa bersalah Nabi Adam, melanggar larangan Allah. Sehingga akibat dari pelanggaran ini, Nabi Adam mendapat hukuman yaitu, dipisahkan dari istrinya Hawwa, selama kurang lebih dari 300 tahun lamanya.
Selama itu pula Nabi Adam selalu mengadakan pen­gakuan dosa atas kesalahan yang diperbuatnya. Dan itu terjadi atas ketidakmampuan Nabi Adam menghadapi bujuk rayu iblis yang senantiasa mengajak ke jalan kesesatan.

Begitu Allah menerima pengakuan dosa Nabi Adam dan Nabi Adam diingatkan untuk mengikuti semua petunjuk-Nya, maka akhirnya Allah mempertemukan kembali dengan isterinya Siti Hawwa di Jabal Rahmah, Padang Arafah. Pertemuan beliau sebagai implementasi ampunan dari Allah.

Becermin dari kisah Nabi Adam ini, terkadang ke­hidupan bisa berakhir dengan kesedihan (sad ending) dan kegembiraan (happy ending). Tidak ada yang tahu. Namun paling kita bisa berharap bahwa akhir hidup ini Insya Allah, berakhir dengan kegembiraan. Biarkan orang menangisi jasad kita karena mereka kehilangan sosok diri ini, daripada orang tertawa mendengar ke­matian kita.

Pos terkait