Ashabul Kahfi; Kisah Pemuda Penghuni Gua

  • Whatsapp

“Adakah engkau menyangka (wahai Muhammad), bahwa kisah ‘ashabul kahfi’ (penghuni gua) dan ‘ar-raqiim’ (anjing mereka) termasuk antara tanda-tanda-tanda kekuasaan Kami yang menakjubkan? (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sem­purnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam uru­san kami (ini)”. (QS al-Kahf: 9)

Ayat-ayat yang menguraikan kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua) ini, seperti halnya kisah-kisah Alqur’an yang lain tidak menyebutkan siapa mereka atau di mana dan kapan terjadinya peristiwa itu. Hal ini kemungkinan besar untuk lebih mengarahkan manusia kepada inti dan pelajaran yang dapat ditarik dari kisah tersebut. Namun menurut beberapa sejarahwan Islam, ketu­juh pemuda tersebut bernama: Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus dan Tham­lika. Serta seekor anjing bernama Kithmir, yang diper­caya sebagai satu-satunya anjing yang masuk Surga. Banyak yang berpendapat sejarah ini terjadi di Suriah, tetapi ada beberapa ahli Alqur’an dan Injil berpendapat mereka berasal dari Yordania.7

Di dalam Alqur’an, kisah mereka terukir indah: “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan ke­pada mereka petunjuk”. (QS al-Kahf: 13)

Menurut ahli sejarah, kisah ini terjadi di satu negeri bernama Afsus yang terletak di Turki (ada pendapat menyatakan di Jor­dan, dan ada juga mengatakan di Syria). Awalnya pen­duduk negeri itu beriman kepada Allah dan beribadat mengesakan-Nya.

Namun keadaan berubah setelah seorang raja ber­nama Diqyanus memerintah. Ia memerintah rakyatnya supaya murtad dari agama Allah yang dibawa Nabi Isa as. dan bertukar kepada agama berhala yang dianutnya. Tentu saja rakyat yang takut dengan ancaman dan sik­saan raja itu mengikuti perintahnya. Namun tidak dengan tujuh pemuda tersebut. Mereka tetap beriman dan tidak mau tunduk dengan tekanan dari Digyanus. Sekali mereka berkata beriman kepada Allah, maka tidak ada kalimat lagi yang mampu mengubah keimanan mereka tersebut.

Tentu saja Digyanus murka, lalu tujuh pemuda terse­but dipanggil menghadap raja. Di hadapan raja yang zhalim itu, dengan penuh keberanian dan semangat mempertahankan iman dan prinsip akidah yang mere­ka yakini.

Allah berfirman menceritakan peristiwa mereka berhujjah; “Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri (di hadapan raja) lalu mereka berkata: ”Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesung­guhnya kami kalau demikian telah mengucapkan per­kataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan ala­san yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”. (QS al-Kahf: 14-15)

Ketenangan dan kemantapan para pemuda ini bukan membuat raja semakin sadar, tetapi sebaliknya ia se­makin murka. Ia lalu memberikan waktu beberapa hari kepada mereka. Jika dalam waktu yang telah ditentu­kan para pemuda itu tetap berkeras tidak mau meninggalkan keyakinannya, maka mereka akan dimurtadkan secara paksa atau akan dibunuh.

Untuk menghindari tekanan dan acaman tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk lari bersembunyi dan berlindung di dalam gua. “Dan oleh kerana kamu telah mengasingkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, maka pergilah kamu berlindung di gua itu, supaya Tu­han kamu melimpahkan dari rahmat-Nya kepada kamu dan menyediakan kemudahan-kemudahan untuk men­jayakan urusan kamu dengan memberi bantuan yang berguna”. (QS al-Kahf: 16)