Jurang Resesi di Depan Mata, Ada Cara Untuk Menghindar

  • Whatsapp
Sumber gambar internet

Oleh: Afifah Lania Sihotang

 Pandemi masih menjadi perbincangan yang tak hentinya terdengar di seluruh dunia khususnya Indonesia sejak kemunculannya di Maret lalu. Dimulai dari dua orang pertama yang berhasil diketahui terserang Covid-19 yang saban hari semakin bertambah sampai menembus angka 100.000 lebih penderita yang tersebar di seluruh Indonesia.

Baca Juga:

Pandemi Covid-19 berhasil meluluhlantahkan seluruh sektor kegiatan di seluruh dunia yang semula baik-baik saja, tak terkecuali sektor ekonomi sebagai tiang kehidupan manusia. Ekonomi sangat terancam dengan adanya pandemi, tiang kehidupan manusia lumpuh seketika bahkan ada yang sampai harus mati total karena terdampak pandemi. Banyak masyarakat Indonesia kehilangan pekerjaannya sampai harus banting stir memikirkan bagaimana bertahan hidup di tengah situasi yang sedang sulit-sulitnya.

Melihat itu, pemerintah tidak diam. Bantuan demi bantuan terus digelontorkan untuk membantu rakyatnya yang sedang sulit. Terbukti dengan penambahan belanja dan pembiayaan APBN Tahun 2020 untuk penanganan Covid-19 sebesar Rp405,1 triliun. Dilansir dari kanal Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, Presiden telah menandatanagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang memberikan fondasi untuk menjamin kesehatan masyarakat, menyelamatkan perekonomian nasional, dan stabilitas sistem keuangan.

Ada empat hal utama yang termaktub di dalam Perpu. Pertama, mengenai total tambahan belanja dan pembiayaan APBN Tahun 2020. Kedua, mengenai prioritas anggaran bidang kesehatan. Ketiga, mengenai prioritas anggaran perlindungan nasional. Keempat hal ini lah yang menjadi fondasi untuk tetap menjaga sektor-sektor penting penunjang kehidupan masyarakat Indonesia terutama di bidang ekonomi.

Selain itu, Perpu juga memberikan keringanan atau insentif perpajakan antara lain pajak penghasilan karyawan (PPh 21), penyesuaian tarif pajak penghasilan badan, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kemudahan dan/atau keringanan pemenuhan kewajiban perpajakan serta pembebasan/keringanan bea masuk. Hal ini dilakukan pemerintah tentu untuk membantu dunia usaha dan mempertahankan stabilitas ekonomi di Indonesia.

Namun nampaknya cara ini dan beberapa cara lain yang dilakukan belum bisa mempertahankan kestabilan ekonomi sampai saat Indonesia terancam mengalami resesi ekonomi yang menghantui hampir seluruh negara-negara yang terdampak pandemi. Dikutip dari laman tirto.id, bahkan nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Selasa sore (11/8/2020) melemah. Selain itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II tahun 2020 -5,32 persen.

Jika dibiarkan terus menerus sampai pada kuartal berikutnya dan didapati pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di angka minus, Indonesia akan masuk ke jurang resesi. Berdasarkan teori, suatu negara dikatakan resesi setelah pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut menunjukkan angka minus dan ketika resesi terjadi, artinya seluruh bisnis mengalami keturunan. Kalau nantinya Indonesia sudah sampai begini, bagaimana nasib masyarakat yang harus terus bertahan hidup?

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk menghindarkan Indonesia dari ancaman resesi yang sudah menghantui. Hal pertama yang seharusnya dilakukan pemerintah dari jauh-jauh waktu saat Covid-19 pertama kali masuk ke Indonesia adalah mempercepat laju penangan Covid-19 di saat penyakit tersebut belum tersebar luas di Indonesia. Pada awal masuknya pandemi, pemerintah sudah bertindak cepat untuk memerintahkan masyarakatnya berdiam diri di rumah, menerapkan physical distancing, dan aturan-aturan lain yang menekan penularan.

Masyarakat sudah mengikuti aturan, namun ternyata penanganan lambat dan Indonesia kehilangan masa emasnya untuk terbebas dari pandemi. Sampai akhirnya masyarakat jenuh, stok keuangan menipis, ekonomi menurun, kemudian melanggar aturan pemerintah untuk tidak keluar rumah dan menerapkan aturan jaga jarak karena tuntutan yang semakin menekan kehidupan dan menyebabkan angka penularan meningkat terus menerus. Sampai sekarang, pemerintah masih dituntut untuk mengusahakan cara pertama ini dan cara paling utama untuk menjauhkan Indonesia dari jurang resesi.

Kemudian, setelah diterapkan era kenormalan baru, aktivitas berangsur-angsur memulih, tren baru bermunculan di tengah masyarakat dan menjadi peluang bisnis baru yang bisa menjadi salah satu cara membangkitkan perekonomian Indonesia dan membantu sebagian orang untuk bertahan hidup. Tren bersepeda salah satunya, setelah kenormalan baru dimulai, banyak masyarakat yang mulai menjalankan olahraga untuk meningkatkan imunitas, salah satunya dengan bersepeda. Tren ini membuka peluang sebagian orang untuk mulai berbisnis tak hanya di Indonesia.

Salah satunya pemilik Toko Online Sepeda Ngalam, Fafi Fathur Rohman asal Malang yang turut merasakan kenaikan bisnisnya karena tren bersepeda ini. Selain itu, toko online juga semakin banyak tersebar di seluruh Indonesia yang menawarkan jasa antar tanpa harus membeli langsung di tempat, menawarkan pelbagai macam barang yang tidak penting sekalipun sampai bahan pokok yang dibutuhkan sehari-hari.

Selain itu, terdapat dua sektor yang masih bertumbuh dengan baik, yaitu pertanian dan perkebunan. Berdasarkan data BPS, pergeseran musim tanam dan puncak panen menjadi penopang PDB dari sektor pertanian. Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) yang mengalami peningkatan 0,49% pada Juli 2020. Selain itu, sektor perkebunan yang meningkat produksinya dan didukung dengan pertambahan pesanan.

Kalau dilihat dari data yang disebutkan sebelumnya, terlihat masih ada peluang bisnis dan sektor-sektor yang bisa membantu membawa ekonomi Indonesia menjauh dari resesi dan kembali stabil di tengah pandemi. Pemerintah harus pandai mendukung peluang bisnis yang bisa membantu perekonomian Indonesia dan terus memperhatikan dua sektor yang menunjukkan perkembangan positif di tengah terpuruknya dunia ekonomi.

Dengan memberikan stimulus, bantuan, perhatian kepada peluang bisnis dan kedua sektor ini dengan cepat dan tepat sesuai dengan yang dibutuhkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk kembali membaik. Selain keduanya, pemerintah harus bisa memilih sektor potensial yang dapat berperan sebagai penggerak sektor lainnya (leading sector) yang tentunya mampu membangkitkan semangat ekonomi Indonesia.

Penulis merupakan mahasiswa UIN SU yang sedang mengikuti KKN Dari Rumah (KKN-DR) Kelompok 170 dengan bimbingan Dr. H. Arifinsyah, M.Ag.

Pos terkait