Menikmati Bahasa dalam Secangkir Kopi

  • Whatsapp
Bahasa kopi

rekatamedia.com – Bahasa adalah tanda untuk berkomunikasi antar makhluk manusia agar dapat berinteraksi serta menjalankan kebutuhan hidup secara normal. Kopi

Bahasa kopi
Oleh: Alkaushar Lingga

Sebagai bagian warga sosial manusia tidak dapat menghindari bahasa karena kontak komunikasi pasti selalu menggunakan bahasa baik secara lisan, tulisan, isyarat, bahkan tanda.

Dengan bahasa pula masyarakat dapat bekerja sama untuk melakukan tujuan baik. Bahkan ternyata pada masyarakat tani kita untuk kelestarian pertanian sejak dulu hingga kini bergantung pada bahasa.

Sudaryanto seorang linguis dalam sebuah diskusi mengatakan bahwa fungsi bahasa ialah mengembangkan akal budi, memelihara kerja sama dan mengagungkan kemuliaan bersama. Bahwa bahasa berperan memelihara kebutuhan hidup manusia untuk eksistensi kehidupan manusia tersebut.

Lebih jauh dari itu bahasa turut serta pula melengkapi kebutuhan aktivitas dalam bekerja, berusaha, berolahraga bercocok tanam dan lain sebagainya.

Hujan dan terik panas melanda kota medan belakangan ini begitu membuat kita merasa bingung. Apakah hujan sedang berbahasa pada kita manusia dan alam semesta? Panas begitu terik tiba-tiba gerimis lalu hujan deras mendera kota. Tak tanggung-tanggung hujan itu bisa sampai sore dari siang hari bahkan berhenti selepas isya. Atau mendung sudah berdengung seharian menghiasi langit tetapi tidak tiba setetes gerimis pun.

Tanpa kita sadari bahwa hujan juga sedang berbahasa pada kita. Mengajari kita lebih peka tentang situasi di luar diri kita, tentang kebahagiaan dan persoalan lain.

Filosofi kelembutan air meneduhkan hati kita untuk lebih dapat merasai rasa. Maka sifat air juga dapat melarutkan energi serta molekul lain dengan baik, seperti gula, teh, garam juga kopi.

Seperti kita lihat pula fenomena kopi pun menghujani kota terbesar ketiga di Indonesia ini.
Belakangan ini pula kopi begitu menggeliat memenuhi kedai-kedai di ruang kota.

Bangunan kecil kios pinggiran jalan, semi permanen dan permanen diadakan untuk menjajakan kopi. Menu kopi dengan campuran-campuran membuat penikmat tergoda.

Banyak lagi minuman dengan es, serbuk dan lain sebagainya dibuat rasa aroma kopi kental untuk memikat hati konsumen. Bahkan yang bukan peminum kopi jadi minum kopi tersebut karena strategi pemasaran. Dari mana mereka mempelajari itu sebenarnya?

Sepertinya kita belum pernah mendengar tentang survei peminum kopi di Indonesia khususnya di kota Medan.

Siapa pecandu kopi terberat, dari usia berapa sampai berapa, kalangan menengah ke bawah atau menengah ke atas?

Dari segi gender siapa peminum kopi terbanyak pria atau wanita? Termasuk waktu minum kopi ternikmat, apakah pagi hari, siang, sore, setelah bekerja untuk mengusir lelah atau selepas hujan?

Bahkan di tanah subur Indonesia ini yang kopinya diekspor ke belahan dunia telah diseruput ratusan juta manusia belum ada Fakultas Ilmu Kopi.
Hal mencengangkan bukan?

Kopi menjadi komoditas sukses oleh petani Indonesia, ditanam dengan ilmu pengetahuan oleh petani. Kemampuan serta ilmu dipunyai mampu menghasilkan biji kopi ternikmat. Dengan segala problematika penanaman seperti kondisi tanah, faktor cuaca, hama, pupuk, ilmu pengetahuan, perawatan dan lain sebagainya.

Namun fakta lainnya si petani kopi memiliki penghasilan, menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi belajar ilmu seperti, komunikasi, pendidikan, budaya, agama, hukum, ekonomi, pertanian dan lain sebagainya. Anak petani kopi banyak tidak belajar memahami penanaman kopi secara baik untuk menghasilkan buah unggul dan berdaya saing dengan pasar kopi dari negara lain.

Maka banyak terhenti ilmu penanaman kopi terbaik yang kita miliki sebab kehilangan generasi penerus. Meski ilmu-ilmu pertanian kopi masih ada diwariskan secara lisan oleh satu petani ke petani lainnya. Tetapi apakah ilmu itu bisa bertahan jika tidak diajarkan secara sistematis, memiliki modul, terstruktur dan pengajaran yang tepat?

Tak heran bagi kita ketika dulunya kopi Sidikalang begitu menggelora di pasar Indonesia dan luar negeri dan sekarang tinggal nama. Jika kita datang ke kota Sidikalang tidak banyak kopi unggulan kita temui di ladang-ladang petani. Selain perubahan cuaca dan iklim banyak pohon kopi tidak seberhasil pada saat kejayaannya. Kebun-kebun kopi sudah berubah fungsi dengan komoditas tani lainnya.

Kopi Sidikalang menjadi salah satu contoh di antara banyak kota penghasil kopi  telah tergerus karena kekurangan ilmu kopi. Sejatinya ilmu tentang kopi dapat diajarkan di perguruan tinggi seperti halnya pertanian sawit. Bahkan lebih dari itu dibutuhkan Fakultas Ilmu Kopi, mengampu program studi penanaman kopi, pengembangan kopi, industri kopi, pabrik pengolahan kopi dan lainnya.

Sehingga kelak akan ada produk kopi dapat disimpan sepuluh tahun rasanya semakin nikmat. Bagaimana ilmu dan cara memproduksi kopi dengan kemasan botol dapat berharga puluhan juta. Ada kopi yang baru dipetik dari pohonnya dengan rasa madu. Jenis kopi unggulan dapat sebagai obat. Tentu membutuhkan ilmu pengetahuan beserta riset dan uji coba dilakukan secara baik.