USING THE WRONG ANSWERS

  • Whatsapp

Ellis Mardiana Panggabean

(Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara)

Bagi seorang guru, menilai pemikiran peserta didik adalah penting. Meminta siswa untuk memberikan alasan mengapa sebuah jawaban benar dari beberapa pilihan jawaban yang diberikan akan menumbuhkan sikap kritis secara terus menerus. Hal ini akan berakibat pada pengembangan penalaran dan logika.

Untuk tujuan ini, salah satu kegiatan yang dapat dirancang oleh guru adalah dengan mengkonstruksi soal atau permasalahan yang mengandung pilihan jawaban yang salah. Untuk tiap soal, siswa diminta untuk memberikan alasan tiap jawaban yang benar dan alasan kenapa jawaban yang lain salah. Tipe soal seperti  ini akan mengembangkan kemampuan menganalisis, mengkritik dan berfikir logis dalam matematika.

Jika ternyata didapati ada siswa yang melakukan kesalahan maka guru tidak perlu khawatir. Mereka hanya  perlu diberi pemahaman bahwa membuat kesalahan adalah manusiawi. Yang perlu ditanamkan kepada siswa, mereka harus belajar dari kesalahan. Sikap ini akan mendorong mereka untuk selalu mau mengambil kesempatan yang ada dan selalu bersedia untuk mencoba berbagai penyelesaian alternatif. Ini adalah manfaat yang pertama.

Menggunakan jawaban-jawaban yang salah pada permasalahan yang diajukan kepada siswa adalah kesempatan untuk memperbaiki pemahaman terhadap konsep matematika yang diajarkan. Bahkan miskonsepsi yang dibawa oleh siswa ke kelas akan terdeteksi. Manfaat lainnya adalah menguatkan pemahaman konsep matematika siswa.

Menggunakan jawaban yang salah dapat ditindaklanjuti dengan membagikan catatan yang harus diisi oleh siswa dan meminta mereka untuk merancang sebuah pertanyaan, misalnya persentase besaran, persamaan yang harus diselesaikan, sudut atau contoh luas/keliling dengan kesalahan yang disengaja yang jawabannya berganda, untuk itu mereka harus menemukan jawaban yang benar. Berikut beberapa cara menggunakan pilihan jawaban yang salah.

  1. Permasalahan dengan 3 pilihan jawaban.

Siswa diberi waktu 1 menit untuk bekerja secara sendiri-sendiri dan kemudian dua menit bekerja dalam kelompok untuk menemukan jawaban yang benar serta menemukan kesalahan yang terdapat pada tiap pilihan jawaban. Berikut dialog guru dan siswa yang terjadi di kelas.

Pertanyaan-pertanyaan meliputi:

  • Meminta kelompok tertentu untuk menjelaskan jawaban yang benar menurut kelompok tersebut.
  • Mengapa menurut kelompok kamu, penyelesaian ini benar?
  • Coba jelaskan kepada kelompok lain mengapa penyelesaian yang mereka pilih salah?
  • Kesalahan apa yang kamu temukan dalam penyelesaian?
  • Apakah kamu berusaha memperbaiki kesalahan, lalu melanjutkan untuk mendapatkan jawaban yang benar?

Umpan balik dari observer diperoleh sebagaimana berikut ini.

“Kelompok siswa bekerja sangat efektif, semua siswa terlibat dalam pembelajaran dan diberikan pujian atas tanggapan mereka. Murid juga diberi tugas untuk menyelesaikan secara mandiri tugas-tugas dan tugas ini memotivasi mereka. Menemukan penyelesaian yang benar dari tiga kemungkinan jawaban memastikan bahwa semua siswa tertantang untuk berpikir tidak hanya mengapa satu penyelesaian tertentu benar, juga mengapa penyelesaian lainnya tidak benar. “ Berikut adalah contoh permasalahan lainnya.

Setelah memberi skor kepada tiap jawaban siswa, tanyakan kembali mengapa mereka mendapat skor ini. Guru menunjukkan penyelesaian untuk sebuah permasalahan terkait dari topik yang diuji  dan menginformasikan kelas “Jawaban ini akan diberi skor . . . . Tahu alasannya?” “Nah, cobalah siapa diantara kamu yang dapat memperbaiki jawaban untuk mendapatkan nilai penuh?” Kesempatan ini akan menantang siswa untuk kembali menyelesaikan permasalahan. Pertimbangan terhadap kriteria keberhasilan akan memotivasi mereka bekerja semampunya  menyelesaikannya dengan baik dan benar.

Permasalahan-permasalahan dan jawaban terhadap permasalahan-permasalahan itu, dapat disusun oleh guru, sumbernya bisa dari pekerjaan rumah sebelumnya atau dari tes awal. Jika ini terjadi maka guru perlu menambahkan kesalahan-kesalahan yang  umumnya dilakukan oleh siswa. Berikut ini adalah sebuah contoh terkait hal itu.

  1. Pernyataan Yang Kontroversial

Sebagaimana yang dinyatakan dalam “Unggul dalam Matematika”, pertanyaan tertutup yang kurang efektif dapat ditingkatkan dengan mengubahnya menjadi sebuah pernyataan. Hal ini sesuai dengan gagasan menyelidiki jawaban-jawaban dan kesalahan-kesalahan yang menantang siswa untuk berpikir dan berdiskusi tidak hanya menjawab ya atau tidak. Berikut adalah beberapa contoh.

  • Berapakah  2 + 7.8?               menjadi        8.2 + 7.8  =  15.
  • Sebuah segitiga sebarang  mempunyai dua sudut siku-siku.
  • Keliling dari persegi panjang berikut adalah sama dengan luas daerahnya.

  • Berapa banyak persegi yang luasnya 1 millimeter dalam sebuah persegi yang luasnya 1 centimeter? Menjadi       Sebuah persegi dengan  1 centimeter sama dengan  100 persegi yang luasnya masing-masing 1 millimeter.
  • Sebuah balok memiliki 4 pasang rusuk yang sama panjang.